SEPOTONG REFLEKSI DARI UJUNG NEGERI


"Ibuk apa kabar? Aku perobak dengan Ibuk"
*perobak = rindu (bahasa Kapuas Hulu)

Pesan singkat itu datang kemarin selepas maghrib. Dari Apipa, murid saya saat mengajar di Kapuas Hulu, tepatnya di Desa Nanga Lauk, Kecamatan Embaloh Hilir. Saat saya ajar, gadis manis itu masih duduk di kelas 8 SMP Satu Atap Nanga Lauk. Waktu berlalu, dan sekarang gadis itu sudah memakai seragam putih abu-abu, menempuh pendidikan di salah satu SMA yang ada di kota kabupaten Kapuas Hulu, Putussibau. Sambil membalas pesan darinya, ingatan saya melayang pada momen tak terlupakan hampir satu setengah tahun yang lalu. Apipa memang salah satu murid yang spesial, bukan hanya karena dia gadis yang cerdas di sekolah, tapi juga semangatnya yang selalu mewarnai tahap demi tahap penanda kemajuan di desanya. Mulai dari mengaktifkan kepengurusan OSIS yang pertama kali ada, aktif mengajar mengaji di masjid, pelopor kegiatan membaca keliling di desa, penggerak mading sekolah, bahkan rumahnya tak pernah sepi dari anak-anak yang bertanya banyak hal tentang pelajaran di sekolah.

Tak cukup sampai disitu, Apipa adalah ‘mutiara di tengah rimba Kapuas’ (begitu testimoni dari crew ‘Lentera Indonesia’ NET.TV yang meliput desa kami). Apipa adalah satu-satunya anak dari desa Nanga Lauk yang berhasil menginjakkan kaki di ibukota Jakarta seorang diri, untuk mengikuti pertukaran pelajar SabangMerauke. Gadis kecil ini menjadi 1 dari 10 anak yang terpilih dari 258 pendaftar di seluruh Indonesia. Yang kemudian tinggal di Jakarta selama 2 minggu untuk belajar tentang toleransi. (Cerita selengkapnya ada di http://indonesiamengajar.org/cerita-pm/annisa-dewi/apipa-guru-yang-mengajarkan-tentang-cita-cita)

Sepotong cerita tentang Apipa, hanyalah cuplikan pendek dari episode panjang di salah satu sudut kecil perbatasan Kalimantan dan Malaysia. Potongan-potongan cerita itu sungguh bukan goresan kami semata, pengajar muda, namun potongan cerita itu adalah goresan inspiratif yang ditorehkan justru oleh setiap orang yang kami temui disana. Selama setahun disana, salah satu tugas kami memang mengajar mata pelajaran dan berbagi pengetahuan kepada mereka, namun merekalah yang mengajar tentang kehidupan dan berbagi kesederhanaan kepada kami. Maka, tagline "Setahun mengajar, seumur hidup menginspirasi" betul-betul perlu diluruskan. Mungkin seharusnya, "Setahun mengajar, seumur hidup terinspirasi", yah, kamilah yang terinspirasi oleh mereka. Kesederhanaan, keterbatasan, dan cara mereka menghadapi dunia. Namun akhirnya, ini bukan hanya tentang terbatasnya listrik, minimnya jaringan telekomunikasi, dan jauhnya jarak yang ditempuh untuk hadir disana. Ini juga bukan hanya tentang minimnya pengetahuan tentang ke-Indonesiaan, kurangnya perhatian tentang minat baca, dan kurang meratanya kualitas pendidikan. Dan tentu saja ini bukan hanya tentang cerita-cerita pengabdian yang heroik dari pengajar muda, ataupun cerita kepahlawanan pengajar muda yang dikenang oleh masyarakat. Sama sekali bukan.

"Ini adalah tentang keikhlasan mereka menjalani setiap jengkal keterbatasan mereka, 
tentang tenun kebangsaan yang mereka ciptakan dari keramahtamahan mereka,  
tentang semangat nasionalisme yang hadir justru karena mereka baru mengenal betapa hebatnya negeri   mereka,
dan sungguh ini tentang kesadaran mereka bekerja bersama-sama untuk membangun tanah air tercinta."
  

Dan bagi kami, ini adalah tentang... 

"Mata yang terbuka lebar dan memandang lebih luas dengan perspektif berbeda tentang indahnya        kesederhanaan. 
Telinga yang mendengar lebih tajam dari ujung negeri, curahan setulus hati dari para pelaku pendidikan.  
Hati yang tersentuh oleh pengabdian seumur hidup  yang tak akan tergantikan.  
Dan juga tentang...  
Tangan yang bekerja lebih keras untuk merangkul ‘pahlawan-pahlawan’ lokal untuk turun tangan."


Saat Ujian Akhir kelas 6 di kecamatan Embaloh Hilir

Jujur saja, tak semua orang memahami dengan baik, keputusan yang kami ambil untuk memilih keluar dari zona nyaman. Meskipun kami akui, bahwa setahun disana, seakan-akan menjadi seseorang yang "from zero to hero". Tapi percayalah, ketika kami kembali ke kehidupan nyata setelah setahun disana, yang ada adalah "from hero to zero". Setelah setahun kami kembali, pada akhirnya kami memang memulai segalanya dari nol dan merelakan 'terlambat' dari kawan-kawan lain yang sebaya. Akan tetapi, kemudian kami memulai lagi segalanya dengan nol besar yang penuh esensi, dan melambatkan setahun yang berharga demi memulai lagi perjalanan seumur hidup yang penuh nilai.

Pada akhirnya, jejak-jejak yang tertinggal memang sungguh nyata. Jejak-jejak ini tertorehkan begitu saja di hati kami dan hati mereka. Sederhana dan berharga. Seperti penggalan-penggalan surat yang tiba-tiba saja ada di email saya, dari kepala sekolah saya yang merupakan email pertamanya, namun isi emailnya adalah surat terakhir....

Nduk..pada saat itu langit seperti mendung....mata hari tidak kelihatan padahal musim kemarau  yang seharusnya panas terik menyengat mengiringi perjalanan kita menyusuri sungai palin perjalanan itu terasa begitu cepat dan pada saat itulah detik-detik  terakhir....Bapak melihat nuan...dan bapak sadar ...ini adalah perjalanan terakhir kita bersama...,bapak berpikir bapak tidak akan melhat nuan lagi...
Nduk... pada saat nuan datang kerumah ngantarkan beberapa photo ,bapak lihat mata nuan berkaca-kaca yang membuat bapak tidak sanggup untuk menatap,bapak sebenarnya juga terharu... bapak raih photo itu,,  ya....photo itu memang memberi sebuah isyarat bahwa nuan akan meninggalkan kami,nuan akan pergi  jauh...yang entah kapan akan bertemu lagi...
Nduk ...,perasan kita sama, beberapa hari sebelum itu bapak gelisah,,,gelisah akan menghadapi hari perpisahan yang berat sekali dirasakan...terlihat di sinar mata nuan dengan wajah yang sembab..mungkin semalaman berpikir tentang keberangkatan besok.Berat meninggalkan anak-anak,berat meninggalkan umak yang memang dari sejak dahulu tidak ingin berpisah.
“Pak saya mau pulang..mau ngemaskan  barang-barang  untuk berangkat besok”.Oh..Tuhan betapa kata-kata itu bagaikan hantaman keras tepat di dada bapak nduk...,seperti tidak percaya..tapi memang itu kenyataannya,nuan harus berangkat pulang sesuai janji yang telah ditetapkan ,tapi bapak berusaha menyembunyikan perasaan itu,bapak tahu kamu juga sedih.
Nduk...,Bpk  sadar selama dalam satu tahun mengayomi bpk banyak sekali kesalahan...maafkan bpk nduk...dan jangan kesalahan bpk itu diingat-ingat.Yang bapak ingin nuan mau menjadi bagian dari kami dan tetap mau berkomunikasi walaupun telah berada jauh.Tetap mengingat bapak ,ibu dan kami semua nduk....kami yang berada di sudut desa sunyi sepi yang kalau malam harinya hanya diterangi oleh lentera kecil minyak tanah.
Nduk...Sejarah akan mencatat  bahwa  yang namanya ANNISA NOVITA DEWI,pernah hadir  satu tahun di Desa Nanga Lauk untuk membagi ilmu disana.Dan bapak berharap nduk...satu tahun itu benar-benar memberi sebuah inspirasi untuk sehumur hidup yang nantinya akan menjadi cerita kepada  anak  cucu kita.
                                                                                                                                                       Salam Hangat Selalu Dari jauh


                                                                                                                                                                    NAJIHIN



*) nuan = anda, kamu






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yang perlu dilakukan sebelum memilih sekolah untuk anak

menjaga fitrah lewat berkisah

Bercerita sesuka hati