"Kartini" Milenial

Wisuda Matrikulasi Batch 3 IP Depok, sumber : dok pribadi

Ping..ping..ping..!
Notifikasi dari beberapa grup whatsapp muncul hampir bersamaan, menambah riuhnya smartphone yang juga sedang mengunduh dokumen yang berisi ringkasan salah satu kuliah whatsapp yang saya ikuti beberapa hari lalu. Dari grup kulwapp (kuliah whatsapp) ini dan itu, kalau dihitung-hitung entah ada berapa grup whatsapp yang lama belum dibuka karena belum sempat membaca isinya (belum menyempatkan diri sih tepatnya). Padahal waktu mau masuk grup kulwhappnya, secepat kilat untuk klik link undangan grupnya, khawatir kehabisan seat untuk turut menyimak materinya.
Jika boleh meminjam istilah yang saya dapat dari salah satu rekan di kelas Bunsay, mungkin ini yang namanya tsunami informasi.

Kalap informasi, tak ingin ketinggalan kulwhapp sana dan kulwhapp sini. Asal sudah masuk grupnya, hati jadi lega, namun otak tetap tak optimal bekerja, sudut pandang masih disitu-situ juga, mata hati tak juga terbuka. karena informasi lewat saja. Sekedar gabung kulwhapp tapi ilmu tak juga diserap.
Belum lagi suka follow sana follow sini akun parenting yang kadang belum tentu jelas sumbernya. Nyess. Tersindir habiisss mamak satu ini.

Kita patut bersyukur, sebagai ibu milenial yang hidup di era teknologi yang makin maju dan informasi yang makin gampang didapat. Tinggal tanya ke mbah google semuanya terjawab. Tapi bukan lantas segala informasi mentah-mentah diserap.

Inilah tantangan ibu milenial jaman sekarang. Justru karena segala informasi mudah didapat, ibu milenial harus pandai-pandai menyaring informasi yang tak jelas sumbernya dan tak valid isinya. Yang lebih penting lagi, informasi itu memang penting dan bermanfaat baginya. Tak semua informasi harus didapat, tak semua pengetahuan harus diserap. Usahakan hanya informasi dan pengetahuan yang relevan dengan kebutuhan kita dan keluarga.
Tak hanya informasi, belakangan banyak komunitas yang mulai muncul sebagai wadah perempuan masa kini. Wadah untuk berdiskusi, berbagi, mengembangkan diri, dan aktualisasi diri. Salah satunya seperti komunitas Ibu Profesional ini, iyaa, bersyukur sekali berada di lingkaran positif ini. Karena berada diantara orang-orang yang positif itu perlu untuk tetap waras dan bahagia.

Kebetulan sekali, bulan ini kita memperingati Hari Kartini. Satu momen yang mengingatkan kita akan jasa pahlawan perempuan yang memperjuangkan hak-hak perempuan untuk bisa mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya serta diberikan kesempatan yang sama dengan laki-laki dalam hal mengembangkan diri, yang akrab disebut sebagai emansipasi wanita. Jika melihat perkembangan ibu milenial di era sekarang, emansipasi wanita dapat dimaknai sangat dinamis. Mungkin setiap perempuan akan memiliki definisi sendiri sesuai dengan perannya. Namun apapun perannya, setiap perempuan terutama ibu, adalah ujung tombak yang mendidik anak-anaknya menjadi generasi yang menentukan rupa bangsa ini nanti. Oleh karena itu, sebagai calon ibu atau yang telah menjadi ibu, semuanya wajib berilmu.

Oya, ada yang menarik dari Ibu Kartini ini. Mengapa beliau menjadi pahlawan perempuan satu-satunya yang tanggal lahirnya dijadikan hari nasional? Padahal masih banyak pahlawan wanita lain yang juga berjuang demi bangsa ini. Mungkin kutipan berikut bisa menjawabnya,
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
Begitulah kata Pramoedya Ananda Toer. Hal yang tidak dilakukan oleh Cut Nyak Dien ataupun Keumala Hayati.
Maka menjadi pengingat untuk diri sendiri dan para perempuan lainnya, untuk selalu berkarya dan menggoreskan tinta ;)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yang perlu dilakukan sebelum memilih sekolah untuk anak

menjaga fitrah lewat berkisah

Bercerita sesuka hati