Gadis Rantau

Gadis manis itu memainkan gawainya, sambil sesekali melirik jam digital di layar gawainya. Sejak setengah jam yang lalu ia hanya duduk di atas kasur kamar kosnya sambil menunggu sesuatu yang beberapa hari ini membuatnya termenung seharian. Ia sudah mandi, berpakaian rapi, dan mengenakan hijabnya, bersiap pergi dengan teman-temannya satu jam lagi. Biasanya ia sangat bersemangat menghabiskan waktu bersama teman-teman lesnya itu. Namun kali ini nampaknya ia tak jua menemukan suasana hati yang bagus sejak tadi pagi. Matanya menerawang jauh, mengingat apa yang menyebabkan pikirannya kacau tak karuan.
----------------------------
"Makanlah Pa...perutmu harus diisi, perjalanan yang amat melelahkan ini jangan sampai membuatmu sakit hanya karena kamu tak mau makan..." Bujuk perempuan berhijab merah bata yang dipanggilnya kak Raras.
Apipa, gadis manis berperawakan kurus yang lebih suka mengenakan jilbab instan warna gelap ini menghabiskan hampir 6 jam sejak sampai di Bandara Soekarno Hatta hingga tiba di kota hujan ini. Belum termasuk perjalanan dari daerah asalnya yang hampir berada di perbatasan Malaysia. Dari desanya ia harus naik perahu tempel selama 5 jam untuk sampai di kota kabupaten Kapuas Hulu, Putussibau. Kemudian ia harus melanjutkan perjalanan ke kota Pontianak selama sehari semalam yang ditempuh dengan bus Damri, lalu terbang ke Jakarta dengan pesawat. Jika ditotal, waktunya bisa mencapai hampir 3 hari untuk akhirnya bertemu kami hari itu. Dan ia sama sekali tak mau menyentuh makanan yang telah kami belikan untuknya.
"Bu, Kak, maafkan Apipa, bukannya tak mau makan makanan yang Ibu belikan, tapi Apipa merasa sangat kenyang selama di jalan sudah makan berbagai cemilan yang dibelikan kak Raras. Apipa pasti akan makan nanti kalau lapar" Jelas Apipa.
"Baiklah. Kamu yang paling paham kondisi fisikmu. Tapi beneran jangan sampai kelaparan ya..." Jawabku.
Gadis manis itu pun tersenyum dan mengangguk.
Aku paham, gadis itu sedikit mengalami homesick syndrom setelah perjalanan jauh yang ditempuhnya. Ia mungkin rindu masakan umaknya di kampung, sehingga ia belum bisa makan makanan yang kami beli.
Apipa datang ke Bogor bukan hanya karena ingin bertemu kami, dua gurunya saat SMP dulu. Ia memanggilku Ibuk Pipi, sedangkan memanggil Raras dengan sebutan kak Raras. Ia datang ke pinggiran ibukota ini dalam rangka menimba ilmu untuk persiapan seleksi masuk perguruan tinggi negeri (karena di daerah asalnya fasilitas bimbel kurang memadai). Atas saran orang tua angkatnya di Jakarta dan atas nama cita-citanya yang sejak lama ingin kuliah di Jawa (begitu mereka menyebut kota Jakarta dan sekitarnya) ia memutuskan untuk memulai petualangannya di kota Bogor ini, sendiri.
--------------------------------
Kini setelah lebih dari 8 bulan tinggal di kota Bogor, ia sudah memiliki sahabat-sahabat yang baik dan tak siap kehilangan dirinya saat waktunya tiba nanti. Ia telah terbiasa dengan logat Sunda kental teteh di warung dan mamang penjual gorengan. Ia juga makin hafal rute angkot di Bogor untuk pergi ke mana saja. Dan ia sudah makin berani mengitari kota Bogor sendirian dengan bekal seadanya. Maka ia pun akan sangat merindukan kota kesayangannya ini. Dan hari ini mungkin akan jadi hari penentuan apakah ia akan tetap tinggal di kota yang telah membuatnya menempa banyak pengalaman atau akan pergi meninggalkannya dengan banyak kenangan.
--------------------------------------
Dibukanya kembali layar gawainya untuk yang kesekian kali. Waktunya telah tiba. Di halaman website yang sudah ia buka sejak tadi, jarinya dengan lincah mengetikkan nomor ujian seleksi masuk perguruan tinggi yang terdiri dari beberapa digit dan telah sangat diingatnya. Setelah memasukkan nomor ujian dan menekan satu tombol dengan sentuhan jarinya, ia menunggu dengan perasaan tak menentu. Halaman website masih terus berproses menemukan hasil yang ia tunggu-tunggu. Lima detik, sepuluh detik, dua puluh detik. Muncullah notifikasi gagal untuk mengakses halaman yang ditujunya. "Mungkin sedang banyak yang akses, jadi jaringannya sangat sibuk." Pikirnya.
Keempat kalinya ia coba mengakses barulah ia berhasil membuka halaman yang ia tuju. Dan.....matanya terbelalak, mulutnya menganga, tak percaya dengan apa yang ia lihat. Dari mulutnya meluncur kalimat "Alhamdulillah.." Namun ia tak tahu harus merasa senang atau bimbang dengan apa yang ia baca.
Ia lulus pada pilihan pertama jurusan yang ditujunya. Namun terselip sedikit rasa kecewa, karena artinya ia akan pergi dari kota kenangan ini. Ya, ia sengaja menuliskan jurusan pilihan pertamanya untuk kuliah bukan di kota Bogor. Karena yakin ia tak akan bisa meraih nilai sesuai grade jurusan pilihannya, maka ia meletakkan IPB pada pilihan kedua. Tanpa diduga, justru di pilihan pertamalah takdirnya berlabuh. Teknik Pertanian UGM. Dengan hasil ini, meskipun dengan berat hati, ia harus meneguhkan hatinya kembali untuk berangkat merantau lagi ke kota lain yang mungkin akan membuatnya jatuh cinta lagi.
"Teman-teman.... Hasil seleksi PTN sudah keluar, alhamdulillah hasilnya tak terduga. Aku bersyukur namun sedih karena akan berpisah dengan kalian..."
Ketiknya di layar gawai pada aplikasi pesan, kemudian mengirimnya ke grup yang berisi sahabat-sahabatnya.
Matanya perlahan basah. Suasana sendu membayangi dirinya. Ia harus menerima perpisahan ini dengan hati yang lapang. Ia harus melanjutkan hidup untuk masa depan yang lebih baik.
*terinspirasi dari kisah nyata Apipa, siapa Apipa bisa dilihat pada link berikut : https://indonesiamengajar.org/cerita-pm/annisa-dewi/apipa-guru-yang-mengajarkan-tentang-cita-cita
Komentar
Posting Komentar