Sosok yang Dirindukan
Kata ayah, bagi kami (saya dan kakak saya) memiliki makna terpendam yang mungkin berbeda dari kebanyakan ayah pada umumnya. Kami tak mendapati sosok ayah sejak saya di bangku SMP. Ayah dan ibu kami berpisah, saat usia saya 13 tahun. Ada konflik internal yang membuat keputusan orang tua kami bulat untuk berpisah. Awalnya memang sangat berat, sangat aneh, sangat risih dengan pandangan orang lain terhadap keluarga kami. Namun ayah tetap ada di hati kami. Selalu ada, dan tak akan pernah terganti. Setelah ayah dan ibu kami berpisah, tak ada yang berbeda dari perlakuan ayah terhadap kami. Beliau tetap menjadi ayah kami yang selalu hadir saat kami perlukan. Saat beliau meninggal, kami baru tahu bahwa beliau, ternyata sakit keras selama ini. Ayah tidak pernah menceritakan sama sekali perihal sakitnya kepada kami.
Ayah tak pernah membuat kami khawatir karena sakitnya. Yah memang tidak banyak yang bisa saya ceritakan mengenai ayah kami. Karena tidak cukup banyak waktu yang kami lalui bersama ayah.
Sekarang saat masing-masing dari kami sudah berkeluarga, sosok ayah itu pelan-pelan kami temukan dari diri kakak laki-laki saya dan suami saya. Kakak laki-laki saya lah yang menjadi wali nikah menggantikan ayah. Dan saya ingat, betapa tak mudahnya menjalankan tugas tersebut. Tugas ayah menjadi wali bagi anak perempuannya. Jika ingat ini, pikiran saya pun melayang pada anak perempuan saya. Memang masih sangat jauh jika bicara soal ini bagi anak saya. Namun dengan menelisik pengalaman pribadi saya tentang ayah, banyak hal yang kemudian sangat ingin saya katakan kepada anak perempuan saya soal ayah.
"Nak, ibu adalah orang yang melahirkanmu, namun ayah adalah orang pertama yang sigap saat kau menangis, menjagamu kala kau terjaga...
Nak, ibu adalah orang yang selalu memelukmu di kala kau sedih dan bimbang, namun ayah adalah orang pertama yang melindungimu, berada di garda terdepan di kala kesulitan menghadangmu.....
Nak, ibu adalah orabg yang selalu kau cari saat kau menangis, namun ayah adalah tempatmu kembali jika kau sedang kecewa...
Nak, ucapkan terima kasih pada ayahmu, karena beliau lah pahlawan sejatimu."
Ayah dari anak perempuan saya, yang adalah suami saya. Saya merasakan haru luar biasa tiap kali anak perempuan saya memanggilnya "Yaah.." Ya, memang panggilan kepada ayahnya lebih dulu diucapkan anak saya saat awal-awal bisa mengucapkan kata-kata, dibandingkan kata "mama". Tiap pagi, tiap bangun tidur, tiap jatuh, tiap ada masalah, "ayah" adalah kata yang diucapkannya. Saya tidak keberatan dengan hal ini, karena saya sangat menyadari sosok ayahnya yang lembut, mengayomi, dan selalu menjadi pahlawan baginya.
Pada akhirnya, meskipun saya mengalami pengalaman 'kehilangan' sosok ayah, saya tidak ingin anak saya juga melewatkan waktu yang berharga bersama ayahnya. Biarlah anak perempuan saya ini jatuh cinta pada ayahnya, biarlah dia bermanja-manja pada ayahnya. Karena saat dia kehilangan nanti, dia tak akan menyesal karena sudah memiliki banyak kenangan bersama ayah. Karena ayahnya akan selalu jadi pahlawan baginya, hingga dia dewasa nanti.
Depok, 24 November 2017
*ditulis untuk memenuhi tugas Workshop KAMI Menulis IIP Depok
![]() |
| Ayah dan Silmiy |

Komentar
Posting Komentar