Malam Pertama


"Barakallahu lakuma wa baraka 'alaikuma wa jama'a bainakuma fii khoir.
Semoga Allah menganugerahkan barokah kepadamu, semoga Allah juga menganugerahkan barokah atasmu, dan semoga Dia menghimpun kalian berdua dalam kebaikan."
Masih terngiang doa-doa nan mengalir indah untuk mereka berdua malam itu. Doa yang begitu agung, begitu dalam, dan memancarkan kebahagiaan setelah perhelatan pernikahan mereka usai digelar.
Ini betul-betul malam pertama bagi Sarah dan Firman. Setelah malam-malam sebelumnya mereka saling mendoa dan berpasrah satu sama lain dengan ribuan kilometer jarak diantara keduanya. Lantas malam ini, tak terbayangkan rasanya. Tiba-tiba ada seseorang yang nyata di depan mata selalu ada dalam doa-doa mereka satu sama lain. Akankah malam itu akan menjadi malam pertama yang begitu syahdu seperti cerita-cerita pengantin baru pada umumnya?

"Mari kita sholat berjamaah Dek." Ujar Firman canggung, meminta Sarah yang malam itu telah resmi menjadi istrinya untuk bergegas menjadi makmum sholatnya. Sarah pun mengangguk dan segera mengambil air wudhu kemudian mengenakan mukenanya.
Perasaan mereka sebetulnya masih berkecamuk. Meyakinkan diri bahwa masing-masing benar-benar siap menghadapi malam pertamanya.

Selepas sholat berjamaah, keduanya masih juga canggung untuk berinteraksi satu sama lain. Mereka memang belum lama saling kenal. Hanya satu purnama berselang setelah mereka melakukan ta'aruf. Itupun dengan jumlah tatap muka yang sangat minim saat mempersiapkan pernikahan mereka, karena lokasi mereka berdua yang juga terpisah ribuan kilometer.

Sarah mencium takzim tangan suaminya selepas doa terakhir yang diaminkannya. Firman pun menyambut mesra dengan merengkuh kepala Sarah lalu mengecup kening dan ubun-ubunnya dengan lembut. Sejurus kemudian tangannya menyentuh ubun-ubun Sarah dan mengalirlah doa tulus untuk istrinya yang mulai membuatnya jatuh cinta.

Hati Sarah terasa hangat dengan perlakuan lembut suaminya. Ia tersenyum, lalu melepas mukenanya dan melipatnya dengan rapi lalu meletakkannya di atas kursi. Kemudian dengan penuh keraguan ia memulai untuk melepas peniti yang membuat hijabnya masih rapat hingga detik itu.

"Boleh Mas bantu lepaskan hijabnya?" Firman yang beberapa detik terdiam, mendadak menawarkan diri untuk turut membantu melepaskan hijab istrinya.
"Boleh Mas." Jawab Sarah singkat dengan menyembulkan senyumnya yang lagi-lagi membuat hati Firman terasa hangat.

Beberapa menit berlalu dengan aktivitas melepaskan hijab pengantin yang dikenakan oleh Sarah. Nampaknya kecanggungan diantara mereka sedikit terselamatkan oleh aktivitas ini. Namun lagi-lagi sejurus kemudian tercipta kebekuan diantara mereka.

Mereka terdiam duduk bersandingan di pinggir kasur pengantin yang dihiasi bunga melati nan harum dan cantik. Firman menyentuh dan menggenggam tangan istrinya dengan lembut. Istrinya tersenyum dan menyambut sentuhan itu. Sentuhan lembut itu juga terasa sampai hati Sarah. Mereka berpandangan syahdu mencoba merasakan bahagianya memiliki satu sama lain. Wajah Sarah yang telah bersih dari riasan terlihat bercahaya dan memancarkan kecantikan yang alami. Firman makin terpesona, tak kuasa menyentuh wajah ayu itu.
Namun tiba-tiba, sepersekian detik tangan Sarah mencoba melepas tangan Firman yang telah dengan lembut menyentuh wajahnya.
"Maaf Mas, Sarah mau ke toilet dulu ya ...." Ujarnya tiba-tiba membuat Firman kembali merasa canggung dan salah tingkah. 
"Oh, iya Sayang." Firman berusaha meredakan kembali rasa canggungnya dengan melontarkan kata sayang. Namun nampaknya itu justru membuat Sarah makin salah tingkah. Tanpa berkata apa-apa, Sarah langsung bangkit keluar kamar dan berlari menuju toilet. Firman tak paham apa yang sebenarnya terjadi dengan istrinya. 
"Adakah yang salah dengan sikapku?" gumamnya heran. Ia masih berpikir keras apa yang terjadi dengan Sarah istrinya.

Di dalam toilet, Sarah membasuh mukanya dan menghadapi cermin di depannya. Wajah di depannya penuh keraguan menghadapi lelaki yang baru saja sah menjadi pendamping hidupnya. Namun ia belum mampu untuk berbuat lebih jauh. Ia perlu waktu. Ia memang punya ketakutan terhadap apa yang disebut-sebut orang sebagai 'malam pertama'.
Entah mengapa terngiang-ngiang selalu obrolan teman-temannya yang sudah menikah tentang malam pertama. Ada yang grogi dan akhirnya merasa gagal. Ada yang akhirnya kecewa karena tak sesuai dengan harapan. Namun ada juga yang sangat lancar melewati malam pertama karena persiapan yang matang. Entahlah ia termasuk yang mana. Yang jelas hingga detik ini ia masih merasa belum siap. Ia nampaknya memerlukan fase lain untuk lebih rileks dan ingin semuanya mengalir secara alami.

"Bisakah kita mengobrol santai dulu Mas?" suara Sarah yang tiba-tiba masuk ke kamar memecah keheningan. Sarah nampak lugas namun sebenarnya ragu-ragu untuk mengutarakan apa yang menjadi maksud keinginannya.
"Tentu saja." Jawab Firman mengiyakan apa yang diutarakan istrinya. Ia pun sepakat dengan apa yang diinginkan istrinya. Bersantai dulu dan tak terburu-buru. Semuanya akan ada masanya.
Ia pun berharap ingin lebih banyak mengetahui tentang istrinya di malam pertama mereka sah sebagai suami istri.

"Sarah ingin tahu masa kecil Mas Firman. Coba ceritakan Mas. Dulu bandel nggak sih waktu kecil? Hihi." Canda Sarah memulai obrolan dengan satu topik khusus yang dimintanya.
"Menurut Dek Sarah gimana? Kira-kira Mas orangnya bandel nggak?" Firman pun balas menanyakan pertanyaan yang dilempar oleh istrinya.

Obrolan panjang pun mengalir diantara mereka. Tak ada rasa canggung lagi. Keakraban makin terasa diantara keduanya. Sarah bahagia, meskipun sempat khawatir dengan malam pertamanya. Firman pun akhirnya paham apa yang terjadi dengan istrinya. Mereka menghabiskan malam pertama yang menyenangkan. Bercerita dan bercengkrama, sambil menggali cerita-cerita masa kecil masing-masing. Kemudian mereka pun makin larut dan larut dalam malam pertama yang syahdu. 


"Saat mentari pertama di kehidupan baru kita terbenam,
kutemukan degub yang sama di dadamu,
dengan debar, yang demi Allah, ini pertama bagiku ..."
(Salim A Fillah)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yang perlu dilakukan sebelum memilih sekolah untuk anak

menjaga fitrah lewat berkisah

Bercerita sesuka hati