Thinking VS Feeling

"Perbedaan employee dan self-employed, bahwa employee memanfaatkan peluang yang ada, sedangkan self-employed menciptakan peluang sendiri"
Masih segar di ingatan saya, quote ini saya simpulkan dari hasil diskusi saya dengan beliau, sang "owner" -owner the brillian idea- siang kemarin di ruang meeting sembari beliau mempersiapkan LCD dan laptop untuk meeting. Meskipun retorika sekali #basa-basinya, tapi tidak pernah tidak sesuatu yang beliau bahas meninggalkan kesan yang biasa-biasa saja, semua yang pernah beliau bicarakan dengan saya, selalu meninggalkan kesan mendalam #something that out of box, yang belum pernah terpikirkan oleh saya. Almost everyword, hampir setiap kata, bisa jadi quote, termasuk mengenai employee dan self-employed yang sempat beliau kemukakan. Menjadi employee ataupun self-employed itu pilihan, namun tentu saja untuk memilih menjadi self-employed itu harus melalui tahapan menjadi seorang employee. Nice !! 
Quote lain yang juga ikut menginspirasi, tentang thinking dan feeling. Tidak dapat dipungkiri manusia menjalankan hidupnya dominan menggunakan feeling, namun seiring dengan banyaknya ilmu yang berkembang sebagai upaya manusia memperbaiki hidupnya, thinking lah yang akhirnya dominan dijadikan porsi besar untuk mengambil suatu keputusan. Untuk merumuskan suatu kebijakan, thinking. Untuk menciptakan sistem baru, thinking. Untuk menyusun grand desain, thinking. Secara personal, manusia pun membutuhkan menjadi seseorang yang sistematis secara "thinking" untuk menjalankan hidupnya. Membuat life mapping, thinking. Membuat skala prioritas, thinking. Membuat time schedule, thinking. Dan tentu saja, mengambil keputusan yang kaitannya menentukan antara banyak pilihan, juga thinking. Tiada hari tanpa thinking. Namun bukan berarti full thinking tanpa mengandalkan feeling. Kadangkala logika saja tak cukup untuk membuat hidup ini berjalan seimbang dan sempurna, butuh perasaan untuk membuat 'perjalanan'nya lebih bermakna dan penuh hikmah. Jadi intinya, tidak bisa mengandalkan thinking saja atau feeling saja, keduanya selalu saling melengkapi dan saling menyempurnakan. Jika kita membuat perencanaan hidup ini dengan thinking, lantas kita merasakan hikmah setelah rencana itu berjalan dengan feeling. Atau sebaliknya, jika kita merasakan betapa sulitnya terjebak dalam suatu problem hanya dengan feeling, maka kita menyelesaikan problem itu dengan thinking. So, it's easy !!! Berdayakan, optimalkan, eksplorasi sebesar-besarnya kombinasi antara thinking dan feeling. Keduanya tak dapat dipisahkan, tetapi sesederhana itu juga tak bisa dicampuradukkan. Keduanya berbeda, tapi dapat berjalan beriringan untuk menjadikan hidup lebih baik. 



Jadi, mari menata masa depan dengan thinking (planning, executing, evaluating) dan merasakan keyakinan untuk meraihnya dengan feeling (patiently, passionately, sincerely) ^_^


GM-C17    23:40



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yang perlu dilakukan sebelum memilih sekolah untuk anak

menjaga fitrah lewat berkisah

Bercerita sesuka hati