Kita Hanyalah Musafir
Oleh : Anwar Ansori Mahdum
“Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya –lah kamu dikembalika” (Al Baqarah ayat 28)
Ketahuilah sahabat pembaca, bahwa kehidupan dunia ini hanyalah persinggahan sebentar dalam perjalanan panjang menuju negeri yang pasti dan abadi. Rasulullah SAW berpesan kepada kita : “Jadilah dirimu di dunia ini seperti orang-orang asing atau seorang musafir” ( RH. Ahmad, At Tirmidzi dan Ibnu Hibban).
DR. Yusuf Qardhawi, menasehati kita lewat bukunya Al Waqtu fi Hayati Muslim (Waktu dalam Kehidupan Muslim ) “Sesungguhnya berlalunya masa dan berputarnya siang dan malam bagi seorang muslim tidak boleh dibiarkan tanpa mengambil pelajaran darinya. Paling tidak, ia memikirkan kalau memang belum dapat mengambilan pelajaran darinya. Sadarilah bahwa setiap waktu berjalan terjadi seribu satu macam kejadian, dari yang dapat kita indrai sampai yang tidak dapat”.
Pembaca yang budiman, tidak dapat kita bantah bahwa manusia dengan fitranya senang akan kehidupan yang baik dan juga mengharapkan usia yang panjang. Bahkan kalau bisa, kita ingin hidup selama-lamanya. Namun tidak dapat kita sangkal bahwa menginginkan kehidupan yang kekal di dunia adalah mustahil, sebab dunia yang sifatnya temporer ini suatu saat akan hancur bersama dengan semua yang ada didalamnya. Manusia dibatasi dengan kematian sebagai akhir suatu perjalanan atau batas kehidupan yang pasti terjadi dan tidak bisa ditolaknya. Kematian adalah akhir dari perjalanan kehidupan dunia yang fana dan pintu gerbang kehidupan yang kekal, yaitu akhirat.
Rasulullah SAW, mengajarkan kepada kita agar selalu menyadari tentang kesementaraan kehidupan dunia ini. Dunia hanyalah tempat mengumpulkan bekal, agar kelak kita diterima Allah sebagai tamu yang baik dan ditempatkan pada tempat yang baik pula. Umur dunia sangat pendek, terlebih umur kita. Jangankan dibandingkan dengan lamanya waktu di akhirat, dibandingkan dengan waktu di dalam kubur saja, tentu tidak akan sekejap. Di sisi lain, kesementaraan hidup di dunia juga digambarkan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya : “Dunia (hanyalah berumur ) tujuh harinya hari-hari akhirat” ( HR. Ad Dailami ).
Jika umur didunia semenjak diciptakan hingga dihancurkan ( kiamat ) kelak hanya sebanding dengan tujuh harinya di hari-hari akhirat, maka akan tergambar oleh kita bahwa umur kita tidak ada satu detikpun dari hari-hari akhirat. Jikalau kita mau menggunakan akal sehat dan berfikir sejenak tentang hakekat hidup di dunia ini, niscaya selain waktunya sangat sementara dan hanya satu kali terjadi, juga akan kita sadari bahwa kehidupan kita yang sangat pendek dan satu kali itu menjadi faktor penentu bahagia-sengsaranya kita dalam menjalani kehidupaan yang sesungguhnya di akhirat kelak. Akhirnya adalah kehidupan pasca dunia yang panjang, dan panjangnya tak terkirakan.
Ketahuilah sahabat pembaca yang budiman, kematian bukanlah perjalanan akhir bagi kehidupan sebenarnya, tetapi hanya merupakan tempat singgah (transit). Kematian itu sebenarnya hanya merupakan perpindahan dari satu norma ke norma yang lain. Kematian adalah suatu tanda bahwa kehidupan masa uji coba manusia telah selesai. Ketika hidup di dunia manusia dihadapkan pada pilihan yang menjadi cobaan dan ujian baginya. Namun ketika kematian datang, selesailah kesempatan untuk memilih. Pada fase baru ini manusia dipaksa untuk meyakinkan dirinya bahwa ia mati. Pada saat inilah ia dapat melihat malaikat maut dan alam Allah yang sebelumnya terhijab (tertutup). Disebutkan dalam firman Allah “Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup ( yang menutupi ) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu sangat tajam” ( Q.S Qaaf ayat 22).
Ketika berada di alam subtansi (dzar) dulu, kita pernah mengalami kematian. Setelah itu kita ke dunia menjadi makhluk hidup, dan tidak lama kemudian kita akan mengalami kematian lagi. Selanjutnya kita akan dibangkitkan, sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an : “Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kaamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kamu dimatikaan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya lah kamu dikembalikan (Al-Baqarah 28).
Ketahuilah, pasca di dunia ini masih ada alam kubur. Pasca alam kubur masih ada kiamat dan hari kebangkitan. Pasca kebangkitan masih ada alam padang mahsyar (mauqif) dan penimbangan amal (yaumul hisab). Pasca yamul hisab masih ada kehidupan yang tidak terkirakan lamanya dan tidak mengenal batas akhir, yakni surga atau neraka. Pada saat itu sejarah kemanusiaan sudah usai dan perjalanan telah berakhir dengan pasti. Yang terbentang dihadapan manusia saat itu adalah era kehidupaan surga atau neraka.*** Anwar Anshori Mahdum adalah pengasuh getar kalam Radio Dakta.
Komentar
Posting Komentar