Yang perlu dilakukan sebelum memilih sekolah untuk anak
![]() |
| Sumber : dokumen pribadi |
Jika anak sudah berusia di atas 4-5 tahun, biasanya orang tua akan mulai sibuk mencari informasi sana-sini mengenai sekolah terbaik untuk anaknya. Wajar, tiap orang tua pasti mengharapkan anaknya mendapatkan pendidikan yang berkualitas sehingga berdampak positif pada masa depannya nanti. Kebanyakan orang tua akan memilihkan sekolah favorit untuk anak pada jenjang awal karena punya keyakinan ketika anaknya masuk sekolah favorit, begitu lulus nanti akan lebih mudah untuk masuk sekolah favorit di jenjang berikutnya. Mengapa memilih TK favorit? Ya agar anaknya bisa masuk SD favorit, setelah itu bisa masuk SMP favorit, SMA favorit, dan selanjutnya Perguruan Tinggi favorit. Kecenderungan ini yang disebut sebagai "sekolah untuk sekolah". Buat apa bersekolah? Ya agar bisa bersekolah lagi di jenjang berikutnya. Maka yang terjadi adalah, anak dipecut agar lulus dengan kriteria yang tinggi sebagaimana yang dipersyaratkan
sekolah favorit yang akan dimasukinya. Dampaknya lebih lanjut adalah anak hanya pandai mengerjakan soal, tapi tak terampil berkarya, tak biasa menghadapi masalah, dan tak biasa berkolaborasi serta bekerja sama dalam tim.
Dengan melihat dampak yang sedemikian rupa, maka sudah sepatutnya sebagai orang tua mengupayakan supaya terhindar dari jebakan lingkaran "sekolah untuk sekolah". Sebelum memilih sekolah yang tepat, ada baiknya orang tua memahami "elemen sekolah" sebagai bahan memilih sekolah nanti.
Ada tiga elemen penting sekolah yang bisa dijadikan bahan memilih sekolah.
Artefak. Elemen sekolah yang kasat mata dan bisa diamati oleh pihak internal maupun eksternal sekolah. Bisa berupa visi misi
yang dipajang di dinding sekolah, pengaturan dinding kelas, ornamen yang
dipasang di sekolah, bentuk bangunan, kondisi ruangan, sarana dan prasarana,
pajangan, buku dan media belajar, pakaian yang digunakan, dan lain sebagainya.
Praktik. Perilaku
anggota sekolah (satpam, Kepala sekolah, staff, guru, murid) yang kasat mata
tapi kesehariannya bisa diamati pihak internal dan pihak eksternal sekolah di
moment tertentu. Praktik ini meliputi cara anggota sekolah memperlakukan
seseorang, cara berkomunikasi, topik obrolan, lelucon, ragam kegiatan belajar,
cara penilaian terhadap murid, pola makan, dan lain sebagainya.
Prinsip nilai. Elemen
sekolah yang tidak bisa diamati dan meski sulit tapi bisa disimpulkan dengan
mengamati dua elemen yang lain, artefak dan praktik. Bila kedua elemen yang lain
bersifat eksplisit, prinsip nilai bersifat implisit. Memilih sekolah tentu
tidak sekedar melihat yang kasat mata, tapi mempelajari secara seksama sehingga
bisa menyimpulkan prinsip nilai yang hidup di suatu sekolah. Misalnya, ada sekolah yang punya koleksi
buku banyak. Tapi ternyata pada praktiknya buku tersebut disimpan di lemari yang
jauh dari jangkauan anak-anak. Akses membaca sulit karena waktu berkunjung ke
perpustakaan yang langka dan mekanisme peminjaman buku yang rumit. Terbayang
kan prinsip nilai yang diyakini sekolah tersebut?
Sebaliknya, bisa jadi saat kita
berkunjung ke sebuah sekolah sederhana yang mengaku sebagai sekolah yang
menghargai keunikan anak, kita malah mendapatkan apa yang kita inginkan. Kita lakukan observasi ke sekolah tersebut. Lapangannya luas. Ruangan dari bata merah. Lantai sebagian sudah
keramik, sebagian masih tanah yang dikeraskan. Sebagian dari kita mungkin mulai ragu. Tapi mari kita observasi lebih lanjut. Kita melihat anak anak di kelas.
Suasana kelas ramai. Tidak ada anak yang duduk manis. Mereka berkumpul
membentuk beberapa kelompok. Rupanya mereka sedang melakukan percobaan.
Sebagian kelompok yang sudah selesai, melakukan diskusi. Tidak terlihat guru di
depan kelas. Oh ternyata sang guru sedang bersama dengan salah satu kelompok. Kelas
yang lain terlihat sedang melakukan aktivitas di luar ruang kelas. Sekolah ini
meski terlihat sederhana, tapi banyak bukti yang menguatkan pengakuan sebagai
sekolah yang menghargai keunikan anak.
Jadi, buat apa ada fasilitas, jika murid
sekolah tidak punya keleluasaan menggunakannya atau jika murid tidak
distimulasi untuk mengoptimalkan fasilitas tersebut sebagai bagian dari proses
belajarnya.
Banyak orang tua susah move on, menjadikan pengalaman dan
obsesinya sebagai acuan untuk menentukan sekolah anaknya. Padahal bukan
orangtua, tapi anaknya lah yang akan bersekolah. Maka, jadikan kebutuhan dan harapan anak
sebagai prioritas utama.
Apa saja faktor yang perlu
dipertimbangkan dalam memilih sekolah?
Faktor jarak. Sebagus apapun sebuah sekolah
bila terlalu jauh akan menghabiskan waktu dan energi anak. Idealnya waktu
perjalanan anak bersekolah antara 30-60 menit sesuai dengan jenjang pendidikan.
Ketika Anda menilai bagus sebuah sekolah tapi jaraknya jauh maka konsekuensinya
Anda harus mengusahakan waktu perjalanan menjadi tetap sesuai kriteria tersebut.
Sekolah yang menumbuhkan. Pilihlah sekolah yang
menumbuhkan, sekolah yang berpihak pada anak sekaligus menyiapkan generasi zaman sekarang menghadapi tantangan zamannya.
Pertanyaannya, bagaimana ciri
sekolah yang "menumbuhkan" itu?
Berikut ini grafik ringkasnya.
![]() | |
| Ciri-ciri sekolah menumbuhkan, sumber : Buku Memilih Sekolah, Bukik Setiawan-Andrie Firdaus-dan Imelda Hutapea |
Kebutuhan anak. Bagaimanapun yang menjalani
hari demi hari di sekolah adalah anak. Karena itu penting untuk memastikan
kebutuhan anak dapat dipenuhi oleh sekolah. Pemenuhan kebutuhan anak oleh
sekolah akan membuat anak merasa nyaman dan aman untuk belajar. Bila tidak semua kebutuhan
anak bisa dipenuhi oleh sekolah, orang tua punya pilihan untuk memenuhi
kebutuhan anak dengan cara yang lain atau memilih sekolah yang berbeda.
Kesesuaian harapan orang tua. Setiap orang tua punya harapan
tentang sekolah yang tepat untuk anaknya. Ketika harapan orang tua
dengan sekolah sama, maka proses belajar anak akan menjadi jauh lebih efektif.
Ada proses berkesinambungan pada pembelajaran di sekolah dengan di rumah.
Persyaratan dan biaya. Pastikan anak memenuhi
syarat untuk diterima di sekolah tersebut. Dan yang juga penting, pastikan juga orang tua mampu membiayai
anak untuk bersekolah di tempat tersebut.
Jika prinsip-prinsip mendasar untuk memilih sekolah telah dipahami dan faktor-faktor penting untuk memilih sekolah sudah dipertimbangkan, maka selanjutnya orang tua dapat melakukan langkah berikut.
Beberapa langkah untuk memilih sekolah anak.
Mulailah dengan mengenali kebutuhan anak. Anak bukan kertas kosong.
Setiap anak mempunyai kebutuhan uniknya sendiri. Kenali profil belajar anak dan
kebiasaan-kebiasaannya. Apakah anak memiliki kebutuhan khas belajar? Kondisi ini penting bukan saja
untuk memilih sekolah, tapi juga untuk dikomunikasikan dengan pihak sekolah
terutama gurunya.
Sesuaikan dengan kemampuan keuangan. Hal ini penting agar orang tua merasa tak berbebani dengan biaya yang tinggi saat anak sudah masuk sekolah. Jangan sampai saat bulan kesekian anak dipaksa pindah sekolah hanya karena biaya. Lebih baik lagi bila sudah
melakukan perencanaan keuangan jauh-jauh hari sehingga akan punya banyak pilihan
sekolah.
Kenali harapan orang tua. Setiap orang tua tentu ingin
pengalaman buruknya selama bersekolah tidak dialami oleh anak dan pengalaman
baiknya selama bersekolah dirasakan anak. Maka penting juga untuk menginventarisasi harapan dan melakukan penyesuaian harapan dengan sekolah yang akan dipertimbangkan sebagai sekolah anak.
Bangun kesepakatan dengan anak. Selain harapan orang tua, perlu juga menyelaraskan dengan keinginan anak untuk sekolah barunya nanti. Cari informasi tentang sekolah
yang sekiranya cocok dengan hasil kesepakatan orang tua dan anak. Hal ini bisa dilakukan dengan mengumpulkan informasi lewat internet atau bertanya ke orangtua lain agar Anda mempunyai bahan sebelum
melakukan kunjungan ke sekolah.
Lakukan observasi sekolah. Observasi sekolah dapat dilakukan dengan berkeliling ke penjuru sekolah, ruang kelas, kamar kecil, kantin, dan sebagainya,
agar mendapatkan gambaran utuh tentang profil sekolah. Bila memungkinkan, ajukan
permintaan agar anak bisa melakukan uji coba belajar di sekolah tersebut.
Lakukan wawancara sekolah. Ajukan pertanyaan setidaknya
terkait dua hal : mengonfirmasi kriteria yang sudah Anda sepakati bersama anak
dan memastikan kualitas proses belajar di sekolah tersebut.
Nah, apabila Anda sudah memasukkan anak ke suatu sekolah yang sesuai
kriteria, namun ada tantangan dari internal sekolah yang membuat
aktivitas anak di sekolah kurang optimal, ada baiknya Anda melakukan
diskusi dengan pihak yang bersangkutan supaya terjadi kesepakatan sesuai
dengan harapan awal Anda menyekolahkan anak di sekolah tersebut.
Sekolah favorit = Sekolah menumbuhkan ?
Ada satu isu terkait dengan "sekolah menumbuhkan". Masih banyak orang tua yang akhirnya terjebak memilih sekolah favorit yang bukan merupakan "sekolah menumbuhkan". Sekolah favorit yang harus melewati serangkaian tes masuk yang panjang, padahal bukan merupakan kebutuhan utama anak. Anak yang selesai TK lalu masuk SD, tak sedikit yang harus melewati serangkaian tes calistung yang sebenarnya belum menjadi kebutuhan anak di usia tersebut.
Jika mengulas tentang ini, ada beberapa faktor yang mempengaruhi. Diantaranya, 1) guru yang belum paham betul tahap perkembangan anak, 2) guru salah memahami tuntutan kurikulum, 3) orang tua berlomba lomba menyekolahkan anak ke sekolah
yang dianggap favorit, akibatnya banyak sekolah TK berlomba-lomba agar dianggap favorit,
memaksakan mengajarkan calistung sejak dini yang seharusnya belum waktunya, 4) TK yang menjalankan fungsi seharusnya, jadi galau karena
kekurangan murid. Akhirnya ia pun memilih mengajarkan calistung.
Nah, akan lebih baik jika kita sebagai orang
tua tidak semakin memperparah dua kondisi terakhir. Jadi kita bisa ikut andil
mengembalikan tahapan pendidikan sebagaimana mestinya, dengan tidak ikut-ikutan tren
"sekolah favorit". Jika kita sebagai orang tua
ikut mendorong terwujudnya tahapan pendidikan yang seharusnya, TK yang menjalankan
sesuai fungsinya, InsyaAllah tidak akan galau, dan tidak akan ikut arus mengajarkan calistung sejak dini. Jika lebih banyak anak yang mengikuti kurikulum sesuai
tahapannya, SD yang memaksakan anak-anak sebelum masuk harus lancar calistung
pun, akan jadi berpikir ulang.
Dengan tantangan yang begitu berbeda dengan zaman kita dulu, dan teknologi yang mengharuskan kita sebagai orang tua bertransformasi dengan cara kita mendidik, mau pilih jadi orang tua yang seperti apa? mau pilih jadi orang tua yang bagaimana dalam memilih sekolah?
-
*merupakan resume yang bersumber dari : Buku "Memilih Sekolah" tulisan Bukik Setiawan-Andrie
Firdaus-dan Imelda Hutapea yang dibahas dan di -semi- bedah dalam Kuliah Whatsapp oleh Mansyur Ridho, S. Sos, trainer dan praktisi pendidikan.


Say ikut nyimak dari sini yak *padahal nyariin anak sekolah masih 4 tahun lagi :D
BalasHapus