Jalan Manakah yang Engkau pilihkan??
Saya memang barusan saja pulang dari berpetualang di ibukota Jakarta, tapi saya agak malas cerita tentang Jakarta. Bukannya tidak menyenangkan, of course, meskipun kata Melan "Ibukota lebih kejam daripada Ibu tiri" tapi banyaaaak pengalaman berharga dan sesuatu yang baru yang saya dapatkan dari "kota kejam" itu. Salah satunya dapet teman baruuu, teman senasib sepenanggungan, sepemikiran, se-ilmu, teman-teman yang berlatar Statistika dari berbagai Universitas di pulau Jawa. Rasanya seperti mendapatkan teman diskusi, berinteraksi dan berbagi suka duka tentang Statistika. Saya jadi paham bahwa ternyata teman-teman Statistika dari berbagai Universitas pun merasakan "kegelisahan" yang sama dengan yang saya rasakan akan ilmu Statistika. Bahwa sejatinya meskipun ilmu Statistika tak mungkin tidak ditemui di segala bidang ilmu, namun ilmu Statistika memang butuh berjalan berdampingan dengan ilmu lain...
Yap, saya, kami, mereka, sepakat mengenai hal itu. Oleh karena itu, kadang-kadang terpikirkan untuk mengambil program pascasarjana yang bisa membuat Ilmu Statistika saya berdampingan dan bermanfaat dengan ilmu lainnya. But overall, terlalu terburu-buru juga jika dengan alasan itu saya langsung memilih lanjut ke pascasarjana. Akan lebih baik dan InsyaAllah lebih barokah jika saya mencoba mengaplikasikan ilmu yang saya dapat selama 4 tahun ini untuk berkontribusi melayani masyarakat -meskipun hingga detik ini pun saya juga masih mencari jalan yang tepat untuk memulai perjalanan "itu".
Dengan ke-risau-an luar biasa sebelum dan setelah berada di Jakarta, saya tetap berjalan, berjalan melewati apa yang sudah digariskan untuk saya beberapa waktu lalu. Tapi "macam" keyakinan apapun yang saya bawa bersama ke kota itu, ternyata memang segala ketetapan Allah tak pernah bisa diprediksi. Dua kali "keyakinan" saya sukses membenarkan realitanya, namun pada keyakinan yang ketiga kalinya....tak sukses lagi. Bukan tak sukses tapi memang bukan itu jalannya, dan keyakinan saya pun berubah dengan cepat meskipun diliputi rasa heran yang luar biasa. Heran karena saya benar-benar tak mempersiapkan optimisme lain ketika keyakinan itu berubah, heran karena saya lupa bahwa saya punya impian lain yang masih belum tercapai, dan heran bahwa saya hampir mengabaikan mimpi itu untuk mengejar kesempatan lain yang justru bukan mimpi saya !!
Meskipun akhirnya harus pulang dengan membawa rasa heran dan pertanyaan luar biasa, "Jalan mana yang sebenarnya Engkau pilihkan untuk hamba?".....
Astaghfirullah, namun seketika itu juga saya sadar, "Mengapa masih mempertanyakan jalan yang pasti terbaik dipilihkan oleh-Nya untuk hamba-Nya??"......
Dan saya jujur saja masih sulit menghilangkan pertanyaan itu. Pertanyaan itu tidak akan pernah hilang, hanya bedanya saya tak perlu membawa rasa heran dalam pertanyaan saya, tetapi lebih baik jika mempersiapkan kemungkinan-kemungkinan jawaban dari pertanyaan saya. Kemanapun melangkah itu merupakan suatu ketetapan dari-Nya. Dan saya siap, saya berusaha siap dengan segala ketetapan dari-Nya.
I'm ready to go Allah way......
I'll prepare to beginning on February '12 ^_______^
GM-C17 16:30

Komentar
Posting Komentar