PEMUDA, SOLUTIF, DAN PENDIDIKAN


Pemuda dalam perjalanan sejarahnya merupakan salah satu subjek atau pelaku yang memberikan peranan besar terhadap kemerdekaan bangsa Indonesia. Bisa ditilik ulang berabad-abad yang lalu, pergerakan bangsa ini dari keterpurukan yang panjang sampai mencapai masa kemerdekaannya, dan sampai hari ini bangsa ini dengan segala konfliknya, tak lepas dari peranan pemuda. Pemuda.....ya, kata yang sakral, kata kunci pergerakan bangsa ini. Subjek yang jadi indikator, arah kemajuan bangsa ini. Banyak  statement atau kata mutiara yang menggambarkan betapa berartinya pemuda untuk negeri ini. Salah satunya, “Majunya suatu bangsa itu karena pemudanya dan hancurnya suatu bangsa itu juga karena pemuda. Atau yang satu ini, “Semangat kepemudaan adalah semangat berkarya untuk bangsa”. Pertanyaannya adalah, kata-kata mutiara atau kata-kata pembangkit semangat tersebut hanyalah diucapkan sebagai pemanis saat event-event kepemudaan ataukah memang ada implementasinya secara nyata bagi bangsa ini???
Tidak dapat dipungkiri bahwa sejak lama krisis kepemudaan melanda negeri ini. Degradasi moral, semakin sempit pergerakan pemuda, semakin luntur nasionalisme bangsa, merupakan beberapa indikasi terjadinya krisis kepemudaan. Krisis dapat diartikan suatu masa yang gawat atau genting yang menimpa suatu hal. Artinya bahwa, ini merupakan kondisi yang tidak biasa, yang seharusnya tidak dibiarkan begitu saja hingga berlarut-larut. Pemuda jaman sekarang sulit peka (saya tulis sulit, karena butuh waktu lama untuk menjadi benar-benar peka) dengan kondisi bangsa ini. Meskipun banyak gerakan muncul, tapi beberapa tidak konkrit, tapi malah menimbulkan masalah baru tanpa ada solusi. Itulah mindset pemuda dengan pemikiran kritis masa sekarang yang tidak tepat. Makna pemikiran kritis adalah satu bentuk pemikiran yang tidak dengan begitu saja menerima atau mempersetujui sesuatu topik dengan cara menafsirkan dari sudut pandang lain. Padahal pemikiran kritis tidak akan bermanfaat jika hanya berhenti pada tahapan itu saja (menafsirkan sesuatu dari sudut pandang lain). Pemikiran kritis ini harus dilanjutkan dengan solusi untuk permasalahan yang muncul. Percuma saja berpikir kritis tapi tidak menyikapi dengan tahapan solutif.
Jika dibandingkan dengan jaman dulu, bentuk pemikiran kritis para pemuda selalu dituangkan dalam suatu gerakan yang konkrit dengan hasil yang nyata, yaitu SUMPAH PEMUDA dan PROKLAMASI RI. Jika para pemuda tidak berinisiatif untuk mengadakan Kongres sebagai inisiasi gerakan pemuda, atau jika pemuda tidak berinisiatif untuk menculik dan mendesak sang proklamator untuk segera memploklamirkan kemerdekaan bangsa ini, mungkin tidak akan ada SUMPAH PEMUDA dan PROKLAMASI RI. Realita yang ada sekarang, pemuda cukup berhenti pada berpikir kritis dan memunculkan permasalahan bangsa ini, tapi tidak lanjut bergerak ke arah solusinya.
Memang tidak dapat dipungkiri bahwa moral bangsa ini dipertanyakan dengan kebobrokan para pemimpinnya. Hampir seluruh rakyat Indonesia sepakat dan menganggap persoalan moral bangsa merupakan persoalan inti yang sangat mengganggu pergerakan peradaban bangsa ini. Rusaknya moral sulit untuk diputus ke generasi selanjutnya, dengan kata lain bahwa ‘kaderisasi’ yang seharusnya bertujuan membentuk kader terbaik, tidak tercapai, karena yang mengader tidak semua adalah pengader dengan moral baik, tapi sebagian besar malahan adalah yang sudah terkontaminasi dengan degradasi moral. Bahkan mungkin saja, memang telah berjalan pengaderan untuk berbuat korupsi, tanpa kita sadari. Hal-hal kecil, seperti telat masuk kuliah, titip absen, dan sebagainya, tanpa disadari diperhatikan dan ditiru oleh adik-adik kita dan menjadi kebiasaan bagi mereka.
Dan pada akhirnya korupsi dalam makna fatal juga akan menjadi kebiasaan bagi mereka. Mereka yang seharusnya menjadi pilar penerus perjuangan bangsa ini. Mereka yang seharusnya peka dengan persoalan bangsa ini. Mereka yang bukan hanya mampu berkoar dengan pemikiran kritisnya tapi juga solutif. Mereka yang mampu mengorbankan egonya untuk mengkaji masalah bangsa ini. Dan....mereka.....dengan banyak harapan yang diletakkan di pundak mereka masing-masing.
Ujung-ujungnya, memang pendidikan lah yang berperan besar dalam menentukan moral bangsa ini. Dan itu juga akan terkait dengan kualitas serta kuantitas generasi muda yang menerima pendidikan di negeri ini. Mungkin tidak perlu muluk-muluk dengan persoalan bangsa dalam pendidikan, mari dimulai dari sekitar kita, kampus tercinta ini, yang terganggu stabilitasnya dengan persoalan penetapan kebijakan SPP/SPI mahasiswa baru. Jika memang realistis SPP/SPI naik, setidaknya mari menyikapi agar dampaknya bisa mengcover persoalan lama yang seringkali terjadi, yaitu nasib mahasiswa miskin yang masih ingin mengenyam pendidikan di kampus ini. Keinginan untuk mengenyam pendidikan merupakan suatu niat bagus untuk memutus garis kemiskinan. Akan tetapi jika itu semua terhenti karena keterbatasan financial yang seharusnya bisa kita perjuangkan, akan sangat fatal akibatnya untuk negeri yang butuh generasi berpendidikan ini. Oleh karena itu, mari menyikapi dimulai dari hal yang bisa kita sentuh, yaitu kampus tercinta kita dan tentu saja memainkannya dengan solutif. Kalau bukan kita siapa lagi??






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yang perlu dilakukan sebelum memilih sekolah untuk anak

menjaga fitrah lewat berkisah

Bercerita sesuka hati