Memetakan Kegundahan
Kalian sering tidak, merasa seperti ini?
"Merasa banyak hal tak terjelaskan dengan baik, merasa banyak hal tak tertangkap dengan tepat, merasa samar dengan apapun yang sudah berusaha kita perjelas plot nya"
Kemudian, jika sudah begitu, seolah-olah selalu memerlukan me time sesering dan selama mungkin. Kenapa begitu? Karena kalau berada diantara orang lain, rasanya lebih sulit mengelola perbedaan ekspektasi yang timbul, rasanya lebih susah melenyapkan hal-hal yang membuat kita merasa tak beruntung (atau kurang bersyukur). Bahkan keinginan me time itu bisa juga muncul karena ingin meminimalkan ruang interaksi antara kita dengan orang lain.
Mungkin itulah yang biasa disebut galau atau gundah?
Wajar, setiap orang rasanya pasti pernah mengalami hal ini. Yang tidak wajar adalah jika terus menerus larut dan berlebihan dengan kegundahan berkepanjangan.
Nah, agar tak berkepanjangan dengan gundah, ada baiknya mencoba memulai untuk mengakhirinya.
Saya menyebutnya dengan "memetakan kegundahan".
Banyak faktor kenapa kegundahan itu bisa muncul, namun secara umum biasanya disebabkan karena kesenjangan yang cukup jauh antara harapan dan kenyataan, dipadukan dengan meratapi kenyataan yang secara beruntung dialami oleh orang lain dan akhirnya membuat kita lupa bersyukur.
Misalnya : Punya harapan A, tapi belum juga tercapai. Awalnya santai, kalem, nggak merasa gimana-gimana. Tapi setelah melihat ada orang lain yang secara beruntung berhasil mencapainya, hati menjerit, gundah pun datang. Kenapa dia bisa, saya enggak?
Pertanyaan itu pasti datang menyerbu, namun jangan sampai, hanya karena pertanyaan itu kita jadi menyalahkan takdir dan lupa bersyukur. Uraikan pertanyaan itu, cari penyebabnya, telusuri secara detail, dan temukan solusinya.
Langkah pertama, apapun kegundahanmu, jangan lupa bersyukur. Bersyukur dengan pencapaian kita. Bersyukur bahwa kita sudah ada di tahap ini. Sebab Allah tak akan menunjukkan jalan ke tahap berikutnya jika kita belum sampai di tahap ini.
Langkah kedua, lakukan refleksi. Cari penyebabnya, mengapa kegundahan itu akhirnya sangat mengganggu dan membuat kita harus mengakhirinya dengan baik.
"Merasa banyak hal tak terjelaskan dengan baik, merasa banyak hal tak tertangkap dengan tepat, merasa samar dengan apapun yang sudah berusaha kita perjelas plot nya"
Kemudian, jika sudah begitu, seolah-olah selalu memerlukan me time sesering dan selama mungkin. Kenapa begitu? Karena kalau berada diantara orang lain, rasanya lebih sulit mengelola perbedaan ekspektasi yang timbul, rasanya lebih susah melenyapkan hal-hal yang membuat kita merasa tak beruntung (atau kurang bersyukur). Bahkan keinginan me time itu bisa juga muncul karena ingin meminimalkan ruang interaksi antara kita dengan orang lain.
Mungkin itulah yang biasa disebut galau atau gundah?
Wajar, setiap orang rasanya pasti pernah mengalami hal ini. Yang tidak wajar adalah jika terus menerus larut dan berlebihan dengan kegundahan berkepanjangan.
Nah, agar tak berkepanjangan dengan gundah, ada baiknya mencoba memulai untuk mengakhirinya.
Saya menyebutnya dengan "memetakan kegundahan".
Banyak faktor kenapa kegundahan itu bisa muncul, namun secara umum biasanya disebabkan karena kesenjangan yang cukup jauh antara harapan dan kenyataan, dipadukan dengan meratapi kenyataan yang secara beruntung dialami oleh orang lain dan akhirnya membuat kita lupa bersyukur.
Misalnya : Punya harapan A, tapi belum juga tercapai. Awalnya santai, kalem, nggak merasa gimana-gimana. Tapi setelah melihat ada orang lain yang secara beruntung berhasil mencapainya, hati menjerit, gundah pun datang. Kenapa dia bisa, saya enggak?
Pertanyaan itu pasti datang menyerbu, namun jangan sampai, hanya karena pertanyaan itu kita jadi menyalahkan takdir dan lupa bersyukur. Uraikan pertanyaan itu, cari penyebabnya, telusuri secara detail, dan temukan solusinya.
Langkah pertama, apapun kegundahanmu, jangan lupa bersyukur. Bersyukur dengan pencapaian kita. Bersyukur bahwa kita sudah ada di tahap ini. Sebab Allah tak akan menunjukkan jalan ke tahap berikutnya jika kita belum sampai di tahap ini.
Langkah kedua, lakukan refleksi. Cari penyebabnya, mengapa kegundahan itu akhirnya sangat mengganggu dan membuat kita harus mengakhirinya dengan baik.
Langkah ketiga, saat akhirnya sudah ketemu penyebabnya, uraikan tahapan-tahapan untuk mengakhiri kegundahan itu.
Langkah keempat, membuat check list hal-hal yang perlu dilakukan, supaya bisa mengukur berapa persen lagi akhirnya kegundahan itu teratasi.
Pemetaan kegundahan ini, akan sangat terbantu dengan membuat rangkaian daftar, to do list, mind map, bagan, grafik alur, atau hanya sekedar tulisan coret-coret.
Yap. Kegundahan itu tidak akan selesai hanya dengan mengeluh dan membicarakannya. Perlu alat, meskipun hanya kertas dan pulpen.
Kegundahan itu juga tak akan pernah berakhir, jika kita tak memaksakan diri untuk mencari solusinya.
Kegundahan itu something about feeling sih, but you can solve it by thinking.
Pada akhirnya, kegundahan akan bisa selesai dengan sangat ilmiah dan sistematis.
Jadi, tunggu apa lagi? Kenapa tidak petakan apa yang membuatmu gundah?
Jakarta, 14 Juni 2015, 23:17
Langkah keempat, membuat check list hal-hal yang perlu dilakukan, supaya bisa mengukur berapa persen lagi akhirnya kegundahan itu teratasi.
Pemetaan kegundahan ini, akan sangat terbantu dengan membuat rangkaian daftar, to do list, mind map, bagan, grafik alur, atau hanya sekedar tulisan coret-coret.
Yap. Kegundahan itu tidak akan selesai hanya dengan mengeluh dan membicarakannya. Perlu alat, meskipun hanya kertas dan pulpen.
Kegundahan itu juga tak akan pernah berakhir, jika kita tak memaksakan diri untuk mencari solusinya.
Kegundahan itu something about feeling sih, but you can solve it by thinking.
Pada akhirnya, kegundahan akan bisa selesai dengan sangat ilmiah dan sistematis.
Jadi, tunggu apa lagi? Kenapa tidak petakan apa yang membuatmu gundah?
Jakarta, 14 Juni 2015, 23:17
from : http://vanillafairystory.blogspot.com/2013/06/gundah-gulanaaaaaa.html

Komentar
Posting Komentar