Bersyukur atau "Menyukurkan" ?

  

"Siapa yang tahu, ada orang lain yang sangat bersyukur dengan kondisinya karena melihat kondisi kita yang berada jauh lebih di bawah daripada dia?"
Seperti petikan syair Kahlil Gibran "Kutegur Jiwaku Tujuh Kali" berikut ini (terinspirasi gara-gara dek Arinda ^^).
"Ketika aku membuat suatu kekeliruan kuhibur diri sendiri dengan kekeliruan orang lain."
Bisa dianalogikan dengan pernyataan ini..."ketika kondisiku sedang di bawah, KUHIBUR diri sendiri dengan KETERPURUKAN orang lain yang lebih di bawah"????
Quote ini, sempat mengingatkan saya, betapa memandang diri sendiri dengan menyandingkan dengan yang lainnya, akan membuat banyak persepsi. Akan bersyukur jika kondisi sendiri lebih baik daripada orang lain, dan akan merasa paling menderita jika kondisi sendiri tak jauh lebih baik dari orang lain. Intinya, pada hakikatnya kita memang jarang bisa tak memandang sesuatu secara parsial (hanya perspektif kita sendiri). Pasti ada variabel pembanding yang turut dilibatkan dalam rangka mengukur tingkat KEBERHASILAN kita sebagai MAKHLUK SOSIAL!!!
Padahal, lagi-lagi manusia sulit menyadari (termasuk saya) bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan varian yang besar atau bisa dibilang kemampuan setiap manusia tak pernah benar-benar sama persis. Otomatis, karena varian yang besar itu, tidak bisa digunakan ukuran pemusatan rata-rata, karena hasilnya tidak akan valid (upss, nge-statistik dulu ahh) :p. Maksudnya kurang lebih seperti ini, bahwa "Dengan kemampuan yang cukup beragam, indikator/tolok ukur yang digunakan untuk mengukur keberhasilan tiap orang tentu saja tak pernah bisa disamaratakan." Dan ironisnya, justru kerendahan hati untuk menyadari seberapa besar kemampuan masing-masing, kadang-kadang masih sangat sulit untuk diaplikasikan. Bukan berarti, tidak optimis/pesimis (redudance_hehe) dengan kemampuan diri sendiri, hanya kadang-kadang tidak realistis dan sulit menerima bahwa kemampuannya memang masih sampai "disitu". Bukan berarti mengecilkan makna "optimis" untuk lebih maju daripada orang lain, lebih baik optimis tetapi tetap menyadari seberapa besar kemampuan diri. Optimis tapi realistis
Intinya, memang hampir tidak dapat dipungkiri bahwa keberhasilan atau kegagalan orang lain cukup mempengaruhi persepsi kita terhadap keberhasilan atau kegagalan diri sendiri. Mungkin wajar....tapi, ini bukan pembenaran. Selanjutnya kendalikan diri !!! Jangan terlalu terlarut untuk mencampuradukkan keberhasilan atau kegagalan orang lain dengan diri sendiri. Cukup ambil hikmah dan jadikan inspirasi untuk melangkah ke depan, dan tentu saja melangkah dengan variabel keberhasilanmu sendiri!!!!

GM-C17  22:50

Komentar

  1. iya sister, awesome with some words...:)
    OPTIMIS BUT REALISTIC thats right ,
    kalau baca buku "jalan cinta para pejuang"
    tetep optimis dan selalu merencanakan hidup kita untuk menyambut rencana Allah (karena TakdirNya itu masih misteri)
    mari songsong hidup kita dengan berbagai hikmah dariNya, dari lingkungan sekitar and so pasti ktika hati dan jiwa ini dalam keaadaan sehat
    H A M A S A H

    BalasHapus
  2. HAhaha..akhirnya di follow jugaa..
    Oke sippp, HAMASAH juga^_____^

    BalasHapus
  3. keren ehm,..ibu rakyat suka ngeblog juga ya..^_^

    BalasHapus
  4. Haiiiii saudarikuu...Ibu Aksiii...
    Iyaaaa dunk^_^......
    Maturnuwun sudah mengunjungi blog saya^^
    Jangan bosan2 yaaa

    BalasHapus
  5. "Ketika aku membuat suatu kekeliruan kuhibur diri sendiri dengan kekeliruan orang lain."
    hemm..kata-katanya

    Numpang mampir mb

    BalasHapus
  6. hehehe,,,mampir juga,sdh ketemu alamatnya nih haha
    Sipp, kapan2 mampir lagi
    Maturnuwun sdh follow dek^^

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yang perlu dilakukan sebelum memilih sekolah untuk anak

menjaga fitrah lewat berkisah

Bercerita sesuka hati