Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2018

Prinsip ekonomis (part 2) : belajar dari eyang uti

Gambar
Memotret kelihaian eyang uti dalam menawar dan mengawasi mamang buah utk bikin parcel Hari ini mamah beneran anterin eyang uti nya Silmiy ke pasar, seperti beberapa tahun lalu, yang waktu itu masih males-malesan kalo diminta nganter ke pasar, tapi pas udah jadi emak, malah jadi bersemangatt. Karakter emak sejati, bersemangat pergi ke pasar 😁 Mengamati cara-cara menawar adalah pelajaran utama hari ini di pasar. Meskipun kadang ada momen yang mamah rasa keterampilan "menawar" itu jadi agak sadis dan perlu menyiapkan "muka tembok" biar ga usah malu nawar jauuuh di bawah harga. Haha. Tapi pada intinya, kesimpulan mamah, makin matang dan berpengalaman seseorang dalam jual beli, makin banyak teknik negosiasinya, makin lihai juga dalam melakukan deal harga. Halah.😂 Sementara itu, perjalanan si bocah masih panjang untuk berproses dengan keterampilan yang berkaitan dengan financial. Yaa mudah-mudahan kami mampu memfasilitasi si bocah buat cerdas financial. Insyaa ...

Prinsip ekonomis?

Gambar
Dulu mamah paling males ikutan pergi ke pasar nganterin ibuk belanja. Jangankan ke pasar, ke warung aja maless. Padahal kalo kata ilmu ekonomi, di pasar itu semua kegiatan ekonomi terjadi, termasuk tawar menawar. Maka efeknya cukup jelas, karena dulu ga biasa ke pasar, mamah jadi ga lihai dengan tawar menawar barang. Gawatnya belakangan ini mamah merasa keahlian menawar harga barang ini jadi skill yang penting buat dimiliki para emak-emak dengan prinsip ekonomis 😅 Jadi jelas bahwa mamah yang makin merasa perlu menerapkan prinsip ekonomis nya, harus banget mengasah kemampuan menawar harga ini secara kontinyu.  Nah, aktivitas ini tanpa sengaja terpapar ke si bocah karena kemana mamah pergi belanja, disitulah si bocah nempel mamah. Maka secara tak langsung si bocah sudah kenal dengan basa basi menawar harga saat mamah belanja, utamanya di pasar (meskipun ga sering). Namun tak semua barang dapat ditawar, hanya barang yang secara logis harganya bisa turun menurut pandangan s...

Buku baru si bocah : Abdurrahman Pedagang yang Dermawan

Gambar
Hari ini si bocah membuka buku barunya yang dibeli hari minggu kemarin. Saat kami belanja keperluan ayah, mampirlah kami ke toko buku. Ayah memang begitu. Ga bisa tutup mata dikit kalo lewat depan toko buku. Meskipun buku yang dicari ayah ga ada, dan malah anaknya yang beli buku. Hehe. Abdurrahman Pedagang yang Dermawan. Inilah judul buku yang dipilih si bocah. Tipe board book yang cocok buat si bocah, biar ga gampang sobek dan tahan lama. Mamah sempat berikan beberapa pilihan buku dan ia memilih buku ini. Memang sengaja mamah masukkan opsi buku yang berkaitan dengan stimulus cerdas financial, dan ternyata tepat banget apa yang dipilih si bocah. Isinya adalah tentang Abdurrahman bin Auf, sahabat Rasulullah yang mulia, seorang pedagang besar yang masyhur, selalu berdagang dengan ramah dan jujur serta tak pernah berbuat curang. Juga sangat dermawan, tak pernah pelit membagikan hartanya bagi yang membutuhkan. Harta hanyalah titipan Tuhan. Itulah yang selalu diingat Abdurrahman. Hi...

Apa yang lebih berat dari ujian financial?

Eits. Judulnya agak serem ya. Pake ujian-ujian. Kayak anak sekolah aja. Hihi. Tapi memang begitu. Allah selalu menguji hamba-Nya tapi tak pernah melebihi batas kemampuannya. Kalau ujian financial, macam apakah itu? Ujian financial ni kalau dipikir-pikir cuma atas nama duniawi (meskipun bisa jadi berefek pada akhirat kalo hubungannya sama ziswaf) dan mungkin blas ga ada apa-apa nya dibanding ujian iman atas nama akhirat. Tapi bisa jadi sama-sama berat. Hiks. Setelah kemarin sempat diuji dengan mengelola prioritas, kali ini mamah diuji lagi dengan sakitnya ayah sebelum berangkat ke US. Qadarullah ayah tiba-tiba demam padahal 6 jam lagi jadwal pesawatnya berangkat. Ya Allah, beri kekuatan kami ya Allah. Mamah akan lanjutkan ceritanya nanti ya....setelah badai berlalu...

Mengelola Prioritas

Gambar
Sumber gambar : https://www.finansialku.com/buat-prioritas-tujuan-keuangan-agar-anda-dapat-fokus/ Sebenernya kata 'prioritas' sendiri sudah mewakili makna mengelola apa yang paling penting untuk ditempatkan di urutan paling atas. Namun bagi saya kurang lengkap karena menurut saya prioritas pun perlu dikelola. Sejak ada si bocah, kami menempatkan segala kebutuhannya menjadi prioritas utama dalam pengaturan keuangan keluarga. Mungkin karena anak pertama maka kami sebagai orang tua masih meraba-raba mana yang memang prioritas dan penting untuk dipenuhi ataupun yang belum perlu dipenuhi. Siang ini, nampaknya mamah perlu mempertimbangkan soal prioritas ini. Kami berdua pergi ke salah satu pusat perbelanjaan di jakarta selatan tanpa si bocah *karena memang pas jam kerja, si bocah di daycare. Mamah menemani ayah belanja beberapa keperluan winter wear untuk beberapa minggu ayah ditugaskan oleh kantornya ke US. (Hiks hiks mamah sedih juga sih ditinggal, secara kemana-mana selalu...

Obrolan Soal Dana Pendidikan

Gambar
Si bocah lagi nyobain "seragam" dari daycare nya Waktu rehat siang tadi di kantor tiba-tiba pada cerita soal daftar ulang anak-anaknya yang masuk SD dan SMP. Iseng-iseng saya pun nanya, "emang berapa biaya masuk SD?" "6 juta, sekolah islam standar nih, SPP per bulan 600rb. Kalo di sekolah Al-**ha* bisa 2x lipat tuh. Sekolah TK juga ga beda jauh biayanya." Subhanallah. Ngelus dada. Ini kalau inflasi pendidikan beneran 20% setahun, pas jamannya si bocah nanti berapa yaaa biayanya. Hiks. Halo ayah, apa kabar dana pendidikan?? 😂 Luar biasa. Untuk alasan inilah salah satunya, kita utamanya keluarga muda kudu banget mulai atur keuangan sedini mungkin. Yes, cerdas financial itu bukan cuma pilihan, tapi sudah jadi kebutuhan dan keharusan. Kalau ga cerdas, mau macam gimana lagi masa depan keluarga dan anak-anak dibawa. Huft. Yuk mari kencangkan ikat kepala, mulai lagi hitung-hitungan biar ga salah atur keuangan untuk masa depan 😊 #tantangan10hari #l...

Hobi Belanja

Gambar
Tanpa sadar, setelah jadi emak-emak, belanja adalah me time paling mengasyikkan yang sudah jadi hobi. Bayangkan saja, mamah bakal muring-muring jika seminggu tanpa belanja. Entah belanja bareng-bareng sekeluarga sambil jalan-jalan weekend atau cuma belanja kilat di sebelah kantor. Entah kenapa belanja itu bikin refresh lagi setelah sekian waktu menge-list daftar belanjaannya, rasanya puas kalo semua list udah diceklist. Pun kalo cuma lihat-lihat di supermarket tanpa beli, itu aja udah bikin seneng dan fresh lagi. Mungkin ini yang namanya, bahagia ala emak-emak. Pergi belanja !! 😂 Nahh, hobi belanja ini pula yang sepertinya menular ke si bocah. Entah kenapa kalau diajak belok ke supermarket, senengnya bukan kepalang. Kek dapet lotereee haha 🤣 Kesenengan pertama dimulai dari naik troli belanja. Selanjutnya, bantuin mamah taruh item belanja di keranjang troli. Kalau udah bosen, kesenengan berikutnya adalah dorong-dorong troli sambil teteup bertindak jadi asisten mamah...

Bercerita soal menabung

Gambar
Baca buku dengan e-pen Ayah bacakan cerita sementara si bocah asik main sendiri "Mungkin bercerita saja tak cukup, namun mengkondisikan si bocah terpapar dengan informasi yang menstimulus nya menjadi cerdas financial, merupakan awal yang baik" Membacakan buku berjudul "Aku Suka Menabung" seri Halo Balita, adalah hal yang paling sederhana yang terlintas di otak mamah saat harus menstimulus si bocah agar cerdas financial dan juga paling gampang dilakukan. Pada kenyataannya ternyata jauh dari yang dibayangkan. Si bocah tak begitu tertarik dengan buku dengan judul itu (memang si bocah suka pilih-pilih buku tertentu buat dibaca, terutama interactive book yang bisa diutek-utek pas dibuka). Saat mamah bacakan ala mendongeng seperti biasanya, si bocah tak terlalu antusias dengar cerita mamah. Lantas mamah coba manfaatkan benda kesayangannya e-pen. Benarlah. Si bocah langsung semangat dengan bukunya. Namun bukan semangat dengan ceritanya, hanya sekedar suka mem...

Tentang kebutuhan dan keinginan

Gambar
Sepeda favorit si bocah "Menunda keinginan. Semoga si bocah paham dan mulai melatih diri untuk menunda keinginannya kemudian mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan." Hal yang juga penting dilatihkan ke si bocah untuk menstimulus kecerdasan financial adalah memberi pemahaman ke si bocah tentang perbedaan kebutuhan dan keinginan. Jika terlalu sulit untuk kebutuhan dan keinginan, bisa disederhanakan menjadi "menunda keinginan". Mamah belum kepikiran buat menstimulus pemahaman kebutuhan dan keinginan ke bocah seusia Silmiy. Belum ada ide, dan sepertinya juga belum memungkinkan di usianya yang masih sangat dini. Namun barangkali untuk mengenalkan dengan konsep "menunda keinginan" masih agak memungkinkan. Terkadang tak semua keinginan si bocah dituruti oleh mamah dan ayahnya. Adakalanya si bocah harus menunggu, sabar, dan berusaha mengelola ekspektasinya. Meskipun untuk anak seusianya masih sangat rentan tantrum ketika keinginannya tak segera...

Main belanja-belanjaan

Gambar
Kesibukan si Bocah dengan Troli Mainannya Mendadak setelah maghrib si bocah ngajakin main di ruang keluarga sambil nonton Tajo (Tayo maksudnya) katanya. Tak begitu lama nongkrong depan televisi (iya, si bocah emang ga bisa lama-lama diem meskipun sambil nonton TV dan mamah bersyukur soal itu karena ga perlu repot batesin screen time nya si bocah) si bocah ambil troli mainannya dan ngajakin main belanja-belanjaan. Kebetulan weekend kemarin, pas mampir babyshop buat beli beberapa keperluan si bocah ada mainan ini, yang pikir mamah lumayan bisa bikin si bocah sibuk dikit kalau pas mamah ga bisa nemenin main si bocah. Tapi si bocah ini tipe anak yang kalau main pun perlu temen juga. Jadi kalaupun mainan sama trolinya, si bocah perlu partner in crime kayak mamah nya gitu. Mamah pun kepikiran main belanja-belanjaan. Ahh tapi settingannya belum siap sebenernya. Harusnya ada uang sebagai alat jual beli biar kayak asli.Tapi ya udah lah, diceritain aja dulu nanti kalo sempet baru bikin ya...

Mental untuk mengelola financial

Gambar
Si bocah yang selalu ngantuk tiap mau dibacakan buku Rupanya seharian kemarin si bocah kebanyakan main sampe-sampe begitu nyampe rumah cuma main sebentar dan belum sampai dibacakan buku tentang senang menabung, ia sudah tidur. Begitu pula malam ini. Meskipun masih sempat main dan baca buku, namun si bocah menolak dibacakan buku yang mamah pilihkan tentang suka menabung, ia memilih bukunya sendiri. Mamah pun sadar bahwa si bocah kini sangat independen. Punya pilihan sendiri dan tentu sudah paham cara mempertahankan barang miliknya sendiri. Seperti apa yang diceritakan pengasuhnya di daycare bahwa si bocah tak mau makan hanya gara-gara kotak bekalnya ganti bukan yang seperti biasanya ia bawa. Mamah baru sadar kalau belum sounding soal kotak bekalnya yang baru. Ternyata si bocah sudah paham barang miliknya dan bukan miliknya. Ia berprinsip, tidak akan makan jika bukan dari kotak bekal miliknya 😅 Bisa jadi ini modal yang bagus untuk memulai mengajarkan kemandirian financial. Salah ...

Penasaran kami

Gambar
Sumber : http://www.pictame.com/tag/keluargamuslimcerdasfinansial Tadi malam, sudah kami eksekusi diskusi soal financial planning keluarga. Tapi, ternyata tak semudah itu beres. Masih banyak pengeluaran-pengeluaran remeh yang belum kami catat, seperti service motor, cukur rambut, kosmetik, dsb. Mungkin mamah terlalu terpaku dengan yang makro seperti belanja rutin, konsumsi, dan transportasi. Bisa jadi akan lebih banyak lagi yang bakal muncul dan belum tercatat di spending money. Fiuhh, mamah jadi gemes sampe setengah emosi karena ternyata hal-hal yang terlewat itu punya efek signifikan terhadap angka-angka presentase yang sudah mamah susun. Baiklah, setidaknya kami jadi paham, betapa tak sesederhana itu untuk menyusun financial planning keluarga. Mungkin kami masih perlu banyak exercise dan referensi untuk menyelesaikannya secara sempurna. Begitupun juga soal melatihkan menabung dan sedekah ke si bocah. Perlu latihan dan pembiasaan pelan-pelan supaya selanjutnya si bocah mer...

Dimulai dari Family Financial Planning

Gambar
Memang betul bahwa sembari mengajak si bocah untuk cerdas financial, orang tuanya pun sambil belajar lebih dalam untuk mengelola keuangan, membuka mata lebih lebar agar kehidupan financial keluarga lebih mulus dan teratur. Bagi mamah, ini merupakan sesuatu yang menarik untuk didalami namun juga perlu waktu yang panjang untuk benar-benar menggarapnya. Mungkin demikian juga ayah. Sebenarnya kami berdua termasuk tipe yang selow aja untuk soal keuangan, tak pernah merencanakan betul-betul, tapi juga tak pernah yang sampai kelewatan sekali dalam membelanjakan uang. Namun bagaimanapun juga, financial planning ini penting dan perlu dilakukan demi keberlangsungan masa depan keluarga kami. Awal pembahasan financial planning sudah pernah kami bicarakan sebelum kami pindah rumah di akhir tahun 2017 kemarin. Kami sempat bikin beberapa catatan pembagian pos keuangan keluarga kami dengan menggunakan Ms. Excel. Juga sedikit catatan aset dan exercise sederhana spending persentase untuk semua pos...

Tentang menabung dan sedekah

Salah satu aspek yang tak kalah penting dalam melejitkan kecerdasan finansial anak, selain menabung adalah sedekah. Sekali lagi mungkin si bocah belum benar-benar paham dua urusan yang dibedakan oleh dunia dan akhirat. Keduanya sama-sama berkaitan dengan finansial namun untuk tujuan yang berbeda. Menabung lebih cenderung untuk urusan dunia, sedangkan sedekah, jika diniatkan akan jadi urusan akhirat. Keduanya sama-sama harus mengandalkan kemampuan mengelola keuangan pribadi. Karena jika hanya kaya namun tak pandai mengelola keuangan, akan ada hak-hak masa depan maupun hak orang lain bahkan hak dari Allah yang bakal dilanggar, yang menyebabkan kehidupan jadi kurang berkah dan berefek hati tak pernah merasa cukup dan bahagia. Nahhh...*basabasi nya panjang yah pemirsaah...haha Inilah bedanya kalau posting di ig dengan di blog, kalau di blog mah ga perlu khawatir dibatasin berapa karakter, panjangnya sampe 2 buku pun tak jadi masalah, tapi tetep jadi masalah bagi yang baca sih hehe... Ja...

Celengan Si Bocah

Gambar
Mungkin tak banyak yang bisa dilakukan untuk menstimulus si bocah agar cerdas financial, karena memang usianya yang masih sangat dini. Namun setidaknya, mamah tetap berusaha mengenalkan konsep cerdas financial sejak dini, minimal konsep uang dan manfaatnya, terutama konsep sedekah. Aktivitas yang paling gampang dilakukan adalah, menabung dengan kencleng/celengannya 😄 Biasanya si bocah memang sangat senang memainkan uang di dompet mamah atau ayah 😂 Kali ini pas ke-gap ambil uang logam entah dari mana, langsung mamah ajak si bocah masukkan ke dalam celengannya. *celengan ini dapat dari temennya sebagai souvenir acara ulang tahun. Jadi ya gitu, uang logam yang beberapa biji dimasukkan satu persatu. Sambil mamah bantu dan cerita bahwa uang yang dimasukkan ke dalam celengan ini namanya ditabung. Kalau sering menabung walaupun sedikit-sedikit lama-lama akan jadi banyak. Lalu kalau sudah jadi banyak hasilnya bisa buat beli sepeda. Waah, sepedaaa. Denger kata sepeda langsung berbinar la...

Cerdas Financial Versi si Bocah

Gambar
Sumber : http://anakcerdas.info/konsep-cerdas-financial-dan-pengertiannya/ Minggu ini sudah keluar Tantangan Game Level 8 : Mendidik Anak Cerdas Financial Sejak Dini. Nah, financial? Padahal si bocah duit aja belum paham. Kadang duit dikira kertas yang bisa disobek-sobek, Hufftt. Jadi di hari pertama mamah posting tulisan tantangan ini, cuma mau tulis beberapa strategi buat menjalankan tantangan ini. Rencana untuk mengenalkan si bocah agar cerdas financial adalah sebagai berikut : Memutarkan video/lagu tentang menabung dan manfaatnya. Meskipun mungkin nanti si bocah masih sulit paham, setidaknya ia terpapar dengan ajakan suka menabung ;) Membacakan buku/kisah tentang suka menabung/suka bersedekah. Setidaknya si bocah dapat inspirasi dari gambar-gambar yang dilihat tentang positifnya gemar menabung. Mengenalkan si bocah dengan aktivitas menabung. Kencleng sudah siap, tinggal mengajak si bocah bereksplorasi dengan kencleng nya. Mengenalkan si bocah dengan uang dan manfaatnya,...

Titik Balik

Gambar
"Mulai menulis berarti memperkaya referensi dengan membaca" Entah kenapa saya menamainya "titik balik". Barangkali dari sini saya akan memulai kembali segalanya. Memulai untuk menulis dan sekedar berbagi ide receh. Hehe. Dulu pernah punya target menulis yang produktif. Namun setelah semua hal yang terjadi di kehidupan, sibuk berkarir, menikah, hamil, punya anak, dan sekarang kembali disadarkan lagi akan pentingnya menuliskan semua ide, insight, insiden, maupun indahnya cerita-cerita perjalanan kehidupan kami. Sekarang sebutan saya telah menjadi kami. Blog yang sejak kuliah dulu saya jadikan tempat sampah, tempat tumpahnya kegelisahan, kegundahan, sekarang barangkali akan berubah jadi tempat menuliskan perjalanan kehidupan setelah saya menikah, kehidupan berumah tangga, parenting journey, dan sebagai emak-emak sejati tentunya sekaligus sebagai kumpulan jurnal perkembangan anak. Nah tapii, ada kendala yang saya pribadi rasakan ketika memulai untuk menulis. Kuran...