Bocah bayi yang beranjak dewasa




Tak seperti biasanya, malam ini si bocah lamaa sekali tak juga beranjak tidur. Ada saja yang dilakukannya. Entah nonton video, ngemil choco crunch, sibuk sama gitar mainannya, nyanyi-nyanyi, iseng sama buku mamah, sampai berkali-kali mamah tanya, "mau telpon ayah?"
Si bocahnya mengangguk. Mamah sebenarnya ragu karena di tempat ayah masih jam 5 pagi, belum masuk waktu subuh, pasti ayah belum bangun. Tapi mamah tetap menghubungi ayah via video call. Biar si bocah tak kecewa. Ketika panggilan diterima, tampak ayah masih kucel dan belum melek sepenuhnya. Oh my dear, so sorry, but your daughter just wanna see you... "ayah masih ngantuk sayang, belum waktunya bangun, kasian ya, yuk nanti aja yaa telp lagi, dadah ayah..."
Klik. Video call terputus. Si bocah meraung-raung sedih. Tapi apa boleh buat. Ayah kelihatannya masih lelah, tak mungkin dipaksakan juga untuk menerima telpon lagi. Si bocah akhirnya diam. Namun belum juga nampak mengantuk atau menunjukkan tanda-tanda beranjak tidur. Padahal perut mamah sudah keroncongan, minta diisi. Hanya jika si bocah bobo, mamah bisa melakukan segala aktivitas pribadi, termasuk makan.
Sudah hampir jam 9 malam, namun si bocah tak jua menunjukkan tanda-tanda mengantuk, malah makin menjadi-jadi rewelnya. Mamah pun hilang kesabaran. Dengan perut yang masih lapar, mencoba menjelaskan ke si bocah, kalau mamah mau makan sebentar (dengan nada sedikit membentak). Dan tak lama mamah jadi sangat menyesal melakukan itu. Emosi sesaat yang tak bisa ditahan. Mamah melakukan tindakan yang sama sekali tak mencerminkan orang tua berakhlak.
Astaghfirullah. Betapa kecil nyali mamah untuk menahan lapar dan amarah sebentar saja hingga si kecil tertidur. Ya Allah, ampuni hamba yang sangat hina, dan tak berdaya ini. Hiks.
Mamah coba menenangkan diri dengan pergi ke dapur. Memeriksa wadah nasi dan...tara, nasi habis. Mamah lupa masak nasi. Dan sore tadi tak sempat beli makan, karena keburu hujan. Lengkaplah sudah. Mamah coba cari opsi lain dengan memasak mie instan (entah ini yang ke berapa kali saat ayah tak di rumah). Dengan perasaan tak menentu, bercampur aduk jadi satu, mamah pun tak kuasa, membanting panci ke lantai. Huwaa...dan ini benar-benar jadi penyesalan yang kedua kalinya. Karena ternyata si bocah mendengarnya. Kemudian bergegas mencari mamah ke dapur. Mamah masih setengah putus asa, ketika melihat anak kecil yang berjalan pelan takut-takut mendekatinya. Demi melihat mukanya yang polos dan menyimpan perhatian ke mamahnya tersayang, mamah pun menyongsong bocah bayi 19 bulan ini kemudian memeluknya dengan erat sambil berkata "maafkan mamah sayang....maafkan mamah yang tak sanggup menahan emosi, maafkan mamah yang lemah ini nak..."
Si bocah yang biasanya tak suka dipeluk, hanya mengangguk pelan dan terdiam, sembari kemudian balas memeluk mamah (ini adegan dramatis bangett, hiks 🤧😢)
Cukup lama kami berpelukan di dapur. Sampai akhirnya si bocah melepas tangannya dan tersenyum manis ke arah mamah. Ohh, mamah meleleh. Anak gadis mamah sudah beranjak dewasa. Anak bayi ini lebih dewasa daripada mamahnya. Lebih mengayomi mamah yang sedang marah, alih-alih ikutan tantrum, ia malah bersikap tenang saat mamah emosional. Ya Allah, terima kasih diberikan anak manis yang benar-benar pandai menjaga hati kami. Mampukan kami untuk menjaga amanah-Mu ya Allah, mampukan kami untuk mengoptimalkan fitrahnya dan senantiasa memperbaiki diri demi menjadi teladannya, ya Rabb. Jagalah ia, jagalah kami. Hanya Engkau sebaik-baik penjaga.

Depok, 6 Maret 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yang perlu dilakukan sebelum memilih sekolah untuk anak

menjaga fitrah lewat berkisah

Bercerita sesuka hati