Sekedar Kontemplasi
Saat kamu punya mimpi untuk jadi "stay at home mom" tapi kamu sudah telanjur bekerja di ranah publik, apa itu salah?
Tentu, pertanyaan ini sedikit banyak juga menjadi kegalauan tiap ibu yang bekerja di ranah publik dan meninggalkan anaknya di rumah. Saya salah satunya. Saya bahkan termasuk yang merancang niat untuk kembali ke rumah pelan-pelan suatu saat nanti jika waktunya tepat. Namun juga galau, jikalau nanti memutuskan untuk stay di rumah, apakah bisa menjalankan peran dengan lebih optimal. Ini juga yang pernah jadi pertanyaan saat coba mendiskusikan hal ini dengan suami. "Yakin, jika nanti memutuskan untuk di rumah, bisa lebih optimal?"
Mohon maaf sebelumnya, ini bukan soal rezeki atau penghasilan. Jujur saya sendiri sempat berhitung soal itu. Tapi akhirnya kami pun percaya sepenuhnya bahwa rezeki sudah ada yang mengatur, tidak akan tertukar. Seperti kata bu Septi, "Rezeki itu pasti, kemuliaan yang harus dicari".
Saya selalu kembali galau tiap di forum grup whatsapp/media sosial sedang membahas topik ibu bekerja di ranah publik *meskipun bukan bahasan yang menyudutkan ibu bekerja di ranah publik. Suatu ketika pernah membahas cerita bagaimana salah seorang ibu yang awalnya bekerja di ranah publik kemudian memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaannya dan fokus mengurus anak serta suami di rumah. Hampir semua mengapresiasi, termasuk saya. Saya pun sangat kagum dengan kebesaran dan keteguhan hati, serta salut dengan keputusan besar yang dibuat oleh si ibu. Namun saya juga tertohok dengan ceritanya. How about me?
Kemudian saya memberanikan diri bertanya langsung ke salah satu ibu yang saat itu bercerita kisahnya untuk fokus mengurus anak dan suami, di salah satu forum grup whatsapp yang saya ikuti. Saya mencoba menjelaskan kondisi saya yang ternyata jauh berbeda dengannya. Si ibu yang saya maksud ini mengalami sedikit tekanan sebelum ia mengundurkan diri dari pekerjaannya. Kurang lebih suami dan ibu mertuanya kurang ridho dengan aktivitasnya bekerja di ranah publik. Maka, jelas yang terjadi adalah si ibu tidak bisa tenang bekerja karena ada yang tidak ridho dengan apa yang dikerjakannya. Dan selanjutnya, keputusan yang diambilnya untuk mengundurkan diri memang sangat logis. Meskipun si ibu sempat menyatakan bimbang karena ia telah studi lanjut dengan bantuan biaya dari kantor dan juga atasannya pun sangat mempertanyakan keputusannya. Kemudian si ibu ini mencoba bertanya pada saya, "apakah ada kondisi yang mengharuskan mbak untuk mengundurkan diri?"
"Sebenarnya, seluruh keluarga sangat support jika saya bekerja mbak termasuk suami saya, namun kadang saya galau. Saya kan seorang ibu dari seorang anak yang memerlukan perhatian dari orang tuanya. Saya merasa bersalah jika tak memenuhi kewajiban sebagai ibu secara optimal." Begitu jawab saya.
"Sebenarnya, seluruh keluarga sangat support jika saya bekerja mbak termasuk suami saya, namun kadang saya galau. Saya kan seorang ibu dari seorang anak yang memerlukan perhatian dari orang tuanya. Saya merasa bersalah jika tak memenuhi kewajiban sebagai ibu secara optimal." Begitu jawab saya.
"Mbak, optimal atau tidaknya itu berangkat dari keridhoan keluarga dan suami. Jika keluarga mbak support mbak bekerja di ranah publik dengan tetap melaksanakan kewajiban sebagai ibu, mengapa tidak? Jangan karena melihat saya mengundurkan diri, kemudian membuat mbak menjadi galau. Asal supporting system nya bagus, saya pun mendukung mbak untuk tetap berkarya di luar. Hayuk atuh tetap bekerja, buktikan bahwa meskipun bekerja di luar, mbak tetap optimal mengurus urusan domestik di rumah ;)"
Kurang lebih seperti itulah percakapan singkat saya dengan si ibu yang mempunyai kisah menakjubkan untuk 'kembali ke rumah'. Statement inilah yang kemudian saya jadikan salah satu motivasi untuk maju lagi ke depan, tanpa ragu.
Sembari menyemangati diri sendiri, saya pun merenung lagi. Mempertanyakan, mengapa saya diberikan peran yang sedemikian rupa, hadir di tengah-tengah lingkungan kerja yang kondusif, diberikan kelonggaran oleh rekan kerja dan atasan untuk tetap fokus pada keluarga *yang artinya saya harus berani mengajukan kompensasi yang memungkinkan mundur dari beberapa kegiatan di kantor untuk fokus ke rumah. Yang meskipun begitu, alhamdulillah nya, tetap 'merasa' dipercaya untuk mengelola berbagai tugas dari atasan meskipun terbatas waktu dan konsentrasi. Dengan berbagai peran ini, yang patut disyukuri, membuat saya merasa lebih baik jika mengoptimalkan diri dengan kondisi yang sekarang, daripada hanya bergalau ria dengan peran ibu.
Ada satu hal lagi yang membuat saya terkadang merasa sangat bersalah. Menitipkan anak ke daycare. Beberapa orang menganggap saya orang tua yang tega membiarkan anak diasuh di penitipan. Padahal menurut saya justru akan lebih mudah mengkondisikan dan mengkomunikasikan perkembangan anak dengan pengasuh yang sudah berpengalaman dan memahami tumbuh kembang anak.
Nah, sebetulnya sempat muncul banyak kekhawatiran ketika saya menitipkan anak di daycare. Misalnya soal fase egosentris nya yang nantinya tak maksimal karena dengan usianya yang masih sangat muda, mau tak mau harus menjalani fase sosialisasi dengan teman-temannya di daycare. Atau rasa bersalah saat si kecil mungkin jatuh, sedih, menangis, karena tak bisa hadir langsung untuk memeluknya 😥
Oleh karena itu, tak ada cara lain lagi selain pasrah kepada Allah yang Maha Menjaga, meminta penjagaan anak kita kepada Allah SWT. Karena Allah lah sebaik-baik penjaga.
Kendati demikian, saya masih bertekad untuk mempersiapkan berbagai kemungkinan kalaupun nanti ada kesempatan untuk 'kembali' ke rumah. Kesempatan itu misalnya bisa berupa, ikut suami pindah ke daerah lain, atau mengikuti suami studi ke luar negeri, atau kemungkinan lainnya yang bisa dijadikan alasan kuat untuk betul-betul kembali ke rumah. Insyaa Allah kami kembalikan semua ke Allah.
Sekarang, saya pribadi sedang fokus mencari strategi bagaimana caranya membersamai si bocah dengan waktu yang lebih fleksibel. Bismillah, semoga Allah mudahkan. Semoga Allah meridhoi langkah kami. Aamiin.


Komentar
Posting Komentar