Simplicity

Siapa bilang kembali ke kota lebih menyenangkan daripada hidup di pinggir hutan ?
Pinggir hutan, yang kami sebut sebagai desa Nanga Lauk, yang letaknya di tepi sungai Batang Palin, tempat yang tak terjamah oleh modernisasi suasana kota. Terbukti dengan amat terbatasnya sinyal, listrik, dan makanan bergizi. Tapi penuh dengan kesederhanaan dan keterbatasan. Kesederhanaan. Kata kunci untuk sumber kebahagiaan yang berhasil kami bentuk dan sugesti selama setahun disana. Dan kata itulah yang sekarang amat dirindukan. Rindu setengah mati. Rindu tak mengetahui kabar apapun karena keterbatasan sinyal. Rindu tak bisa nonton TV karena tak ada listrik. Rindu tak bisa makan yang diinginkan karena disana cuma ada ikan. Rindu tak bisa tidur siang karena jadwal yang padat tiap waktu. Rindu tak bisa cerita masalah apapun ke siapapun karena masalah apapun harus dihadapi sendiri. Rindu dengan perasaan menerima apa adanya, karena tiap waktu adalah belajar kesederhanaan dari mereka.

Saya pun mulai menyadari, kesederhanaan lah yang menempa karakter saya setahun belakangan. Tak perlu jadi terlalu dominan dan kelewat visioner untuk menghadapi perjalanan setahun ini. Tak perlu punya target setumpuk dan jadwal yang sempurna untuk mencapai prestasi dalam setahun ini. Tak perlu memaksakan menjadi peran yang bijak dan bertindak seperti pahlawan yang tak pernah tumbang untuk menunjukkan bahwa saya datang untuk suatu perubahan. Tak perlu memaksakan untuk meninggalkan hal yang berharap akan dikenang untuk membuat mereka selalu mengingat kita. Sudah cukup banyak bekal tentang kesederhanaan, jadi tak perlu melakukan itu. Mengutip quote dari Tere Liye bahwa "urusan perasaan yang sejati selalu sederhana". Sesederhana apapun yang saya lewati, apapun yang saya dapatkan, apapun yang saya pahami selama setahun kemarin.

Seringkali adalah "it's not about me, it's about them". Tapi sebetulnya selalu ada "it's about me caused of them". Bukan hanya tentang mereka yang dengan berbagai kisah menyiratkan berbagai makna lewat pemahaman saya. Tapi juga tentang kisah saya yang menyiratkan berbagai makna dengan pemahaman baru karena mereka. Dan ini signifikan sekali terasa dalam waktu beberapa bulan terakhir setelah meninggalkan "kesederhanaan" sejati itu. Susah sekali, untuk kembali membangun kesederhanaan itu, menjelmakan lagi karakter-karakter yang dulu berhasil terbentuk karena kesederhanaan. Susah sekali menjadi apa adanya, stabil, tenang, dan menyenangkan dalam kesederhanaan seperti kala itu. Sisa-sisa kesederhanaan itu masih ada sampai sekarang, dan berharap akan bertahan sampai saya mampu menjadikannya kekuatan untuk kondisi sesulit apapun.

Kesederhanaan, yah, kesederhanaan. Sesuatu yang sekarang benar-benar saya perlukan untuk memaknai fase yang berbeda ini. Sesuatu yang harus dibentuk lagi karena saya sangat merindukannya. Sesuatu yang saya harus kembali memanfaatkannya untuk bertahan. Sesuatu yang dari sanalah saya memulai dan mengakhiri. Dimana kesederhanaan?

Wind City, 26 Desember 2013, 23.25

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yang perlu dilakukan sebelum memilih sekolah untuk anak

menjaga fitrah lewat berkisah

Bercerita sesuka hati