Menjaring Memori Masa Kecil dari Ujung Negeri
![]() |
| Sumber : Dokumen pribadi |
"Belajar di waktu kecil seperti lukisan di atas batu”.
Begitulah sepenggal kata penuh makna yang disebutkan bersumber dari hadis riwayat Al-Baihaqi dan Ath-Thabrani. Makna dari hadis tersebut kurang lebih, bahwa aktivitas bermain (sambil belajar) di masa kecil adalah hal yang abadi, akan terus dikenang dalam memori jangka panjang hingga dewasa. Oleh karena itu, sudah sewajarnya jika masa kecil dihabiskan dengan bermain. Utamanya permainan yang bersih, hiburan yang dibolehkan, serta persiapan jasmani dan
olahraga, yang termasuk keharusan bagi setiap Muslim. Maka keharusan itu
terlebih dapat dilakukan bagi Muslim ketika ia masih dalam masa kanak-kanak.
Tak berbeda dengan masa kecilku dahulu kala. Akupun menikmati peran kanak-kanakku dulu sebagaimana mestinya. Menghabiskan masa kanak-kanak dengan berbagai permainan 'tanpa gadget'. Tak peduli dengan peluh keringat dan terik matahari yang menghujaniku dan teman-teman bermainku kala itu. Dari permainan menguras energi seperti, gobak sodor, lompat tali, pati lele, beteng, hingga permainan roleplay ala-ala anak perempuan seperti, main rumah-rumahan, masak-masakan, belanja-belanjaan, hingga sekolah-sekolahan. Hihi.
Belasan tahun berlalu. Akupun tumbuh dan perlahan melupakan permainan-permainan itu. Namun ada satu titik waktu, ketika jiwaku dipenuhi kembali dengan kerinduan akan kenangan masa kecil itu. Dan aku benar-benar menemukannya di satu tempat yang akan selalu kurindu sepanjang hidupku. Kampung halaman keduaku di ujung negeri. Desa Nanga Lauk di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Karena berbatasan langsung dengan salah satu kota di negeri jiran, maka kami menyebutnya 'ujung negeri'.
Kala itu, hari keempat ku berada di desa yang letaknya berada di tepi anak sungai Kapuas ini. Empat hari itu
pula sudah cukup untuk melabeli desa ini sebagai desa Nanga Lauk dengan 'kecerdasan kinestetik'. Pasalnya, memang seluruh penduduk desa ini
memiliki kemampuan kinestetik yang di atas rata-rata orang pada umumnya.
Alhasil, ketika aku tiba di desa Nanga Lauk
dengan sampan, barang-barang di sampan, yaitu tas carrier enam puluh liter, tas jinjing
superbesar, dan beberapa tas backpack yang kubawa, mampu mereka angkut
sendiri dalam 2 kali angkut saja (padahal aku sendiri mungkin harus
bolak-balik lebih dari 4 kali), dengan rute dari lanting
(terminal air) yang ada di pinggir sungai sampai dengan rumah salah
satu warga, kira-kira kurang dari 100 meter jaraknya.
Sungai yang berliku, tanah pinggir sungai dengan pasir putihnya, hutan
rimba yang menyapa di sepanjang sungai yang kami lewati, kayu-kayu dan
batu-batu yang begitu saja ada di tengah derasnya aliran air sungai,
rumah panggung di tepi kanan-kiri sungai, serta ragam bahasa melayu dan dayak yang beraneka macam.
Itu semua merupakan 'kearifan lokal' yang mungkin sudah biasa terlihat
ketika berkunjung ke daerah pelosok di manapun di Indonesia.
Tetapi 'kearifan lokal' yang satu ini, mungkin sering kita temui, namun
jarang kita sadari, yaitu 'kecerdasan kinestetik' masyarakat desa
yang luar biasa. Bukan hanya orang tua dan pemudanya, namun juga
anak-anak kecilnya. Bukan hanya pemuda ataupun bapak-bapaknya, namun
juga para gadis dan ibu-ibunya. Bukan hanya dalam bekerja mencari ikan
dan ngarit (berkebun), namun juga dalam membantu sesama warga dan
pendatang baru sepertiku. Mereka selalu penuh inisiatif ketika membantu pendatang
baru sepertiku, dan selalu penuh dedikasi untuk berkontribusi
membantu orang lain.
Masyarakat Nanga Lauk sangat
identik dengan aktivitas olahraga di sore hari. Mereka punya kebiasaan
berkumpul di lapangan pada sore hari untuk menyalurkan kegemaran 'kinestetik' mereka. Ibu-ibu dan para remaja perempuan bermain bola
voli, pemuda dan bapak-bapak bermain bola kaki (sepak bola), sedangkan
anak-anak bermain badminton serta permainan-permainan lain semacam
kasti, gobak sodor, permainan kelereng, gasing, lompat tali, dan banyak permainan lain.
Tentang permainan kasti ini pun aku takjub. Bukan kasti yang
biasa, tak perlu menggunakan pemukul kayu dan bola kasti. Cukup
menggunakan kertas bekas yang diremas-remas menjadi semacam bola seperti bola kasti.
Pemukulnya pun tidak perlu menggunakan kayu, cukup memanfaatkan yang
ada di tubuh kita ==> tangan. Sederhana, tapi kreatif dan sangat kinestetis.
Aku sendiri yang awalnya hanya bisa jadi penonton dari permainan-permainan mereka, akhirnya ikut terjun juga ke salah satu arena. Hihi. Aku sangat bangga dan menikmati saat-saat bermain gasing bersama murid-muridku. Apalagi kemampuanku memainkan gasing mulai dari nol hingga mahir dan layak ditonton orang-orang desa. Sungguh cuek bebek diriku jikapun ada orang desa nyeletuk, "Ibu Guru nya kalah jago dari anak muridnya nih yee ...."
Dari permainan ini pun aku jadi akrab dengan anak-anak didikku dan warga desa jadi lebih mengenalku. Maka misi pendidikan yang kubawa pun lambat laun dapat terlaksana dengan mulus, berkat kepercayaan masyarakat desa dan pandangan mereka kepadaku yang makin lama makin positif.
Tiap sore selepas mengajar les dan mengajar ngaji adalah saat yang kunantikan. Kami bermain hingga puas meskipun aku masih jadi yang paling amatir dari anak-anak didikku.
Setahun aku tinggal disana, waktunya pun telah tiba untuk menyelesaikan tugas dan kembali ke asalku. Para murid dan masyarakat desa memberikan berbagai buah tangan dan kenang-kenangan. Namun ada satu buah tangan yang amat berkesan dan hingga sekarang masih kusimpan. Gasing buatan kepala adat yang terkenal sangat bagus kualitasnya. Ada dua gasing yang diberikannya beserta tali pemutarnya.
Kelak akan kuajak juga anakku untuk memainkan gasing ini. Gasing kenangan. Gasing penuh makna. Gasing yang mengajarkanku akan banyak hal. Tentang permainan sederhana yang mengakrabkan. Tentang kepercayaan yang tulus diberikan. Semoga lewat gasing ini, akan selalu ada cerita yang mengalir ke anak cucu tentang ketulusan dan kebaikan dari masyarakat di ujung negeri.
Sumber bacaan : https://islamiwiki.blogspot.com/2014/05/bermaian-bagi-anak-dalam-etika-islam.html#.W9SXdGMxXIU


Komentar
Posting Komentar