........I.S.M.E
"Berhenti mengecam kegelapan. Nyalakan lilin."
Pencapaian yang tak pernah dibayangkan hingga detik ini. Bahkan saya tak pernah berani mengharapkan lolos dari seleksi Direct Asessment yang "really amazing" itu. Saya bilang "really amazing" karena semua hal yang ada disana, pesertanya, panitianya, tim asessornya, dan segala macam yang saya temukan disana, benar-benar "profesional dan berkelas". Profesional dalam segala prosesnya dan berkelas karena baik peserta maupun panitia dan tim asessornya bukan orang sembarangan. Dan saya masih tidak percaya bahwa pada akhirnya akan menjadi bagian dari "profesional dan berkelas" itu.
Tak terlintas sama sekali bayangan untuk menjadi bagian dari mereka, karena saya mungkin terlalu sederhana untuk menjadi seperti mereka, saya terlalu biasa untuk menjadi se-inspiratif orang-orang hebat itu, dan saya terlalu standar untuk menjadi se-idealis mereka. Meskipun saya sadari bahwa ini memang mimpi besar saya sejak lama, menjadi Pengajar Muda -dengan tagline Setahun Mengajar, Seumur Hidup Menginspirasi-, tapi saya selalu cukup sadar dan tahu diri bahwa itu semua mungkin tidak cukup gampang untuk diraih karena terlalu sederhananya saya dibanding mimpi itu sendiri. Bahkan, hal yang paling saya persiapkan ketika melewati tahapan seleksi di Indonesia Mengajar adalah "siap untuk kalah ketika tidak lolos dalam tahapan seleksinya". Dan karena sangat siap untuk menjadi "kalah" saya jadi tidak terlalu punya persiapan untuk "menang", buktinya bahwa saya masih sangat sulit percaya bahwa saya sudah berada dalam "pencapaian" ini dengan kemampuan yang saya miliki. Oh ya, mengenai mempersiapkan diri untuk kalah, bukan berarti menjadi seseorang yang pesimis untuk menang, tapi ini cara saya -sedikit ekstrim memang- untuk menerima sebuah kekalahan dan menjadi berjiwa besar.
Dan ketika mimpi besar itu telah ada dalam genggaman, saatnya untuk mengenggamnya lebih kuat untuk akhirnya menjaga genggaman tangan itu agar tak lepas. Oh ya, tapi sebelum saya benar-benar menggenggamnya kuat-kuat sempat saya timbang-timbang dengan matang. Kadangkala merenung itu perlu meskipun mimpi sudah ada dalam genggaman. Saya memang perlu merenung untuk meluruskan niat. Setidaknya apa yang saya jalani dengan niat saya di awal harus seiring sejalan agar barokah untuk semuanya. Jadi ceritanya, alasan kenapa saya ingin sekali bergabung menjadi Pengajar Muda....sederhana sekali, saya hanya ingin berbeda dengan yang lain dengan menjadi inspiratif. Sangat idealis sekali memang. Kontradiksi dengan apa yang pernah saya pikirkan -dan sempat saya tulis- bahwa sudah saatnya menjadi seseorang yang bijaksana dengan idealisme, yaitu berani idealis dengan kepentingan orang-orang di sekitar kita, terutama orang tua. Dan itu tidak gampang. Berurusan antara idealisme dan orang tua, dua hal yang sulit seiring sejalan. Tentu saja tak lantas begitu saja orang tua mengijinkan untuk melanjutkan mimpi besar ini. Tapi cerita tentang itu akan saya tulis tersendiri dalam topik lain ^_^ ....... Lanjut mengenai idealis, jujur saja saya tidak nyaman jika saya hanya mengandalkan idealisme untuk menjalankan hidup saya dalam rangka meraih mimpi besar saya ini. Sah saja sebenarnya, idealisme itu bukan sesuatu yang terlalu buruk untuk menjalani hidup. Tetapi tetap saja, saya hanya ingin kesannya bukan hanya idealisme yang tidak realistis, tapi juga realisme yang mengiringi idealisme dan akhirnya nanti bukan idealisme lagi tapi realisme yang realistis -__-" (mbulet waee).
Untuk itulah saya menemukan alasan-alasan yang lebih realistis, yang juga merupakan motivasi yang saya sampaikan di esai IM. Yaa, intinya tentang keinginan Ibu agar anaknya menjadi pendidik, tentang kewajiban mencerdaskan bangsa dan "mendidik itu kewajiban setiap orang terdidik" (meskipun baunya masih idealis, hehe), tentang prinsip menjadi orang yang bermanfaat dan melayani masyarakat, dan tentang saya akan punya cerita untuk keluarga, sahabat-sahabat saya, dan suami, serta anak cucu saya nanti, cerita tentang pelosok Indonesia..........dan masih banyak alasan-alasan lain yang lebih realistis menjadi pijakan saya untuk berjalan nantinya ;). Jadi sekarang saya tak akan khawatir dengan idealisme effect.....
Road to 23rd on April
Tidak gampang menunggu dan menghabiskan waktu untuk menghadapi tanggal 23 April 2012. Yap, tanggal itu adalah hari pertama pelatihan Pengajar Muda Angkatan IV, dimana saya akan bertemu dan berinteraksi dengan orang-orang hebat yang memilih jalan yang sama dengan saya. Kadangkala ada rasa under estimate berlebihan karena saya terlalu biasa untuk berada diantara orang-orang luar biasa itu. Tapi bahkan mereka belum tahu bahwa saya orang yang "biasa" dan "sederhana". Jadi tidak ada alasan, saya hanya perlu membuat mereka berpikir bahwa saya juga luar biasa dengan kesederhanaan saya yang biasa di tengah keluarbiasaan ini.
23:30, Nganjuk City
Komentar
Posting Komentar