Jurnal ke-8 Kelas Ulat-ulat Buncek : Supplies for My Buddy


Dalam proses pembelajaran, terkadang diperlukan teman yang bisa diajak untuk mengalirkan segala rasa setelah lelah mencecap berbagai ilmu. Itulah buddy. Saat pertama kali tahu bahwa ada permainan mencari buddy, duh jujur saja merasa berat, karena sadar bukan tipe orang yang suka sok akrab dengan orang lain. Di grup HIMA Depok sepertinya sudah pada dapet temen, akhirnya melipir ke region lain yang kira-kira memungkinkan. Sempat ditolak, eh bukan ditolak ding, tapi pas di grup WA yang diharapkan bisa dapet, yaitu grup sisterhood AFIIP yang isinya bertiga dengan mba Yeni  (IP Jakarta) dan mba Anandita (IP Bekasi). Mereka berdua sudah buddy-an hihi. Ketinggalan deh :p

Sempat ajakin teh Nani buddy-an juga tapi udah punya buddy ternyata. Dan, tepat setelah ditolak, ada temen di kelas Buncek Depok yang ngajakin jadi buddy, mak Annisa Fauziah. Temen sekelas di Bunsay#2 yang selalu outstanding perfomance ;) 
Alhamdulillah, dapet buddy yang keren gini, seneng banget lah. Obrolan demi obrolan yang singkat dan padat pun berlangsung. Fokus dan tepat sasaran obrolan kami. Efektif banget lah, ga melebar kemana-mana. 

Mak Nisa ini orangnya detail banget tulisannya, di aliran rasanya pun berasa banget bobot tulisannya beda ;p. Yang dipaparkan itu memang value yang bermakna. 
Sedikit banyak kutipan aliran rasanya sebagai berikut :

'... Ada hal yang menarik yang saya dapat sampai dengan kelas Ulat-Ulat ini, yaitu sistem pembelajaran yang selalu membuat saya penasaran dan merasa tertantang. Setiap kamis, pasti ada rasa penasaran, “Ada kejutan apa lagi ya pekan ini?” Dan ketika tantangan datang dengan jurnal di setiap pekan, pasti ada hikmah yang selalu saya dapat. Saya selalu bilang ada “puzzle” yang harus saya susun untuk menemukan hikmah di balik pembelajaran yang saya lewati.Sistem belajar di kelas buncek ini membantu saya keluar dari zona nyaman, mau mencoba hal baru, berkenalan dengan orang baru, dll. Seringkali ada perasaan down dan merasa gagal ketika merasa apa yang dipelajari masih teori saja, misal masalah manajemen emosi. Ilmu yang didapat sudah banyak, tapi aplikasinya masih sering marah ke anak...Tapi, di kala perasaan itu datang tiba-tiba Allah kasih jawaban lewat kenalan teman-teman baru yang saling cerita suka dukanya jugaInspirasi yang saya dapatkan dari kelas Buncek ini adalah kesempatan untuk berinteraksi dengan teman-teman baru, bahkan yang berbeda regional, meskipun baru sebatas lewat dunia maya. Dongeng Ibu Septi selalu menjadi momentum untuk mendapat insight dan recharge semangat termasuk dalam meluruskan niat. Karena banyak sekali kutipan dan pengalaman beliau yang sangat filosofis yang seringkali bikin #jleb. Akhirnya untuk saya pribadi jadi bahan untuk terus refleksi dan evaluasi. Begitupun cerita dan pengalaman teman2 di regional Depok selalu menjadi penyemangat kalau saya tidak sendiri melewati proses menempa diri ini.Satu hal lain yang selalu saya jadikan parameter agar tetap “waras” dan “enjoy” dalam melewati setiap tahapan adalah mencoba melibatkan Allah sebagai muara dari semua tujuan kita, termasuk strong why kenapa saya harus mau berkorban meluangkan waktu tenaga fikiran untuk belajar ini dan itu. Suami dan anak-anak sebagai support system juga selalu jadi parameter saya untuk memastikan bahwa saya masih on track, misal “apakah anak-anak komplain karena saya lebih sibuk ngurusin chat group dan ngerjain jurnal?” Nah, kalau ada komplain dan sampai lupa prioritas, itu jadi “alarm” bahwa ada proses yang salah yang saya lewati. Biasanya saya menepi sebentar atur fokus dan akhirnya sadar kembali tentang tujuan yang ingin dicapai.
Apakah niat saya sudah lurus? Apakah saya masih bisa fokus? Apakah saya sudah melewati proses pembelajaran dengan cara dan adab yang baik? Apakah tujuan yang ingin saya kejar hanyalah eksistensi, teman, ilmu, pengalaman atau sekedar ingin menuntaskan jurnal semata? Untaian pertanyaan  retoris itu yang akhirnya selalu menjadi #ntms dan membantu saya untuk kembali on track ...'
Intinya dari aliran rasa itu, saya pribadi dapat banyak insight baru, yang akhirnya jadi bahan perenungan bersama. 
Dari aliran rasa plus obrolan-obrolan, akhirnya saya memulai meramu bekal untuk mak Nisa. Ini item list bekal untuk mak Nisa :
  • Sekilas tentang Manajemen Belajar. Ini karena mak Nisa bilang ingin tahu sedikit soal manajemen belajar supaya perjalanan belajar berikutnya lebih on track dan optimal.
  • Template Learning Plan dan Template Database of Knowledge. Untuk memudahkan mak Nisa membuat rencana belajar dan mengarsipkan hasil belajarnya di tahapan selanjutnya.
  • Hasil berburu resume Keluarga Manajemen Waktu. Karena mak Nisa sempet bilang ingin belajar di manajemen waktu namun belum sempat.
Semua bekalnya diramu disini : Supplies for My Buddy




Pagi tadi bekalnya sudah dishare ke mak Nisa. Alhamdulillah responnya positif, namun sepertinya belum ditindaklanjuti karena kesibukan awal pekan. Mudah-mudahan bekalnya bermanfaat dalam perjalanan berikutnya. Saya pun sedang menunggu-nunggu bekal buat saya, hehe ;)





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yang perlu dilakukan sebelum memilih sekolah untuk anak

menjaga fitrah lewat berkisah

Bercerita sesuka hati