Be Creative
Tagline ini bisa jadi yang diusung saat kami di kelas Bunda Sayang membahas materi level 9 : Kreativitas.
Kalau biasanya materi disampaikan dalam bentuk tulisan yang kami resapi pelan-pelan kemudian ada sesi diskusi dengan fasilitator, kali ini materi kreativitas disampaikan pula secara kreatif. Mungkin supaya maksud dan tujuannya pun tersampaikan. Diskusi bersama tentang kreatif dengan proses yang kreatif untuk menumbuhkan pemikiran dan sudut pandang yang kreatif.
Lalu setelah ini pertanyaannya, berapa jumlah kata kreatif dalam tulisan ini? hahaha :D
Sesi diskusi materi Kreativitas dimulai dengan brainstorming, apa itu kreativitas?
Sambil berpikir, mak fasil sambil menyodorkan gambar ini..
Yang kemudian membuat para emak berpikir keras, dengan melihat dari sudut pandang lain.
Beberapa emak menyimpulkan bahwa kreativitas adalah
1. Berpikir, bertindak, di luar kebiasaan (out of the box)
2. Kegiatan yang bermanfaat/solusi atas sebuah masalah/hal yang ada di sekitar kita menjadi sebuah peluang kebaikan/lebih bermanfaat.
Kemudian diskusi berlanjut dengan tebak-tebakan. Apa tulisan lengkap dari gambar ini?
Dan....hampir seluruh peserta diskusi mengira tulisannya : BE CREATIVE.
Padahal...
Dari diskusi dan tebak-tebakan yang dilempar oleh mak fasil, digiringlah kami ke poin-poin sebagai berikut.
Sebagai orang tua, kita pasti sering melabeli anak-anak dengan berbagai label yang tak seharusnya. Misal ketika anak bermain-main dengan peralatan dapur, membuat bahan-bahan di dapur berantakan. Jika kita sebagai orang tua hanya melihat dari sudut pandang kita, hampir dapat dipastikan kalau kita berpikir bahwa anak-anak ini sangat merepotkan, bisanya hanya bikin berantakan, tidak mau mendengarkan apa yang dibilang orang tuanya. Yang ada hanya perasaan kesal dan kita (anak dan orang tua) tidak melewati proses pembelajaran.
Namun, coba jika kita menggeser sudut pandang kita. Sudut pandang anak-anak. Mengapa mereka seolah-olah selalu ingin membuat barang-barang di dapur berantakan? Anak-anak ini rasa penasarannya sangat tinggi, sehingga barang-barang yang belum pernah ditemuinya ingin dijadikan bahan eksperimen, digali terus apa yang bisa dilakukannya dengan barang tersebut. Seperti kita saat pertama kali dikenalkan dengan sesuatu yang baru, gadget baru misalnya. Pasti ingin mencoba berbagai aplikasinya, ingin menguasai seluruh fiturnya, ingin tahu segala yang berhubungan dengan gadget tersebut lah intinya. Maka begitulah, jika sudah melihat dari kacamata anak-anak, kita akan paham apa yang sebenarnya mereka inginkan. Dan kita sebagai orang tua harus tak kalah kreatif dalam memfasilitasinya ;)
Don't Assume
Jangan buru-buru membuat asumsi atas anak kita. Jangan buru-buru memberikan pernyataan atas sesuatu yang sedang dipelajarinya. Justru tunggu sampai anak-anak puas dengan pertanyaannya. Menyalurkan rasa ingin taunya. Atau bahkan kita yang memantik ide-idenya dengan pertanyaan-pertanyaan dari kita. Sehingga anak-anak akan menyampaikan ide-ide nya dengan jelas (Clear) dan tugas kita hanyalah mengklarifikasi (Clarify).
Outside the Box Thinking
Buka lebar kotak pemikiran kita. Jangan mencoba membatasi pemikiran anak-anak sebatas pengetahuan dan pengalaman kita saja. Biarkan anak berkembang dengan hasil pemikirannya. Berbeda bukan masalah. Itulah kreatif.
Bagaimana caranya agar kita bisa jadi orang tua yang kreatif?
Ada 3 jenis proses kreativitas yang bisa kita coba terapkan :
1. Evolusi. Ide baru dibangkitkan dari ide sebelumnya. Kalau sudah pernah punya ide, bisa dijadikan inspirasi kembali untuk ide yang sekarang disesuaikan dengan perkembangan yang terjadi. Misal, kalo dulu pas masih bayi, anak dibikinin sup jagung aja, mungkin ide menunya bisa ditambah lagi, sup ayam dengan bakso, dengan sosis, dsb.
2. Sintesis. Dua atau lebih ide yang ada digabungkan jadi satu ide baru lagi. Bukan tak mungkin nanti yang didapat adalah sambil menyelam minum air, dua keuntungan langsung yang didapat. Misal, saat melihat anak menggambari buku bacaannya, emak memfasilitasi dengan bercerita sambil menggambar. Manfaat yang didapat jadi berlipat, belajar mendengar sambil menulis, audio dilengkapi dengan visual.
3. Revolusi. Benar-benar membuat perubahan baru dengan pola yang belum pernah ada. Ini mungkin yang namanya totalitas kreativitas. Misal, saat ngajakin main sesuatu yang baru sambil beraktivitas di dapur yang belum pernah dilakukan sebelumnya.
Jangan berpikir terlalu rumit soal kreativitas. Tak perlu jauh-jauh, apa yang kita lakukan sehari-hari, bisa jadi adalah kreativitas. Misalnya, saat berpikir bagaimana caranya agar bisa memasak makanan yang murah tapi kaya nutrisi dan digemari anak-anak. Atau bagaimana caranya membuat ibu fokus memasak sambil membuat anak ikut bermain. Dan banyak lagi aktivitas lain yang membuat kita mau tak mau harus berpikir kreatif. Mulai dari yang paling dekat dengan kehidupan kita, proses kreatif sudah berjalan, mungkin tanpa kita sadari.
Jadi, apa sebenarnya yang menghambat kita untuk menjadi kreatif? Mari pecahkan solusinya dalam Game Level 9 Tantangan 10 hari ;)
Let's be creative parents for creative children ;)
#resumediskusilevel9
#kelasbunsay
#becreative
Sumber tulisan :
1. Materi Level 9 Kelas Bunda Sayang
2. Hasil Diskusi bersama Fasilitator Bunda Sayang Depok #2
3. Pengalaman membersamai anak sejak 2016-sekarang
1. Materi Level 9 Kelas Bunda Sayang
2. Hasil Diskusi bersama Fasilitator Bunda Sayang Depok #2
3. Pengalaman membersamai anak sejak 2016-sekarang

kreatif banget
BalasHapus