Jurnal Refleksi Fasilitator Sesi 1 : Langkah Baru Menebar Manfaat
Alhamdulillah terucap dengan sangat syahdu pada akhir pekan ini. Rasanya banyak beban yang terlepas disertai nafas lega yang terhembus dari dada. Sesi pertama matrikulasi batch 7 telah terlewati dengan baik. Rasanya sudah semakin paham gambaran bagaimana memandu kelas Depok#1 supaya fokus menemukan misi hidupnya lewat materi-materi matrikulasi yang diberikan hingga sesi ke sembilan nanti.
Pada awalnya sangat tidak gampang memulai kelas yang saya belum paham karakteristiknya, apalagi hanya dalam waktu sehari setelah perkenalan, saya harus segera menyampaikan materi pertama kelas matrikulasi. Saya mencoba menggali informasi dari wali kelas Depok #1 yaitu Mak Diyan Marenti (di IP Depok, ibu-ibu biasa memanggil dengan sebutan 'mak'), yang untungnya sangat bisa diandalkan untuk mengawal kelas matrikulasi Depok #1. Setelah pembagian region fasilitator dan walas dirilis, Mak Diyan mulai memberikan saya deskripsi bagaimana kondisi kelas, kemudian informasi apa saja yang sejauh ini diberikan, dan bagaimana respon mereka terhadap informasi tersebut.
Sebelum resmi diundang ke kelas, saya terlebih dahulu masuk ke grup perangkat kelas yang berisi Wali Kelas, Ketua Kelas, dan Koordinator Mingguan. Forum ini saya rasa cukup efektif sebelum saya masuk ke kelas matrikulasi, untuk mendiskusikan bebeapa hal, diantaranya tentang kontrak belajar, jadwal mingguan, dan SOTD. Dari sini saya merasa supporting system sangat penting untuk keberlangsungan kelas matrikulasi. Karena semua hal yang tertata secara rapi di kelas matrikulasi sesungguhnya adalah hasil kerja keras dari tim di Perangkat Kelas.
Ketika tiba hari perkenalan, alhamdulillah seluruh anggota kelas menanggapi secara positif, hingga tanya jawab berlangsung hampir dua jam. Bagi saya tidak masalah, malah menjadi amunisi selanjutnya untuk melangkah ke hari berikutnya. Setelah sesi perkenalan selesai, saatnya mendiskusikan kontrak belajar. Draft kontrak belajar terlebih dahulu dibahas bersama perangkat kelas, lalu di kelas kami tinggal menyesuaikan sesuai masukan anggota kelas. Semua masukan bisa diakomodir dengan baik, kecuali soal jadwal online. Kebanyakan anggota kelas memiliki jadwal online yang berbeda-beda. Maka untuk menyiasati itu, kami sepakat untuk merilis jadwal online pekan berikutnya setiap hari Sabtu. Dengan harapan jadwal online tidak selalu sama setiap pekan. Saya pribadi melakukan ini juga didasarkan agar lebih mudah melakukan analisis bagaimana pola gadget time di kelas pada waktu-waktu tertentu.
Selanjutnya, waktu-waktu penting untuk diskusi terlewati dengan baik, meskipun saya cukup terasa terengah-engah dengan serbuan pertanyaan dari peserta, sejak materi pertama hingga diskusi NHW. Mak Walas mencoba mengevaluasi kondisi kelas saat materi berjalan, lalu berkesimpulan bahwa kelas belum cukup kondusif untuk diskusi, banyak anggota kelas yang secara beruntun bertanya sehingga pertanyaan muncul bertubi-tubi bahkan mungkin ada yang tenggelam tak terjawab. Dari sini kemudian mak Walas mencoba membuat rule untuk diskusi yang disepakati oleh Perangkat Kelas. Maka setelah hari itu pula, rule diskusi dibagi ke kelas, suasana kelas menjadi lebih kondusif. Selain itu ada pula absensi menjelang sesi diskusi yang selalu dibagi ke kelas 30 menit menjelang sesi dimulai. Sehingga adab menuntut ilmu yang baru saja dipelajari dapat diterapkan secara optimal, yaitu jika tidak hadir ada konfirmasi.
Hari selanjutnya adalah SOTD. Segala hal terkait SOTD juga ditangani oleh Walas. Dari mulai pembagian jadwal SOTD, format, pembagian tugas moderator, hingga atribut untuk SOTD (sertifikat, flyer, dsb).
Dari sini saya merasa sangat terbantu dengan adanya Walas yang bertugas penuh pada ranah teknis dan administratif.
Namun hingga saat ini, belum sampai lima puluh persen yang mengumpulkan NHW. Hal ini membuat saya bertanya-tanya, apakah materi pertama ini sebetulnya masih belum bisa diterima dengan baik oleh peserta. Padahal di sesi pembahasan materi kemarin sudah saya tekankan di sesi akhir diskusi, strong why mereka belajar tentang adab menuntut ilmu di awal sebelum materi lainnya. Beberapa orang sudah menanggapi dengan sangat tepat, bahwa mereka perlu meluruskan niat, membersihkan hati, memperbaiki sikap-sikap yang tak semestinya saat mulai menuntut ilmu, karena semua itu sangat erat kaitannya dengan optimalisasi ilmu yang terserap dan membawa kemanfaatan bagi sekitar.
Maka rencana ke depan, untuk melecut semangat teman-teman yang belum mengumpulkan NHW, saya akan mengapresiasi teman-teman yang sudah mengumpulkan NHW dengan membagi info di kelas tentang siapa saja yang sudah mengumpulkan NHW. Tidak lupa untuk senantiasa mengingatkan bahwa pengerjaan NHW dilakukan demi kepentingan diri sendiri, bukan kepentingan fasilitator maupun IIP.
Mudah-mudahan, ke depannya semua anggota kelas semakin bersemangat dan bertanggung jawab untuk menyelesaikan tugas yang diberikan demi kemanfaatan bersama.
Komentar
Posting Komentar