Mendidik Buah Hati dengan Rileks dan Optimis by Ummi Hani
Menjadi seorang ibu adalah ibadah seumur hidup, sampai meninggal tidak akan tercabut status tsb. Maka lakukan peran ibu dengan maksimal. Namun, bagaimana caranya supaya percaya diri dalam mendidik anak?
Kuncinya ada pada : percaya Allah dulu sebelum percaya pada diri sendiri.
Tidak mungkin Allah salah alamat. Tidak mungkin Allah salah pilih orang untuk menjadi ibu dari anak-anak kita.
Kunci mendidik anak : ada ikatan hati yang terbangun antara ibu dan anak. Karena yang menghubungkan kita dengan anak kita adalah Allah SWT. Ada segitiga cinta antara kita, Allah, dan anak kita. Hal ini dicontohkan oleh bunda Hajar yang mendidik Ismail tanpa suami dan memasrahkan semuanya kepada Allah. Prinsipnya : jika menaati perintah Allah, Allah yang akan jamin.
Orang tua semestinya menyadari keberadaan fitrah, yang merupakan modal seorang anak yang diberikan oleh Allah. Fitrah anaknya adalah beriman kepada Allah. Namun orang tuanya lah yang menjadikannya yahudi, nasrani, majusi. Maka, aslinya seorang anak itu baik, dari Allah anak itu baik. Namun jika anak jadi buruk itu karena orang tuanya. Makjlebb ya.
Oleh karena itu ketika ada yang salah dari seorang anak, orang tua harus mundur ke belakang. Introspeksi diri. Setelah introspeksi, mencoba untuk empati (memposisikan diri) lalu menjadi teman bagi anak.
Intinya : kita perlu mengikatkan hati dengan anak melalui peran Allah.
Dan satu hal yang bikin makjlebb berungkali. Jangan menempatkan diri terlalu berlebihan dalam menghakimi anak yang belum baligh. Allah saja tidak menganggap dosa untuk kesalahan anak yang belum baligh.
Anak kita adalah sarana berharga untuk kita belajar.
Modal dari Allah sudah terinstal dalam diri anak dalam bentuk fitrah. Peran kita apa?
Fitrah munazzalah : fitrah yg diturunkan Allah kepada manusia, Al Quran.
Peran kita : membacakan ayat-ayat, tazkiah (menjaga fitrah agar tetap suci), mengajarkan isi Quran sebagai pedoman kehidupan.
Peta cahaya bagi anak kita : fitrah. Keberadaan quran seperti petunjuk/cahaya bagi fitrah anak kita.
Tugas kita mengajari/lakukan saja, pemahaman adalah ranah Allah.
Maka harus tetap optimis apapun hasilnya.
Hasil akhir bukan ranah kita, jadi tak perlu sedih dengan hasilnya.
Menjadi seorang ibu adalah kebahagiaan, kemuliaan yang diberikan pada kita.
Menjadi ibu adalah ibadah seumur hidup, sampai meninggal tidak akan tercabut.
Anak itu punya rizkinya sndiri dari Allah.
Disiplin untuk anak, buatlah disiplin jadi menyenangkan.
Tak ada teori parenting yang paling tepat, karena yang terbaik adalah teori parenting yang kita temukan sendiri dalam perjalanan menjadi ibu. Salah satunya dengan menjadikan komentar anak sebagai indikator keberhasilan kita mendidik sebagai orang tua.
"Cintailah anak seikhlas hati jangan sepenuh hati, hingga mengorbankan hati. Karena anak adalah perhiasan, yang letaknya bukan di hati tapi di luar hati."

Komentar
Posting Komentar