Pahlawan Dulu, Kini, dan Nanti


Dari balik kemudi motornya, seorang perempuan muda berkali-kali melihat ke arah arloji di tangannya. Hujan gerimis masih mengiringi perjalanannya sejak motor yang ditungganginya keluar dari parkiran motor kompleks Kemdikbud Senayan. Sementara itu motornya belum juga bergerak dari posisinya, karena lampu lalu lintas yang tak kunjung berganti hijau. Kemacetan di depan persimpangan jalan itu, makin membuat hatinya kalut. Raut mukanya terlihat makin cemas, ketika menemui kenyataan bahwa di ujung jalan yang akan dilaluinya, genangan air menggenang dengan ketinggian hampir selutut orang dewasa. Ibu dari satu orang gadis kecil ini pun menguatkan-nguatkan hatinya untuk melaju terus melawan genangan air yang timbul akibat hujan besar sore ini. Tak lama motornya pun melaju, perlahan namun pasti melewati genangan air besar di ujung jalan tadi. Alhamdulillah. Kalimat ini keluar dari mulutnya dengan penuh rasa lega di dada. Namun ternyata perjuangan belum usai. Di belokan jalan pertama dengan kemiringan yang lebih landai, ternyata ada genangan air yang lebih tinggi, sehingga membuat orang-orang yang akan melalui jalan itu berbalik arah, tanda menyerah dengan genangan air tersebut. Si perempuan muda dengan penuh percaya diri melajukan motornya menembus genangan air di depan mata. Saat hampir dekat, si perempuan tadi baru sadar bahwa genangan air kali ini nampaknya lebih berbahaya untuk dilewati, karena sudah ada korban di depan, yang mesin motornya mati sehingga motor harus dituntun di tengah banjir.
Dengan perasaan bergidik namun pasrah, sesaat sempat bertanya-tanya dalam hati "Bagaimana jika nasibnya lebih naas dari orang yang motornya mati itu, bagaimana jika dia jatuh dan tenggelam, dan ah...". Dia membuang jauh-jauh pikiran negatif itu dan akhirnya mencoba melajukan kembali motornya di tengah ganasnya ombak air di depannya. Yah, ombak, karena terjangan mobil dari arah sebaliknya menyebabkan genangan air yang tinggi makin bergulung-gulung menghantam perempuan itu dan motornya. Di tengah kepasrahan yang amat sangat, tiba-tiba langkahnya terasa sangat ringan ketika melewati jalanan yang banjir hingga hampir separuh badan itu. Di belakang terdengar suara anak laki-laki dengan agak serak berteriak "maju terus buu, dimatikan saja mesin motornya..." Alhamdulillah. Pertolongan Allah selalu datang di saat putus asa hampir melanda. Anak laki-laki itu mendorong motor si perempuan muda itu hingga ujung jalan sekaligus membantu menstater hingga motornya hidup kembali. Setelah mengucapkan terima kasih dan memberikan tanda terima kasih ala kadarnya, si perempuan muda kembali melanjutkan perjalanan menyusuri hujan gerimis yang sendu sore itu. Hanya satu yang ada di benak perempuan muda itu, putri semata wayangnya yang menunggu ibunya pulang dan menjemputnya di daycare untuk pulang ke rumah. Jarak yang ditempuhnya terbilang tak dekat. Namun itu semua tetap ditempuhnya dan menjadi alternatif pertamanya dibanding naik kendaraan umum, demi mempersingkat waktu perjalanan dari kantor ke rumah. Sekali lagi demi putri semata wayangnya yang sangat dicintainya.
Sementara itu belasan tahun lalu, seorang perempuan dengan dua anak memutuskan untuk berpisah dari sang suami dan berjuang sendirian menghidupi kedua anaknya. Keputusan ini terpaksa diambil setelah mempertimbangkan banyak hal dan demi kebahagiaan serta masa depan anak-anaknya. Kerja keras membanting tulang dilakukan demi memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Hingga tergambar betul sampai sekarang, semangat sang ibu yang diwarisi oleh putri keduanya yang kini sudah menikah dan telah melahirkan seorang putri yang cantik.
Si ibu muda yang berjuang dengan motornya itulah (saya), putri dari si ibu yang berjuang sendirian menghidupi anak-anaknya (ibu saya). Makin jelaslah kalau perjuangan yang dilakukan si perempuan muda direfleksikan dari pengalaman hidupnya bersama sang ibu yang adalah pahlawan sepanjang hidupnya.

Tak dapat dipungkiri bahwa setiap ibu adalah pahlawan bagi anak-anaknya. Bagaimanapun keadaannya, entah ibu yang memang sedang berjuang untuk menghidupi anak-anaknya, ataupun ibu yang sekedar mencurahkan kasih sayang untuk anak-anaknya. Perjuangan seorang ibu dari masa ke masa patut diganjar dengan sebutan pahlawan. Pahlawan bagi keluarga. Pahlawan bagi anaknya. Pahlawan sepanjang masa. 
Ibu kita adalah pahlawan kita, sejak dulu hingga kini. Kini, kita masih berjuang memantaskan diri menjadi pahlawan bagi anak kita. Sedangkan anak perempuan kita nanti, berpuluh tahun lagi akan menghadapi fase yang sama, menjadi ibu, menjadi pahlawan bagi keluarga dan anak-anaknya kelak. Jadi, mari kita pantaskan diri mengupayakan sebaik-baiknya untuk menjadi pahlawan bagi keluarga dan anak-anak kita, supaya kelak anak-anak kita akan menjadi pahlawan terbaik bagi keluarga di masa depan :) 




Depok, 17 Januari 2017

#kamimenulis
#iipdepok
#ibusebagaipahlawan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yang perlu dilakukan sebelum memilih sekolah untuk anak

menjaga fitrah lewat berkisah

Bercerita sesuka hati