Setahun Itu Benar-benar (Tak) Lama
Setahun itu lama,
tapi tidak bagi kami yang mengemban tugas di daerah penempatan sebagai Pengajar
Muda. Saat pertama tahu, lolos di seleksi akhir Indonesia Mengajar, lantas
berpikir dan bertanya pada diri sendiri, bagaimana jadinya hidup setahun ke
depan dan apa yang akan dialami setahun ke depan? Mampukah melewati setahun
yang sepertinya akan cukup lama itu?
Keputusan untuk
ikut Gerakan Indonesia Mengajar ini, sebenarnya bukan sesuatu yang perlu waktu
lama mempertimbangkannya. Saya memang ingin sekali dan semakin penasaran saat
Pak Anies Baswedan berkunjung untuk roadshow IM di kampus ITS beberapa tahun
lalu. Motivasi awalnya memang penasaran, ya hanya penasaran. Coba isi
aplikasinya dan kirim saat hari terakhir pendaftaran. Rasa penasaran pun
terjawab. Ternyata prosesnya berlanjut sampai Direct Assessment. Proses DA ini
ada beberapa tahap yang dilakukan dalam sehari. Psikotest, self presentation,
FGD, roleplay, dan micro teaching. Tak ada satupun yang serius dipersiapkan
benar-benar. Bahkan saat micro teaching, ketika teman-teman DA yang lain repot
membuat alat peraga, saya hanya datang dengan tangan kosong ! Maka, setelah
hari pelaksanaan DA itu, tak pernah berharap banyak untuk lolos seleksi selanjutnya.
Bahkan saya lebih siap gagal tak lolos seleksi daripada
maju ke tahap selanjutnya.
Dan saat benar-benar yakin selangkah
lagi mimpi itu jadi kenyataan, maka saya pun harus memperbaiki motivasi dan
niat saya untuk melangkah setahun ini. Mengabdi. Melakukan sesuatu yang
bermanfaat di pelosok negeri. Menyalurkan hal baik yang saya terima
(pendidikan, fasilitas, kehidupan berkecukupan) kepada yang kurang beruntung
tak bisa merasakannya. Dan yang paling penting adalah, melunasi janji
kemerdekaan, mencerdaskan anak bangsa. Sudah kewajiban saya sebagai seorang
yang terdidik melunasi "hutang" ini, seperti yang sempat disampaikan
oleh Pak Anies Baswedan. Mendidik
adalah tugas setiap orang yang terdidik.
Waktunya tiba, saat
dimana email pemberitahuan lolos ke tahap selanjutnya datang, email itu telah
datang 3 hari yang lalu dan saat saya baca, besoknya adalah tahapan Medical
Check Up yang jika tak datang artinya adalah mengundurkan diri. Dengan meminta
ijin ibu yang mendadak baru tahu kalau saya mendaftar, walau dengan berat hati
tapi banyak pertimbangan, ibu mengijinkan juga untuk berangkat besok paginya
untuk menjalani tahap MCU. Selanjutnya, sekitar 1 bulan setelah itu, saya sudah
berada di Pelatihan Intensif Calon Pengajar Muda IV di Jatiluhur, Jawa Barat
dan sempat sekitar 2 minggu merasakan gemblengan Kopassus. Survival. Latihan
fisik dan mental. Dan itu semua memang saat berguna saat di penempatan.
Saya ditempatkan di
Desa Nanga Lauk, Kec. Embaloh Hilir, Kab. Kapuas Hulu, yang jaraknya dengan kota
Pontianak sekitar 19-21 jam, jika jalannya lancar. Dan dari kota kabupaten
Kapuas Hulu ke desa sekitar 4-6 jam ditempuh dengan bus oplet dan perahu motor.
Salut sekali dengan masyarakat Kapuas Hulu yang sudah bertahun-tahun merasakan
kondisi transportasi macam itu. Harga BBM bisa mencapai 15 ribu per liter dan
sekali jalan bisa menghabiskan 10-15 liter bensin. Tak heran harga bahan-bahan
pokok sangat mahal di sana, lebih mahal daripada di Jakarta. Disana hanya ada
satu SD dan satu SMP satu atap yang baru 1 tahun berdiri saat saya datang.
Dengan hanya 5 guru termasuk saya, kami mengajar 8 kelas (SD dan SMP) dengan
konsekuensi kadang harus mengajar 2-3 kelas dalam satu waktu.
Masyarakat Nanga
Lauk mayoritas adalah suku Melayu dan cukup baik kepeduliannya pada pendidikan,
mereka adalah orang-orang yang bisa diajak bergerak untuk kemajuan pendidikan
di daerah mereka. Hanya saja, karena minim pengetahuan, menyebabkan usaha
mereka masih kurang optimal. Beberapa bulan disana, kami menggagas beberapa
kegiatan baru yang melibatkan masyarakat. Pembentukan pengurus komite baru,
Pengurus OSIS SMP, Rapat orang tua wali murid, pengesahan peraturan sekolah,
Lomba-lomba PHBN dan PHBA, komunitas taman baca Quran, dan beberapa kegiatan
lain yang mengajak masyarakat aktif berpartisipasi. Kehadiran kami sebagai Pengajar Muda memang bukan untuk
menjadi pahlawan bagi mereka, yang menyelesaikan semua masalah, tapi kami hadir
untuk menjadi fasilitator masyarakat agar turun tangan demi kemajuan daerah
mereka.
Nasionalisme adalah
salah satu tantangan paling besar di beberapa tempat di Kapuas Hulu. Wajar,
karena daerah ini berbatasan langsung dengan daratan Malaysia. Ingat film
"Tanah Surga (Katanya)" ? Persis. Seperti yang di film itu
kondisinya. Beberapa tempat masih menggunakan ringgit untuk berjual beli, orang lebih memilih merantau dan
mendapatkan fasilitas yang lebih di Malaysia.
Ketika PM angkatan 2, PM pendahulu saya datang setahun sebelumnya,
mereka baru mengenal upacara bendera, dan hafal lagu Indonesia Raya. Tapi, mereka belum paham bahwa
Indonesia memiliki 34 propinsi, dan 5 pulau besar. Mereka hanya tahu Jawa dan
Kalimantan. Mereka lebih tahu Serawak daripada Pontianak, ibukota propinsi
mereka. Mereka hanya tahu kalau mereka hidup di Kalimantan, tak tahu ada
Kalimantan Utara, Tengah, Timur, dsb. Miris.
Tapi saya dibuat
terkagum-kagum akan pemahaman mereka tentang upacara untuk menghargai jasa
pahlawan. Tanggal 10 Nopember adalah hari Pahlawan yang mereka pahami bahwa
mereka harus memperingatinya dengan upacara bendera. Jauh sebelum tanggal itu,
mereka sudah melakukan latihan upacara dan sangat siap untuk melaksanakan
upacara hari Pahlawan. Akan tetapi, kami lupa bahwa antara bulan Nopember-Januari biasanya air
sungai Kapuas pasang dan banjir sehingga
tak mungkin ada daratan lagi di desa. Anak-anak tak rela untuk melewatkan 10 Nopember itu
tanpa upacara.
Benar-benar tak ada daratan di desa.
Iseng Pak mantri yang dinasnya di sebelah sekolah kami bilang, "upacara
pake sampan seru tuh". Anak-anak
tak pikir panjang "Betul Bu, kita bisa pakai sampan untuk upacara, kami
cari sampannya dan panggil kawan-kawan !" Seru mereka bersemangat. Begitulah,
akhirnya kami memutuskan untuk tetap melakukan pengibaran bendera dari atas
sampan. Dan entah kenapa, upacara ini terasa jauh lebih khidmat dibanding
upacara bendera biasanya. Apalagi saat mereka menyanyikan lagu
"Syukur", terasa sekali mengharu biru dengan semangat kepahlawanan
yang hanya dapat mereka definisikan sendiri.
Entitas perilaku.
Yap, memang ini lah capaian dambaan yang ditargetkan Indonesia Mengajar kepada
para Pengajar Muda yang dikirim ke penempatan. Bidang tugas Pengajar Muda ada 4, antara lain :
intrakurikuler (mengajar di kelas); ekstrakurikuler (kegiatan di luar
pembelajaran); pemberdayaan masyarakat; dan advokasi pendidikan. Keempat hal ini
lah yang harapannya dapat menjembatani stakeholder (siswa, guru, kepsek,
masyarakat, disdik kabupaten) menuju entitas perilaku yang positif. Kisah tentang "pengibaran bendera dengan
sampan" adalah salah satu contoh perubahan entitas perilaku yang dialami
oleh siswa.
Ada satu kisah lagi
perubahan entitas perilaku yang juga dialami oleh guru dan kepsek. Tentang
kebiasaan cium tangan. Ceritanya saat itu peringatan hari Guru. Saya coba
meriahkan hari itu dengan memberikan sebuah hadiah kepada guru-guru dan membuat
anak-anak melakukan sesuatu. Saya mencoba melempar
pertanyaan " Apa yang sudah kalian lakukan untuk guru-guru kalian selama
kalian belajar di sekolah?" Diam membisu. Pertanyaan pun diganti "Apa
yang ingin kalian lakukan untuk guru-guru kalian yang sudah sekian lama
mengajar kalian di sekolah?". Pelan tapi pasti, jawab salah satu anak,
"Menghormati dan menghargainya bu?"
"Dengan
cara apa?"
"Mungkin
dengan cara mencium tangannya?"
Deg. Heran bercampur
kaget. Saya pun saat itu baru menyadari, selama saya mengajar di sekolah memang
belum ada kebiasaan itu, mencium tangan guru. Saya terdiam sesaat.
Berpikir dan memastikan ternyata selama ini memang belum pernah ada
kebiasaan tersebut. Mungkin di sekolah lain, mencium tangan guru adalah hal
biasa. Tetapi sekolah kami lain. Mencium tangan guru menjadi pemandangan yang
tidak biasa dan pertama kali melihat pemandangan itu menyenangkan sekali
rasanya.
"Baiklah,
di hari spesial ini lakukan sesuatu yang spesial untuk guru kalian. Tulis
sebuah surat yang berisi curahan hati kalian kemudian serahkanlah surat itu
kepada salah satu guru kalian sambil mencium tangannya dan mengucapkan 'Selamat
Hari Guru Pak/Bu, terima kasih telah mengajar kami'."
Anak-anak
sangat antusias. Dalam hitungan menit sudah selesai apa yang diminta. Kemudian
dengan bersemangat menyerahkan 'surat-surat cinta' itu kepada gurunya
masing-masing. Guru-guru pun kaget sekaligus terharu dengan apa yang dilakukan
anak-anak. Tidak menyangka, anak-anak bandel itu bisa menulis surat
'semanis' ini, kata mereka. Lebih mengharukan lagi ketika ada pertanyaan "Boleh tidak Bu,
setiap hari kami cium tangan Bapak dan Ibu Guru?"
Saya
pun langsung mengangguk sambil tersenyum. Sejak hari itulah, setiap datang dan
pulang sekolah, anak-anak tak pernah lupa untuk mencium tangan guru mereka,
sebagai tanda penghargaan terhadap seseorang yang mengajarinya banyak hal.
Sampai hari ini. Bahkan anak-anak itu punya keyakinan bahwa jika mereka mencium
tangan guru, guru akan selalu mendoakan mereka agar menjadi anak yang pandai
sampai mencapai kesuksesan di masa depan kelak. Dan mindset inilah
yang akhirnya merubah cara pandang sebagian guru-guru di sekolah bahwa
betapapun bandelnya anak-anak, mereka akan senantiasa menghormati dan menghargai
gurunya dengan cara yang hanya dapat mereka definisikan sendiri. Cara yang
paling sederhana adalah dengan mencium tangan guru. Sesungguhnya, tanpa kita
sadari, ritual sederhana ini secara tidak langsung menggambarkan betapa besar
kasih sayang guru terhadap anak didiknya, serta betapa indah jika kasih sayang
guru disambut dengan rasa penghormatan dan penghargaan yang besar dari anak
didiknya.
Jika
segala hal yang saya dapatkan selama setahun harus diceritakan, barangkali akan
sangat panjang dan bisa jadi satu buku. Setahun yang telah
berlalu, rasanya tidak akan pernah cukup untuk menggantikan bertahun-tahun
tanpa pengabdian. Setiap hari, setiap jam, setiap menit adalah waktu yang
berharga. Kalau boleh pinjam quote Pak Anies, "Everyday is decision making
day". Tiada hari tanpa mengambil keputusan. Terlalu sia-sia jika satu hari
dilewatkan tanpa melakukan apapun disana. Yang paling penting adalah, tagline
“Setahun mengajar, seumur hidup menginspirasi” memang benar. Tapi bukan saya
yang menginspirasi mereka, mereka lah yang menginspirasi saya, seumur hidup
saya. Setahun saya berlalu sekejap bagai mimpi, tapi inspirasinya seakan
berlaku seumur hidup.
Dan
ketika saya kembali ke kampung halaman tercinta saya, kota Bayu, timbul kegelisahan mendalam. Jauh-jauh ke
ujung Borneo untuk mengabdi, tapi apa yang bisa dilakukan untuk kampung halaman
tercinta ini? Saya ingat ketika mengajarkan anak-anak lagu "Tanah
Air" ada sebait seperti ini : .....tetapi kampung dan rumahku, di sanalah
ku rasa senang.....
Lewat
lagu ini juga saya mengajarkan anak-anak untuk selalu kembali membangun
daerahnya jika sudah sukses nanti. Dan inilah yang juga ingin saya lakukan
terhadap kota bayu tercinta ini. Semoga semangat ini akan terus ada, sampai
nanti, diawali dengan Kelas Inspirasi Nganjuk, Bismillah....
*) Ditulis atas permintaan
kawan-kawan Argabayu
Wind City, 4 Mei 2014
| Sesaat sebelum pelepasan PM |
| You're not alone :) |
wuih keren...! You re not alone.. kaya mottonya arsenal (kalo ga salah sih)
BalasHapusItu aseeliiii bukan nyontoh mottonya Arsenal loo dib...
Hapushehe iya mbak :)
HapusYou will never walk alone, disingkat YNWA. Itu mottonya Liverpool.
HapusKalau motto nya Arsenal, VCC. Singkatan dari Victoria Concordia Crescit yang berarti Kemenangan Berawal dari Harmoni.
Maaf ikut nimbrung, hahaha :D
Btw, blog nya bagus mbak, tulisan2nya menginspirasi :)
Salam kenal.