Nanga Lauk yang "Kinesthetic Intelligence"
"Kearifan lokal yang satu ini mungkin sering kita temui, tapi jarang kita sadari .........."
Empat hari, bukan
waktu yang sebentar untuk cukup mengenal desa Nanga Lauk, Kecamatan Embaloh
Hilir, Kabupaten Kapuas Hulu. Empat hari itu pula sudah cukup untuk
menyimpulkan desa ini, desa Nanga Lauk yang "Kinesthetic
Intelligence". Pasalnya, memang seluruh penduduk desa ini memiliki
kemampuan kinestetik yang di atas rata-rata orang pada umumnya. Alhasil, ketika
kami (saya dan mbak Neti-PM2) sampai di desa Nanga Lauk dengan sampan,
barang-barang di sampan; tas carrier, tas jinjing superbesar, dan beberapa tas
backpack yang kami bawa mampu mereka angkut dalam 2 kali angkut saja (padahal
saya berdua dengan mbak Neti harus bolak-balik 4 kali untuk mengangkut
bersama), dengan rute dari lanting (terminal air) yang ada di pinggiran sungai
sampai dengan rumah salah satu warga, kira-kira ada lebih dari 20 meter
jaraknya. Sungai yang berliku, tanah pinggir sungai dengan pasir putihnya,
hutan rimba yang menyapa di sepanjang sungai yang kami lewati, kayu-kayu dan
batu-batu yang begitu saja ada di tengah derasnya aliran air sungai, rumah
panggung di tepi kanan-kiri sungai, serta ragam bahasa "Hulu"nya yang
beraneka ragam ....... Itu semua merupakan "kearifan lokal" yang
mungkin sudah biasa dilihat ketika berkunjung ke daerah aliran sungai di
manapun di Indonesia. Tetapi "kearifan lokal" yang satu ini, mungkin
sering kita temui, namun jarang kita sadari, yaitu "Kinesthetic
Intelligence" masyarakat desa yang luar biasa. Bukan hanya orang tua dan
pemudanya, namun juga anak-anak kecilnya. Bukan hanya pemuda ataupun
bapak-bapaknya, namun juga para gadis dan ibu-ibunya. Bukan hanya dalam bekerja
mencari ikan dan "ngarit" (berkebun), namun juga dalam membantu
sesama warga dan pendatang baru seperti saya (terkait dengan ini, kesan saya
tentang mereka yang penuh pesona kinestetik ==> 'inisiatif dan kontributif'). Mereka selalu
penuh inisiatif ketika membantu pendatang baru seperti saya, dan selalu penuh
dedikasi untuk berkontribusi membantu orang lain. Apapun mereka lakukan untuk
mengurangi beban saya, apapun itu, termasuk "mengajari" saya saat
pertama kali mandi di sungai ^_^. Oh ya, satu lagi yang membuat saya semakin
mantap dengan tagline "kinesthetic intelligence" for Nanga Lauk,
karena masyarakat Nanga Lauk sangat identik dengan aktivitas Olahraga di sore
hari. Mereka punya kebiasaan berkumpul di lapangan pada sore hari untuk
menyalurkan kegemaran "kinesthetic" mereka. Ibu-ibu dan para remaja perempuan bermain bola voli,
pemuda dan bapak-bapak bermain bola kaki (sepak bola), sedangkan anak-anak
bermain badminton serta permainan-permainan lain semacam kasti, gobak sodor,
permainan kelereng, dan banyak permainan lain. Tentang permainan kasti ini pun
saya juga takjub. Bukan kasti yang biasa, tidak perlu menggunakan pemukul kayu
dan bola kasti. Cukup menggunakan kertas bekas yang "diuntel-untel"
(maaf, saya belum menemukan bahasa yang tepat :p) menjadi semacam bola seperti
bola kasti. Pemukulnya pun tidak perlu menggunakan kayu, cukup memanfaatkan
yang ada di tubuh kita ==> "tangan". Sederhana, tapi kreatif dan sangat logis.
Ada lagi yang
membuat saya cukup terkesan dengan kearifan lokal yang saya sebut dengan
"inisiatif dan kontributif". Saat pertama kali mandi di sungai sambil
membawa cucian yang lumayan banyak, inisiatif mereka untuk membantu apapun yang
bisa mereka bantu. Mulai dari turun ke sungai yang jaraknya kira-kira ada 10
meter dengan posisi miring yang amat sangat terjal, kemudian ketika sudah
sampai di sungai pun, mereka tak pernah berhenti menanyakan apa yang bisa
dibantu, hemm, mungkin itu juga efek dari pernyataan konyol saya, "Ajari
Ibu mandi di sungai ya anak-anak"...... Dan ketika itu anak-anak pun
menjawab dengan penuh semangat, "Siaaaaaaappp Buuu !!!"
Dan...... Inilah
yang terjadi, mereka tak pernah bisa diam untuk membantu saya. Alangkah
"kinestetik"nyaaaa anak-anak ini !!!
Beginilah jika
kinestetik dan ketulusan bergabung, jadilah manusia-manusia penuh inisiatif
yang selalu sigap dan lincah. Sayangnya potensi ini masih sangat tersimpan rapi
di desa yang "terbatas" karena sungai dan hutan. Dan batas itu akan
bisa terlampaui jika mereka mau ^_^
Na. Lauk, 24 Juni
2012 14:56

Subhanalah ndukk..keren-keren ceritanya..mana menemukan istilah baru lagi..kamu itu..hhe
BalasHapusIni tak kirim ya file pelatihan analisis data, semoga tidak telat ngasihnya..hhe
Wah jadi pengen lihat ketika vivi dipanggil Ibu..Ibu Guru..tolong ajari saya ya...hhe :)
kereeeeennn mbak :))
BalasHapuspenasaran mbak vivi disana kayak gmn..
dokumentasinya sama anak2 disana dong mbak :)
Semoga sukses kawan...:)
BalasHapusTak tunggu oleh-oleh'e wae...:D
aku ga bisa ngomong apa2,, -_- #keren
BalasHapus