Toilet Training : Sebuah Perjalanan Menuju Fase Awal Thaharah

Bulan Agustus ini, genap tiga tahun sudah kami menjadi orang tua Silmiy. Yang artinya bahwa, telah tiga tahun kami bertumbuh bersama anak semata wayang kami, dan akan terus bertumbuh nanti, Insyaa Allah. Banyak sekali fase luar biasa yang dijalani baik bagi Silmiy maupun kami orang tuanya. Adalah Toilet Training, yang merupakan salah satu fase luar biasa dalam perjalanan kami sebagai orang tua. Melatih Silmiy untuk buang air besar dan buang air kecil di toilet, sesungguhnya adalah fase yang sangat penting pada usianya yang menjelang tiga tahun ini. Tunggu... melatih mungkin bukan kata yang tepat. Mungkin lebih tepat : menjaga kembali fitrah keimanan dan fitrah seksualitas untuk menyukai kesucian dan kebersihan tubuh. Karena fitrah anak untuk menyukai kesucian dan kebersihan sejak bayi hingga menjelang tiga tahun telah terlanggar, maka kami merasa fase Toilet Training ini menjadi penting bagi Silmiy. 


Proses Toilet Training yang selalu Tertunda

Proses Toilet Training Silmiy mungkin termasuk yang agak terlambat, yaitu lulus TT pada usianya yang ke 34 bulan. Sejak usia 22 bulan sebenarnya kami sudah mulai untuk melatihnya buang air besar dan buang air kecil di toilet. Namun saat itu memang secara mental kami sama-sama belum siap. Belum siap dengan kerepotan-kerepotan yang akan ditimbulkan saat proses latihan. Astaghfirullah, padahal kami justru akan memperpanjang rasa nyamannya terhadap najis, hiks ;( 
Lantas kami mencoba memulainya lagi saat usia 30 bulan. Namun, qadarullah Silmiy terkena diare dan kondisi tubuhnya kurang fit selama berhari-hari. Lagi-lagi, sepertinya perlu lebih dari sekedar kata 'ikhlas' untuk melatihnya bersiap lepas dari rasa nyaman mengenakan pospak. Ikhlas dan siap dengan segala kerepotan dan kelelahan yang ditimbulkan dari proses Toilet Training. Juga ikhlas untuk stay di rumah dalam waktu yang cukup lama. Demi menjaga kekonsistenan agar tak perlu memakaikan pospak saat keluar rumah. Mengapa tak pergi keluar rumah dulu menjadi faktor yang penting?
Pada awal-awal kami memulai proses TT kembali (saat usia 34 bulan), tantangan datang saat kami harus bepergian dalam waktu yang lama. Jadi ceritanya karena saya sedang libur semester (sebagai mahasiswi), wajarlah jika memanfaatkan waktu libur yang cukup lama untuk mudik ke kampung halaman. Dan tentu saja Silmiy tak mungkin lepas dari saya, mamahnya. Di rumah neneknya, saya tetap berusaha konsisten untuk melatih Silmiy BAB dan BAK di toilet. Alhamdulillah cukup berhasil, banyak perkembangan positif pada proses TT Silmiy kali ini. Namun apa yang terjadi saat kami pulang ke rumah kami di Depok? 
Karena khawatir akan ngompol di perjalanan, Silmiy kami pakaikan pospak saat perjalanan dari rumah nenek ke rumah Depok, yang lamanya lebih dari 10 jam ditambah kami mampir dulu di satu kota untuk refreshing selama 2 hari (ini sih ga mampir yaa namanya ;p). Begitu sampai di rumah,  yang terjadi adalah : Silmiy kembali nyaman dengan pospaknya. Semua kembali ke nol :( 
Saat dipakaikan celana dalam biasa berkali-kali dia terlewat ngompol tanpa bilang ke mamahnya.  Dan saat selesai mandi, Silmiy lebih memilih pakai pospak dibanding pakai celana dalam ;(
Sia-sia lah perkembangan yang sudah dicapai selama di rumah nenek. Masyaa Allah.


Ikhlas, Memulai dari Awal

Besoknya, saya bertekad untuk memulai lagi proses TT Silmiy, mengikhlaskan diri untuk tak keluar kemana-mana dulu, dan memasrahkan diri kepada Yang Kuasa atas segala proses TT ini. 
Apakah setelahnya proses TT ini berjalan mulus? Tidak. Masih saja ada friksi-friksi dalam diri yang membuat saya kalap, emosi saat Silmiy ngompol, malas bilang kalau kebelet pipis. Ada rasa kesal. Kesal yang mendalam karena harus mengulang proses TT ini. Maka saya segera menyadari bahwa saya belum ikhlas untuk memulai lagi proses TT ini dari awal. Masyaa Allah, jika dibilang proses TT ini penuh drama, memang tidak salah. 
Saya kembali pasrahkan segala proses ini kepada Allah SWT. Benar adanya bahwa kita harus selalu libatkan Allah dalam setiap fase pengasuhan. Termasuk fase TT ini yang awalnya saya anggap remeh, namun ternyata urgent sekali karena berkaitan dengan menjaga fitrah imannya terhadap kebersihan dan juga berkaitan dengan fitrah seksualitasnya. Berkaitan dengan fitrah keimanan karena dengan adanya najis yang melekat di badannya, ibadahnya terhadap Allah menjadi tidak sah. Maka dari itu, kami menyebutnya fase awal dari thaharah (bersuci). 
Namun mengapa berkaitan dengan fitrah seksualitas juga? Karena Toilet Training merupakan tahap awal untuk mengajarkan pendidikan seksualitas, salah satunya yaitu memelihara kebersihan bagian tubuh dan alat kelamin. Dengan mengajarkan anak memelihara kebersihan bagian tubuh dan alat kelamin, secara tidak langsung anak jadi bertanggung jawab terhadap tubuhnya sendiri, sembari memberikan pemahaman bahwa My Body Belongs to Allah. Tanggung jawab yang dilakukan terhadap tubuhnya sendiri dilakukan semata-mata karena Allah. Oleh karena itu, tahapan TT ini perlu diperjuangkan dengan sungguh-sungguh.


Ikhlas, Konsisten, Percaya

Saya pribadi menganggap ikhlas dan konsisten adalah dua prinsip mendasar yang perlu kami pegang saat menjalankan proses TT ini. Ikhlas berkaitan dengan memasrahkan semuanya kepada Allah. Sedangkan konsisten berkaitan dengan resisten atau tidaknya kami menjalankan proses ini. 
Selain dua prinsip yang saya pegang ini, memiliki rasa percaya kepada anak adalah hal yang juga menjadi prinsip kami. Saat beberapa hari lamanya stay di rumah dan tak keluar sama sekali, suatu ketika saya mencoba mengajak Silmiy keluar rumah tanpa pakai pospak (tapi tetap pakai celana dalam biasa). Tentu saja kekhawatiran berkecamuk di hati. Namun menanamkan kepercayaan itu lebih penting dibanding kekhawatiran itu sendiri. Sebelum berangkat saya briefing Silmiy dulu, "Silmiy nanti kalau kebelet pipis langsung bilang yaa. Mamah percaya Silmiy bisa."
Daripada sekedar bilang, "Jangan sampai ngompol ya..." 
Akan lebih baik jika anak diberikan kepercayaan untuk keluar rumah tanpa pospak. Dengan rasa percaya yang ditunjukkan kepada anak, ia akan lebih bertanggung jawab dalam membawa dirinya dan lebih berhati-hati ketika merasa benar-benar ingin pipis.


Motivasi menjalankan Toilet Training

Ada cerita menarik terkait bagaimana akhirnya Silmiy menyetujui untuk menjalankan proses Toilet Training nya. Menyepakati proses TT di awal harus dilakukan, supaya anak tidak merasa terpaksa dan proses TT berjalan dengan lancar. Awalnya ada reward yang ditawarkan oleh ayahnya, berupa sepeda baru. Terlihat tak cukup relevan dengan Toilet Training yang dijalankannya, ayahnya berusaha mengaitkan antara sepeda dan TT. Ini penting, karena semua reward dan punishment yang diberikan ke anak sebaiknya adalah sesuatu yang relevan dan mengandung nilai edukasi bagi anak. 
"Nanti kalo Silmiy sudah ga pake pampers, uang yang buat beli pampers bisa buat beli sepeda. Gimana Silmiy mau sepeda?" ujar ayahnya yang kemudian diikuti dengan anggukan antusias dari si cantik. 
Maka setiap kali motivasinya luntur saat menjalankan proses TT, reward ini bisa jadi pengingat baginya dan membuatnya bersemangat kembali. 
Di lain kesempatan, ada kalanya memotivasi dengan value keimanan. Misalnya saat ia ingin ikut sholat ke masjid bersama ayahnya.
"Silmiy tau tidak, jika ingin sholat, Silmiy harus bersih, harus suci, bebas dari najis. Itu artinya Silmiy harus pipis dan pup nya di toilet, bukan di pampers. Allah senang dengan anak yang bersih sayang", jelas mamah yang diikuti dengan kernyitan di dahinya. Mungkin ia masih belum cukup paham maknanya, namun dari isyarat wajahnya ia paham bahwa Allah senang jika ia mau pipis dan pup di toilet, maka ia bersemangat lagi menjalankan proses TT nya. 
Ada satu hal lagi yang ternyata menjadi puncak dari motivasi Silmiy menjalani TT. Ia senang dianggap sebagai kakak ! 
"Mah, Silmiy mau pake pampers aja ya?" pintanya.
"Memangnya Silmiy adik bayi? Kan yang pake pampers itu adik bayi. Kalo Silmiy sudah jadi kakak, pipis dan pup nya kan di toilet bukan di pampers. Jadi Silmiy mau jadi adik bayi lagi atau jadi kakak?" tanya mamah menghujam langsung. 
Tanpa pikir panjang si cantik merespon, "Jadi kakak Silmiy dong mamah".
Kabar yang sungguh baik. Cukup baik apalagi jika nanti ia akan punya adik (mungkin belum sekarang). Kelak ia akan cukup siap jika adiknya hadir suatu saat nanti ;)


Mengakali supaya Proses Toilet Training Tak Bikin Stress Mamah

Awal-awal menjalankan proses TT, tentu saja ada rasa tertekan yang dirasakan karena kerepotan dan kelelahan yang dirasakan. Saya pernah sampai mencuci tujuh celana dalam dan tujuh kali juga mengepel lantai plus dua kali menjemur kasur dalam satu hari. Sudah berusaha ikhlas, namun yang namanya lelah tak dapat dibohongi. Harus ada strategi supaya mamah tak merasa terlalu lelah.
  • Sedia training pants minimal 2-3 potong. Training pants ini agak berbeda dengan celana dalam biasa. Lapisannya tebal dan mampu sedikit menahan supaya air pipis tak sampai jatuh berceceran jika sedang ngompol, namun tetap membuat anak merasa tak nyaman saat pipis karena lapisannya tak bisa menyerap sempurna seperti pampers. Training pants ini cukup membantu saat mamah merasa sangat lelah, ingin istirahat sekejap dari TT, atau jika sedang keluar rumah dan sedang tidur. Jika ngompol, celananya tetap akan basah, namun tidak sampai berceceran kemana-mana, sehingga mamah tak perlu capek-capek mengepel bekas ompolnya.
  • Sedia perlak/alas ompol. Terutama saat tidur, jangan lupa letakkan alas ompol/perlak di bawah pantatnya. Lumayan membantu meskipun saat ngompol celana basah, namun setidaknya kasur tak ikut basah kena ompol. Namun jangan paksakan memakai alas jika anak merasa tak nyaman, karena bisa berdampak pada motivasinya untuk melaksanakan TT (merasa tidak dipercaya untuk tidak ngompol, dsb)
  • Tawari untuk pergi ke toilet setiap 1-2 jam setelah minum banyak. Bisa juga secara teratur mentatur anak di toilet. Namun saya pribadi kurang sreg dengan cara itu. Saya lebih prefer membiarkan anak secara alami merasakan kebelet pipis/pup baru kemudian pergi ke toilet. Ini cukup membantu mamah tak terlalu lelah mengajak anak pergi ke toilet terlalu sering.
  • Ajak anak merasakan pengalaman pipis atau pup yang menyenangkan. Daripada sekedar mengajaknya duduk/jongkok di toilet dan menungguinya. Ajak untuk merasakan pengalaman yang menyenangkan seperti misalnya,"Plung...plung. Kalau Silmiy pup keluar bunyi plung plung yaa. Itu artinya pupnya sudah keluar dari anus dan masuk lubang kakus. Cuur... nah, kalau pipis bunyinya cuur. Air pipisnya sudah mengalir dari saluran kencing Silmiy. Gitu ya ..." *(ya, saya menyebutkan nama-nama alat kelamin sesuai nama ilmiahnya. Meskipun ia belum paham, ini bisa jadi pembelajaran baginya supaya tak kagok belajar sex edu nantinya). Jika anak sudah merasa senang tentu mamah juga tak terlalu lelah dan stress dengan proses TT. **Oya, selain itu dapat juga memakai potty training untuk menunjukkan pengalaman buang air yang menyenangkan, meskipun pada akhirnya cuma dipakai mainan kuda-kudaan ;p
  • Ajak anak membaca buku atau menonton video yang berkaitan dengan TT. Waktu paling baik membacakan buku untuk anak adalah menjelang tidur, karena alam bawah sadarnya akan mengingat dengan baik apa yang sudah diterimanya sebelum tidur. Dengan begini mamah tidak perlu susah-susah juga untuk memberikan gambaran bagaimana proses TT itu.
  • Apresiasi bersama dapat mengurangi efek lelah mamah. Setelah seharian menjalani proses TT yang melelahkan tak ada salahnya mengapresiasi diri sendiri dan anak agar makin termotivasi.
  • Jangan lupa setelah semua kerepotan yang membuat lelah dan stress, pasrahkan semua pada Allah SWT.

Alhamdulillah, kini Silmiy sudah benar-benar bebas dari pospak. Oya, menjauhkannya dari pospak juga sangat penting, karena saat ia melihat bahwa mamah masih menyimpan pospak, bisa jadi akan timbul keinginannya untuk memakai pospak. Saat awal-awal, mamah masih memakaikan pospak saat tidur malam. Lalu seminggu setelahnya Silmiy diajak untuk ke toilet sebelum tidur. Alhamdulillah, sekarang sudah benar-benar lepas dari pospak, bahkan jika tidak ke toilet sebelum tidur pun ia tidak mengompol. Asal paginya ketika bangun harus langsung diajak ke toilet. Alhamdulillah, pencapaian yang paling berkesan bagi kami di usia Silmiy yang menginjak tiga tahun ini adalah kemampuan Silmiy mengelola rasa ingin pipis dan pup sehingga lepas dari pospak. Bersyukur sekali bahwa pada akhirnya, ia akan siap untuk memulai beribadah kepada Allah SWT yang dimulai dengan thaharah.
Maka dari banyak cerita seputar Toilet Training, yang ingin kami sampaikan adalah motivasi di balik Toilet Training bagi kami adalah betapa kami menyadari bahwa Toilet Training adalah fase awal dimana anak bersiap untuk memasuki tahap awal beribadah yaitu thaharah, maka segalanya harus dilakukan dengan bersegera dan bersungguh-sungguh. 

Semoga segala catatan ini dapat bermanfaat bagi yang sedang atau akan memulai proses Toilet Training bagi anak. Ada catatan hasil kulwap TT bersama Teh Fufu (penulis buku Belajar Adab Toilet) yang bisa juga dipelajari. Silakan japri bagi yang menginginkan dokumennya ;)


*pospak = popok sekali pakai = pampers (salah satu merk pospak yang kami pakai)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yang perlu dilakukan sebelum memilih sekolah untuk anak

menjaga fitrah lewat berkisah

Bercerita sesuka hati