Mbak Retno, Beasiswa, dan Ruang Kepentingan
"Setelah aplikasi beasiswa ke Jepang nggak dapet acc dari cowok gue (suami-red), gue jadi berpikir bahwa tujuan gue sekolah lagi bukan semata-mata karena gelar, tapi karena ingin anak gue dapat lebih banyak ilmu dari bundanya"
Susunan bahasanya tak persis sama, namun kurang lebih seperti itu intinya. Statement itu mengalir tajam dari seorang Ibu umur 39 tahun dengan 2 anak. Yang masih punya keinginan besar untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Mbak Retno. Begitu saya memanggilnya. Gayanya, pemikirannya, caranya menyikapi sesuatu, termasuk juga semangatnya, terutama untuk meraih impiannya untuk studi ke luar negeri. Yang semakin membuat saya merasa malu dengan diri sendiri.
"Nis, gue deg-degan buka link darimu yang presidential scholarship, syaratnya sudah masuk semua, tinggal ngejar esai"
Ujarnya suatu ketika, saat saya secara random membagi info tentang salah satu beasiswa yang mensyaratkan umur maksimal 40 tahun. Agak curiga sebenernya, orang sepotensial mbak Retno yang sudah melanglang buana ke berbagai belahan dunia untuk melaksanakan tugas negara, harusnya dapat dengan mudah terakses ke fasilitas macam beasiswa studi ke luar negeri. Topik ini sudah pernah jadi bahan perbincangan kami tempo hari. Dan entahlah. Di luar adanya kemungkinan 'kesulitan akses' tersebut, saya rasa ada faktor lain dari sosok kakak wise ini yang juga membuatnya mau tak mau, masih juga belum fokus dengan mimpinya. Bisa jadi karena karakternya yang 'anti egois', yang selalu berusaha menyenangkan orang lain bagaimanapun caranya. Dia tidak akan tega mendahulukan kepentingan pribadinya daripada kepentingan yang lain, meskipun 'kepentingan' itu sudah jadi mimpinya sejak lama.
Suatu ketika, mbak Retno sudah sampai di tahap penulisan Personal Statement untuk salah satu aplikasi beasiswa dari satu negara yang coba dia ikuti. Agar lebih optimal, dia meminta bantuan saya untuk mengenalkan jika ada teman yang pernah punya pengalaman serupa menyusun sebuah Personal Statement untuk syarat beasiswa. Beberapa teman sudah tersodor, tentu saja yang sudah tercatat lolos seleksi beasiswa. Bahkan saya sempat minta salah satunya untuk bersedia menanggapi konsultasi dari mbak Retno. Ya, saya bersemangat sekali, saya senang membantu mbak satu ini untuk mengejar mimpinya. Karena saya percaya, membantu mewujudkan mimpinya -meskipun tak signifikan- akan membuka jalan lain untuk meraih mimpi saya sendiri.
Singkat cerita, saat deadline aplikasi tinggal sehari, mbak Retno memutuskan untuk stop tak melanjutkan proses yang telah dimulainya.
"Maaf ya Nisa, Beasiswa kupending dulu. Tidak untuk ke New Zealand. Tapi ke suatu tempat yang belum tau. Hahaha..."
Demikian isi pesan mbak Retno saat menginfokan pada saya bahwa dia belum jadi apply. Sayang sekali, dalam benak saya. Pasti ada sesuatu. Dan itu salah satunya pasti karena 'kerendahhatian' mbak Retno untuk tak egois dengan kepentingan orang lain. Semua hal untuk kepentingannya selalu dinomor sekiankan. Sedangkan segala hal yang atas nama kepentingan orang banyak ditaruh paling tinggi atas ego nya. Bukan salah. Terkadang, ruang pribadi itu juga harus disediakan ketika kepentingan orang banyak mau tak mau menyita perhatian. Namun juga secara rendah hati, tiap orang bisa memilih dan mengatur seberapa besar ruang kepentingan yang disediakan. Bisa jadi lebih besar ruang pribadinya atau bisa jadi lebih besar ruang publiknya.
Saya mungkin termasuk orang yang masih menyetting ruang kepentingan itu lebih besar pada ruang pribadi. Tidak mau rugi gara-gara menyediakan ruang untuk orang lain. Dan ternyata settingan ini jauh lebih berat. Menjadi 'egois' itu sama sekali tidak menyenangkan. Menjadi terdepan namun melihat orang lain terabaikan itu jauh lebih tak manusiawi. Saat ruang pribadi terpuaskan namun di ruang yang berbeda orang lain masih kesulitan, itu artinya, kita merebut jatah ruang publik orang lain yang berhak mereka dapatkan dari kita, bukan?
Lantas?
Prinsip seimbang. Fokus ke ruang pribadi itu perlu, namun jangan sampai mengorbankan kepentingan publik yang mendesak demi kepentingan pribadi. Pun sebaliknya, jangan sampai lupa dengan capaian pribadi hanya karena terlalu fokus pada kepentingan publik. Namun, ada kalanya kita membiarkan ruang kepentingan kita, lebih besar porsinya pada ruang publik. Barangkali itu saat diri kita sudah waktunya menjadi milik banyak orang (seperti, menikah dan punya anak mungkin?) dan ikhlas mengabdikan diri untuk melayani publik.
Pada akhirnya, saya masih akan belajar banyak dari mbak Retno untuk fokus dengan capaian pribadi namun tetap dapat membagi dengan adil ruang kepentingan kita untuk orang lain. Termasuk tentang beasiswa dan studi lanjut. Ahh, jadi kangen mbaknya, sudah seminggu tak menyapamu ;)
Jakarta, 7 Agustus 2015 14:02
![]() |
| Chesee Pose saat ultah mbak retno |

Ih inspiratif banget mbaknya ya Vi. Jadi pengen kenalan, hehe..
BalasHapusIyaa ditaa. Sini main ke kantorkuu takkenalin ama mbaknya. hehe
HapusTulisan yang sangat bagus. Andai di kantor kita banyak sosok seperti Mbak Retno. Ditunggu tulisan berikutnya. Sesekali mampir ke blogku ya nis. Di komedjogja.blogspot.com dan sukses selalu buat nisa.
BalasHapusTerimakasih sudah mampir di blog saya, blog Pak Komed juga sangat inspiratif. Sukses juga buat Bapak
Hapus