Mengalirkan Emosi dan Menyayangi Diri Sendiri
"Pernah nggak sih, merasa marah atau sedih, tapi pas ingin cerita, direspon dengan 'kamu harusnya bersyukur', 'yang sabar ya', 'ya ga papa, senyum dong' (*kalo yang ini kudu senggol pak suami π)
Mba Prita mengawali workshop pagi itu dengan pernyataan-pernyataan ini.
Jlebb kan. Persis banget dengan apa yang pernah dialami, baik sebagai objek atau subjek. Merasa mangkel (jengkel) namun juga bersalah pernah melakukan itu ke orang lain.
Sejak awal memang mba Prita sebagai narasumber sudah membuat kami, para emak, tertampar dan terus tertampar hingga lebam (lebayπ) dengan semua pernyataannya. Namun kami jadi menikmati semua penjelasannya karena semua yang dikatakannya memang benar adanya. Dyah Pratitasari, COD (DONA) yang biasa dipanggil mba Prita adalah seorang certified Capacitar International Facilitator for Trauma Healing. Dalam workshop yang diadakan dalam rangka wisuda peserta matrikulasi IIP batch 7 serta sekaligus halal bihalal IP Depok, beliau mengajak para peserta untuk melakukan praktik sederhana bagaimana mengelola emosi dan memberikan dukungan psikososial bagi orang terdekat.
Menurut mba Prita, ada tiga hal yang biasanya dilakukan untuk merespon perasaan marah, sedih, kecewa, dan terluka, yaitu :
1. Memendam, membungkam : "sabar ya", " kamu harusnya bersyukur", dst.
2. Menerima dan mengakui : mengakui kalau marah
3. Mengumbar : memukul, memaki, tanpa mempertimbangkan faktor lain.
Nah, kira-kira bagian yang manakah yang sering kita dapatkan dari orang lain atau justru kita lakukan ke orang lain?
Selanjutnya, emosi yang dilabeli negatif sebenarnya juga bisa konstruktif.
Emosi bersifat seperti alarm yang memperingatkan bahwa ada sesuatu yang salah dan perlu difasilitasi. Yang jika tidak difasilitasi bisa menimbulkan masalah.
![]() |
| Sumber : Materi Workshop Dyah Pratitasari, COD dalam Wisuda dan Halbil IP Depok 2019 |
Dalam penjelasan selanjutnya, mba Prita meminta kami untuk menginterpretasi gambar gunung es. Ibarat gunung es yang hanya terlihat secuil di permukaan laut, bagian di bawahnya yang tak terlihat sesungguhnya juga tak kalah berperan dalam munculnya gunung es tersebut. Artinya apa? Bahwa segala macam emosi negatif yang tak terlihat itu lah yang sebenarnya muncul sebagai ekspresi marah. Marah bisa berasal dari rasa khawatir, takut, sedih, kecewa, frustasi. Intinya semua perasaan negatif muncul sebagai gunung es dalam bentuk marah.
Ada banyak perasaan di balik marah yang terjadi sehingga menyebabkan marah.
Nah, sebetulnya ketika marah, ada kebutuhan tertentu yang belum terpenuhi, sehingga memicu emosi dalam bentuk marah. Dalam Maslow's hierarchy needs disebutkan urut-urutan kebutuhan manusia dari yang paling basic hingga paling rumit yang diperlukan oleh diri.
![]() | |
|
Maslow's hierarchy of needs.
Dari bawah :
1. Physiological : breathing, food, water, sleep, clothing, warmth
2. Safety : security of body, employment, resources, morality.
3. Love and belonging : friendship, family, sexual intimicy
4. Esteem : Self esteem, confidence, achievement, respect of other, respect by other.
5. Self actualization : morality, creativity.
Pada tahap esteem, bisa dibilang kita cenderung meletakkan identitas terhadap lainnya (keluarga, anak, suami), maka ini juga penting untuk diperhatikan ketika emosi muncul padahal kebutuhan yang basic, seperti physiological, safety, dan love and belonging sudah terpenuhi.
Menurut mba Prita juga, pengelolaan emosi ibarat memasukkan garam ke air putih lalu rasa airnya yang menjadi asin langsung dicampur dengan gula. Maka air tersebut berubah menjadi tidak karuan rasanya. Itulah kenapa, ketika seseorang marah juga akan merasa galau. Karena bingung harus membawa perasaan marah itu seperti apa.
Maka yang bisa dilakukan :
1. Amati ke dalam diri dan terima yang sebenarnya sedang dirasakan.
2. Kenali pemicunya (dari Maslow's hierarchy needs)
3. Ijinkan emosinya mengalir.
4. Sampaikan secara asertif, dengarkan secara aktif. Mengambil peran untuk diri kita sendiri. Gunakan 'I statement' : saya merasa terluka karena bla bla...
Jangan merasa dizalimi (Dia membuatku bla bla..). Jika ada hak-hak yang merasa dilanggar, komunikasikan.
Dari sini saja, saya pribadi jadi paham, kenapa sih kalo pas nyuapin bocah terkadang emosi mudah tersulut. Ouw, karena belum makan, jadi laper, maka emosi mudah tersulut. Atau ketika hal-hal sepele terjadi saat obrolan malam suami-istri, tiba-tiba ada saja yang bikin emosi. Saya secara spontan langsung coba cek Maslow hierarchy. Laper nggak, ngantuk nggak. Ouw ternyata badan pegel-pegel, ini kudu disembuhin dulu, baru emosinya mencair.
Namun jika sudah berusaha menganalisa dari yang paling dasar namun tidak ada masalah, harus ada yang dialirkan supaya semua beban keluar. Dan itu harus disampaikan kepada orang yang tepat. Yang paham bahwa emosi itu sebaiknya diakui dan diterima.
Selain mengelola emosi diri sendiri, bantuan psikososial dapat dilakukan untuk mendukung orang terdekat yang sedang dalam kondisi emosi/trauma. Capacitar bisa dilakukan tanpa harus tahu seseorang memiliki masalah apa.
Pertolongan pertama yang bisa dilakukan adalah :
1. Napas
2. Menyentuh
3. Mengetuk
4. Body movement (olahraga) : diajak melakukan gerakan supaya bahunya membuka dan melihat ke atas.
Psychology first aid untuk membantu orang lain :
- Mengamati (berdasarkan Maslow's hierarchy)
- Mendengarkan secara aktif. Tidak memotong pembicaraan. Orang di hadapan kita tau bahwa sedang didengarkan. Tidak memberi saran sebelum diminta.
Yang sebaiknya dilakukan :
1. Temukan tempat aman dan nyaman
2. Jaga nilai yg berlaku
3. Biarkan mereka tahu bahwa kita ada dan mendengarkan baik verbal dan nonverbal
4. Informasi aktual dan jujur
5. Hormati privasi, jaga rahasia
6. Temukan hal baik, dorong utk menolong diri sendiri.
Yang sebaiknya tidak dilakukan :
1. Memaksa utk bercerita.
2. Memotong pembicaraan
3. Memberikan opini tanpa diminta
4. Menyentuh tanpa ijin
5. Tidak membandingkan
6. Tidak menceritakan ke orang lain.
Setelah materi ini. Ada sesi simulasi yang mengajak semua peserta untuk menangani sendiri emosi yang sedang dirasakan serta bagaimana menenangkan diri. Juga bagaimana membantu orang lain untuk menenangkan diri menghadapi masalahnya.
Tentang ini akan bersambung yaa...
Ada sedikit bocoran foto-foto saat praktik bersama mba Prita nih.
| Sumber : Dokumentasi Panitia Wisuda dan Halbil IP Depok 2019 |
Insyaa Allah akan ada tulisan part 2 di sesi selanjutnya.
π
"Healing Yourself, healing others" (Capacitar Internasional)


Komentar
Posting Komentar