Random #3 - KI : Terimakasih telah Mengalihkan Dunia Saya

       


"....menemukan semangat yang sama, mengumpulkannya dalam satu langkah yang sepadan dan bersama-sama memperjuangkannya"


Random adalah kata yang mewakili potongan-potongan momen tak terduga yang mewarnai kehidupan pasca 'setahun kemarin'. Salah satunya adalah Kelas Inspirasi Nganjuk. Bisa dibilang, KI Nganjuk dimulai dengan sesuatu yang sangat random. Acak. Tak pasti. Peluang yang sama. Tanpa tendensi. Ya, bisa dibilang tim Kelas Inspirasi ini terdiri dari berbagai latar belakang dan tanpa saling mengenal sebelumnya. Saya tidak akan cerita secara lengkap bagaimana awalnya Kelas Inspirasi ini hadir di kota Nganjuk. Yang jelas, saat berusaha menghadirkan itu di kampung halaman tercinta ini, hanya terlintas satu hal. Saya ingin punya alasan untuk kembali pulang ke kampung halaman, bukan sekedar pulang ke rumah bertemu keluarga tetapi juga pulang untuk menemukan semangat yang sama, mengumpulkannya dalam satu langkah yang sepadan dan bersama-sama memperjuangkannya.

Perayaan sehari penuh inspirasi itu memang telah usai. Namun nampaknya ke-usai-annya akan berlanjut ke tahap yang lebih cemerlang dan bersinar. Pasca perayaan Hari Inspirasi, justru adalah saat yang berat bagi saya (yang padahal jika seseorang telah menyelesaikan sesuatu yang besar, harusnya ada beban yang terlepas). Pertemuan-pertemuan yang disepakati oleh kawan-kawan setelah hari Senin yang istimewa itu, justru membuat saya sedih, khawatir, cemas, gelisah. Entahlah, mungkin karena saya telah terlanjur meninggalkan sebagian diri ini pada lingkaran-lingkaran nyamannya , telah menitipkan separuh jiwa ini pada tujuan-tujuan mulianya, dan menyeret sebagian semangat ini pada mimpi-mimpi penuh asa nya.

Saya masih ingat saat sore itu, selepas Ashar, kami  sudah sepakat untuk berkumpul. Tim fasilitator. Fasilitator 'kece' mereka bilang -_-. Sebelum pertemuan hari itu, sehari sebelumnya kami sudah bertemu juga dengan kawan-kawan panitia untuk sowan ke tempat Pak Totok dan Bu Estik (salah satu relawan pengajar KI Nganjuk, pasangan suami istri yang romantis ;)). Alhamdulillah, pertemuan ini lah yang akhirnya menghadirkan semangat baru, jalan yang akan terus dirintis dan tim yang semakin kuat untuk melangkah.

Sore itu, biasa saja namun berbeda. Kami akan refleksi. Tujuannya sederhana, karena kami telah melakukan briefing, maka kami juga harus melakukan refleksi, untuk perbaikan ke depannya. Tim fasilitator ini unik. Belum lama dibentuk, namun beban tugasnya spesial -menurut saya. Karena mereka sejatinya yang jadi representasi dari wajah panitia dan kesiapannya. Orang-orang nya pun sebagian justru orang yang tak dari awal mengalami jatuh bangunnya KI. Mungkin justru karena itu, semangatnya masih segar dan totalitas  (tapi bukan berarti yang bukan fasilitator tidak keren, panitia yang sudah mempersiapkan sejak 3 bulan sebelumnya tentu saja jauuuh lebih keren ;D). Dan begitulah, kami melakukan refleksi sederhana dari serangkaian tugas yang telah kami laksanakan. Singkat. Dengan menuliskannya pada selembar kertas yang dibagi beberapa bagian, sambil mengingat-ingat rangkaian tugas yang telah dilaksanakan, bersemangat menuangkannya dalam saran-saran dan masukan.

Tak ada pembahasan yang menarik sampai tiba di akhir agenda, yang sebenarnya tanpa sengaja saya mulai. Pesan kesan. Awalnya datar saja. Tetapi, entah kenapa, kawan-kawan lantas menganggap itu semacam last statement, kata perpisahan. Saya tersadar. Betul, bahwa mungkin saja kami tak punya kesempatan lagi untuk menjadi partner. Betul, bahwa tiap orang mengorbankan bagian dari dirinya, hidupnya, waktunya, mimpinya, masing-masing untuk bisa totalitas di Kelas Inspirasi.



Ya, saya bersyukur ada diantara mereka. Bukan hanya tim fasilitator ini. Tapi seluruh tim dari Kelas Inspirasi Nganjuk. Lebih dari tim bahkan, mereka seperti keluarga, saudara yang sudah melewati bersama-sama senang dan susah. Saya ingat ketika Ulfi, yang kemudian diikuti Unie, mbak Muna, dan akhirnya saya, terbata-bata untuk mengungkapkan betapa dalam perasaan kami melewati masa-masa bersama kami. Mata kami berkaca-kaca. Ini membuat ingatan saya melayang jauh ke beberapa bulan yang lalu. Potongan-potongan peristiwa yang membuat saya sangat mempertimbangkan untuk merintis adanya Kelas Inspirasi Nganjuk. Refleksi KI Jatim #1, perbincangan dengan teh Nani (rekan saya yang juga merintis KI di kotanya), Roadshow IM di Malang dan Surabaya (yang membuat saya bertemu dengan anak-anak Nganjuk yg merantau di luar Nganjuk), dan perbincangan dengan Adit yang berujung pada sepakatnya kami untuk benar-benar merintis itu.




Beberapa bulan telah berlalu. Saya rasa tim ini sangat beruntung. Kami bersyukur, punya Isha, koordinator kami, meskipun agak terganggu dengan ke-alay-an nya, bocah ini fixed, akan sangat dirindukan oleh semua elemen panitia, entah karena semangatnya yang pantang menyerah atau gayanya yang selalu apa adanya atau bahkan karena kepasrahannya ketika dibully, hihi. Dan kami juga bersyukur dengan hadirnya pejuang-pejuang lainnya. 
Adit. Selain teman merintis, juga karena 'kehangatannya' (someone's statement yang saya pun tidak paham di bagian mana 'hangat' nya, mungkin 'hangat' ketika berdebat, berbeda pendapat, atau memang benar-benar 'hangat'). Juga teman-teman recruitment lainnya, Aninda dan Ulfa (yang semoga akan muncul lagi diantara kami) juga Diana (yang sempat sekali ikut gerilya).

Gemala, sobat lama saya. Saya ingat saat pertama kali membicarakan KI Nganjuk ketika bertemu di pameran 'Indonesia, move' di Grandcity Mall Surabaya. Karena keantusiasannya, nama Gemala lah yang pertama kali terlintas, ketika menyusun tim. Ide-ide nya yang kreatif, simple, dan out of box selalu menemani kami di social media. Atas ide-ide kerennya ini, kami juga say big thanks to tim media dokumentasi (mbak Sari -yang sekarang nun jauh disana, Ahmed -yang tak ber whatsapp namun tak mau kalah eksis termasuk dalam dunia per foto an -_- , juga Budi, Nafis, Anggit, Yogi, dkk).

Rahayu, meskipun kehadirannya tak maksimal di akhir, namun tak bisa diabaikan bahwa gadis ini yang ikut menghidupkan ruh KI di awal-awal. Masih segar di ingatan, kami bertiga (saya, Rahayu, Isha) berdiskusi sampai malam di Food Festival East Coast, dan itu adalah kopdar pertama kami. Semoga masih tersisa semangat dalam dirinya untuk kota Bayu ini. Juga Senky, Enda, Ficky, dan adik-adik SMA di tim VR.

Ulfi, gadis mungil nan sederhana ini meskipun tak hadir sejak awal, namun cukup support posisinya di School Relation. Semangatnya yang menggebu jadi kekuatan tersendiri bagi tim ini ke depannya. Di SR ada juga Akbar yang selalu menjadi sosok 'Yes Man' bagi kami dan 'lovable' sehingga membuatnya selalu dicintai semua orang. Ada juga Arif KPH, mas-mas 'wise' yang diam-diam menghanyutkan. Satu orang lagi, yang kehadirannya tak sejak awal, tapi jadi mood booster bagi kami. Mbak-mbak keren yang selalu menjadi sosok kakak yang hangat. Mbak Muna. Ceritanya tak pernah ketinggalan tentang bagaimana mbak satu ini memohon untuk bergabung dengan kami (karena sudah telat) meskipun hanya akan angkat-angkat kursi (dan itu benar dilakukannya sehari sebelum briefing, hihi). Satu kalimat yang terlontar darinya yang benar-benar jadi kata-kata sakti untuk kami. "Jika teman-teman berani berkorban, saya juga siap berkorban lebih besar untuk kebaikan bersama". Maka sampai hari ini, hal-hal semacam itu lah yang selalu membuat kami malu jika tak totalitas dan semakin melecut semangat kami untuk terus berjuang.
Mbak Muna pula yang membuat formasi fasilitator semakin keren, karena menyeret adiknya untuk bergabung juga bersama kami. Putra. Mas-mas yang kami kira 'lempeng', namun ternyata penampilannya cemerlang saat hari Inspirasi. Nah, jadi ingat Satya, salah satu fasilitator yang mengklaim dirinya paling muda (dan bocah ini sangat bersemangat gara-gara itu !). Mungkin karena itu juga, dia lantas mempersembahkan ketotalitasan paling maksimal saat hari Inspirasi.
Yang tentu saja tak bisa dilupakan, tim ER terbaik yang pernah ada !! Unie, Adib, Awi, Robertha, Siti,  Mief, dan Bimo (meskipun Bimo masih belum maksimal), oya ada Habib juga, namun dia memilih berkontribusi dengan cara menjadi relawan pengajar, dan baru muncul akhir-akhir ini di dunia per whats app an. Tanpa peran mereka, tentu saja KI Nganjuk tak bakal se-eksis ini di media sosial dan juga media massa. Radar Nganjuk yang juga meliput Hari Inspirasi, tentu saja  prestasi. Special thanks to Adib deh kalo tentang itu, yg selalu kooperatif menge-link-kan dengan mas wartawannya dan paling rajiiiin update media sosial.  Unie, gadis ini adalah orang pertama yang menyatakan siap bekerja di ER (dan untuk beberapa lama kami cuma berdua). Kalau tidak ada Unie, grup ER kami tidak akan rame (karena hobi nyepam nya yang parahh, hehe, juga karena paling rajin atur jadwal posting kami ;)). Robertha dan Awi yang semaksimal mungkin ada untuk kami, dan selalu berusaha menyempatkan bikin postingan di tengah kesibukannya. Begitupun, Mief dan Siti, yang di luar perkiraan, hadir saat hari Inspirasi.


Waw, yang jelas salut maksimal untuk seluruh panitia dan relawan pengajar serta fotografer yang hadir saat hari Inspirasi. Seperti yang dikatakan pak Anies, iuran paling nyata adalah kehadiran. Dan kehadiran itu memang berhasil memberikan secercah harapan untuk pendidikan negeri ini, meskipun tak banyak.
Nah kan, ujung-ujungnya, isi dari tulisan saya ini jadi tak terlalu penting. Hehe.
Namun, mengapresiasi kerja keras orang lain, saya rasa tak perlu tulisan yang terkesan penting. Yang penting, maksud pentingnya tersampaikan, meski dengan cara yang tidak penting. Penting tidak siih statement tidak penting ini?! Hihihi..... 
Baiklah, akhir dari tulisan ini sebenarnya adalah ucapan beribu terima kasih. Terima kasih untuk waktu, tenaga, pikiran, dan inspirasi nya. Terima kasih karena telah berhasil mengalihkan dunia saya. Dan terima kasih untuk apapun yang dikorbankan sampai hari Inspirasi. Ups, kata pak Anies bukan pengorbanan, tapi kehormatan ;)
Ya, kehormatan untuk menjaga mimpi-mimpi anak Indonesia. Mimpi, dimana kita harusnya menemani mereka untuk memilih mimpi itu, untuk kemudian menguatkannya sampai mimpi itu ada dalam genggaman mereka.
Selamat melanjutkan perjalanan ini, di depan sana jalan akan semakin mendaki, karena letak mimpi ada di puncak yang tinggi di atas sana. Selamat berjuang.

Salam inspirasi !!





Nb : Maaf, jika ada panitia yang namanya belum tersebut :D

Wind City, 11 Okt 2014, 0:15




Setelah refleksi (Photo by : Indra Bayu) 






Setelah briefing (Photo by : Indra Bayu)


Beberes setelah briefing (taken picture from http://adiebreezha.blogspot.com/)







Komentar

  1. Super tenan... ibuk e cah-cah KI Nganjuk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha adiiiib, ibuke cah-cah jare, bapake gak onok sayange T.T

      Hapus
  2. Wah.. tulisan-tulisan mbak vivi selalu menginspirasi :)

    BalasHapus
  3. huwiiiikkk... keren nih ikutan kelas inspirasi

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yang perlu dilakukan sebelum memilih sekolah untuk anak

menjaga fitrah lewat berkisah

Bercerita sesuka hati