Jurnal Refleksi Fasilitator 2 : Menyaksikan Kebangkitan Para Calon Ibu Profesional


Pekan kedua di kelas matrikulasi IIP Batch 7 Kelas Depok 1 berjalan dengan lebih baik daripada pekan sebelumnya. Sesi diskusi berjalan lebih teratur dan terarah, berkat rule diskusi yang telah disepakati di kelas. Presensi sebelum memulai forum di kelas juga telah diterapkan. Peserta yang berhalangan tidak bisa menyimak pun memohon izin untuk tidak menyimak, sehingga adab untuk menuntut ilmu dapat dipraktikkan secara nyata dan tepat setelah ilmu didapatkan. Dan kami semua di kelas, tentu saja sudah merasakan manfaatnya. Kelas jadi lebih nyaman dan kondusif serta lebih beradab karena semua peserta berkomitmen untuk saling menghormati demi menuntut ilmu sesuai adab.

Hal lain yang menjadi penanda kemajuan di kelas saat sesi kedua ini adalah makin banyaknya pertanyaan dan opini yang muncul dan dibahas saat diskusi di kelas. Saya pribadi lebih memaknainya sebagai : gairah belajar yang makin besar untuk mendalami ilmu sebagai individu, istri, dan ibu. Bahkan ada beberapa peserta yang berkonsultasi langsung via jaringan pribadi, untuk memperjelas pemahaman mereka terhadap materi dan tugas yang diberikan.

Hal yang sudah lebih baik juga adalah suasana diskusi yang makin kondusif dan efektif. Bisa jadi karena rule diskusi yang sudah disepakati, dan bisa juga karena peserta telah makin memahami adab untuk belajar dan mulai terbiasa secara tertib menerapkannya. Atau bisa jadi karena materi yang semakin menarik dan menantang diri mereka untuk melakukan perubahan diri, baik sebagai individu, istri, ataupun ibu. Ya, di materi sesi 2 : Menjadi Ibu Profesional Kebanggan Keluarga, terbukti para peserta makin antusias untuk merespon materi, NHW, diskusi, maupun camilan yang disampaikan.

Berikutnya yang tak kalah menarik adalah mulai bermunculannya potensi dari peserta matrikulasi IIP Batch 7 Kelas Depok 1. Lewat program Seleb of the Day, mulai terbuka diskusi yang bersifat sharing kemanfaatan di bidang masing-masing. Ada yang praktisi di pendidikan Montessori, ada yang pengajar tahsin, ada yang guru kursus Bahasa Inggris, ada yang expert di kerajinan tangan (craft), ada yang punya minat besar pada desain dan IT, ada yang seorang perawat, ada yang lihai dalam berkebun, bahkan ada juga yang senior dan telah melanglang buana ke beberapa negeri. Masyaa Allah. Tentu saja ini kesempatan yang bagus untuk berbagi dan mendapat pengalaman baru. Mungkin bisa dimanfaatkan potensinya untuk berbagi saat event kopdar nanti.

Progress peserta yang mengumpulkan NHW hingga saat ini ada kemajuan sedikit dibanding sesi sebelumnya. Jika sebelumnya H-1 hanya sekitar 20 % saja yang sudah mengumpulkan, sesi 2 ini sudah mencapai 30% lebih yang mengumpulkan NHW. Mungkin strategi untuk meng-update siapa saja yang sudah mengumpulkan NHW setiap hari, memberikan dampak positif, meskipun belum sesuai harapan. Kendati demikian, saya tetap berharap di sesi berikutnya akan lebih banyak peserta yang mengumpulkan NHW dengan tidak mendekati waktu batas akhir pengumpulan tugas.

Jujur saja saya agak keteteran melakukan rekap peserta yang sudah mengumpulkan NHW karena waktu akhir yang ditetapkan adalah permulaan pekan, yaitu Senin, pukul sembilan pagi. Yang artinya adalah waktu kunci dimana saya pasti sedang sibuk-sibuknya berjibaku dengan segala aktivitas baik domestik maupun publik. Untungnya Mak Walas yang sempat saya ajak diskusi mengenai hal ini menyanggupi untuk mem-back up pekerjaan merekap NHW, supaya badge Tepat Waktu segera dapat diserahkan hari itu juga.

Namun jika memungkinkan adanya perubahan waktu dateline NHW, menurut kami (saya dan mak Walas) memang lebih baik jika waktunya bukan awal pekan (Senin). Lebih baik pada hari Ahad. Selain menghindari keteteran untuk merekap yang bertumpuk dengan tugas pribadi yang dilakukan di hari Senin, juga agar peserta memiliki perhitungan waktu yang lebih terakomodir untuk melakukan persiapan tugas domestik maupun publik pada permulaan pekan.

Kendati demikian, selelah apapun kami semua berjibaku dengan tugas masing-masing, kebangkitan para calon Ibu Profesional telah nampak di depan mata, dan saya sedang menyaksikan mereka terus berproses menuju tingkat yang lebih tinggi. Insyaa Allah, semoga demikian.





Komentar

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yang perlu dilakukan sebelum memilih sekolah untuk anak

menjaga fitrah lewat berkisah

Bercerita sesuka hati