Buku Penggetar Hati
"Mamah, Mii mau baca buku !" ujar anakku riang sambil berlari ke rak buku kami yang mungil dan memilih buku yang disukanya.
"Iya Sayang, Silmiy pilih bukunya ya ...," balasku menyambut permintaannya untuk membaca buku.
Brakk ... brukk... brakk ... brukk.
Beberapa kali suara berdebam itu kudengar dari arah rak buku kami. Nampaknya anak semata wayang kami berusaha mencari-cari buku yang diinginkannya namun tak kunjung menemukan yang dicarinya. Maka beberapa buku yang tak diinginkannya tanpa sengaja dijatuhkannya ke lantai.
Dengan rasa penasaran, kususul anakku yang masih berjibaku dengan buku-buku di depan rak buku mungilnya, " Silmiy ingin buku yang mana Sayang?"
"Mii mau buku yang waktu itu Mamah bacakan. Yang bukunya besar, gambarnya gajah." Ia berusaha menjelaskan ciri-ciri buku yang ingin dibacanya.
Aku berpikir keras mengingat-ingat buku yang dimaksudnya. Buku tentang hewan-hewan kah? Buku dongeng fabel kah? Pertanyaan-pertanyaan itu masih menyelimuti pikiranku sambil kucocokkan beberapa buku yang dimaksudnya.
Tapi, buku-buku bergambar hewan itu kan sampul depannya bukan hanya hewan gajah? Banyak hewan lainnya yang ada di sampul buku tersebut. Buku fabel? Ahh, kami kan belum jadi membelikannya buku dongeng fabel, meskipun Ia pernah melihatnya di toko buku dengan gambar gajah. Hemm, jadi buku mana yang dimaksudnya?
Aku mencoba mengingat-ingat lagi buku-buku yang pernah kubacakan untuknya. Hari ini, kemarin, minggu kemarin. Ahaa ...! Setitik ingatanku melayang pada satu momen seminggu yang lalu saat aku mengajak anakku untuk membaca buku. Namun saat itu ia iseng tak mau mengambil buku dari rak bukunya. Ia malah mencari-cari buku diantara mainannya dan mengambil salah satu buku dari tas koper buku "Muhammad Teladanku". Iya, memang buku-buku yang ada pada tas Mute ini belum kami rapikan dan letakkan di rak buku seperti buku-buku lainnya. Karena keterbatasan tempat pada rak buku kami yang kecil. Juga karena untuk seusia Silmiy (2 tahun), kami merasa ia belum tertarik dibacakan buku bergambar dengan cukup banyak teks. Namun saat ia meminta salah satu buku Mute untuk dibacakan, ternyata ia cukup antuasias mendengarkan, meskipun tak lebih dari 3 menit. Pencapaian ini bisa dikatakan cukup memuaskan, karena sebelumnya hanya beberapa detik ia sanggup menyimak mamahnya bercerita. Selanjutnya ia akan asik membuka-buka halaman buku yang diceritakan mamahnya sambil meracau sendiri seolah menceritakan gambar-gambar yang ada di bukunya.
Seri Muhammad Teladanku memang akhirnya jadi favorit kami sekeluarga. Anak gadis kami suka sekali diceritakan kisah-kisah Nabi Muhammad sebelum tidur. Ia selalu mendengarkan dengan seksama dan mencoba bertanya jika kurang paham maksudnya. Meskipun yang lebih sering ia tanyakan ialah gambar-gambar di setiap halaman, ia tetap menyimak kosa kata demi kosa kata yang kuucapkan saat bercerita. Tak hanya anakku, aku sendiri pun mulai menikmati turut membaca kisah-kisah Nabi Muhammad yang seringkali membuatku trenyuh dan haru.
Buku Muhammad Teladanku ini memang sangat menarik. Bukan hanya karena kisah Nabi Muhammad yang perjalanan hidupnya sungguh luar biasa, namun juga terdapat informasi menarik yang jarang diceritakan pada buku kisah Nabi standar serta terdapat juga asal-usul para leluhur Nabi Muhammad. Seperti asal muasal Kabah yang ternyata sudah ada jauh sebelum Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail diminta untuk membangunnya kembali. Kemudian, tentang dua kakek moyang Nabi yang sempat dijadikan kurban untuk disembelih, yaitu Nabi Ismail dan Abdullah ayahnya. Seperti yang diriwayatkan dari Rasulullah SAW bahwa beliau bersabda, "Aku adalah anak dua orang yang disembelih."
Nah, gambar gajah yang ada pada sampul halaman buku Muhammad Teladanku jilid 1, melambangkan tahun Gajah, yaitu tahun ketika Nabi Muhammad dilahirkan. Gajah tersebut merupakan pasukan Gajah yang dipimpin Raja Abrahah untuk menghancurkan Kabah. Namun kemudian Allah memerintahkan burung ababil untuk membawa batu panas dan menjatuhkannya kepada pasukan Gajah.
Mungkin terdengar sangat klise karena bukan hal yang baru menceritakan Sirah Nabi kepada anak-anak. Namun baru kali ini rasanya kami sama-sama menikmati buku yang sama untuk dibaca bersama-sama. Bukan hanya suka membacakan bukunya, namun bagiku pribadi merasakan haru birunya perjuangan Nabi Muhammad dan umat Islam kala itu. Membuat hati ini bergetar dan iman ini makin tebal.
Aih, jadi ingat buku lamaku, novel tentang Nabi Muhammad. Serial lelaki penggenggam hujan, karangan Tasaro GK. Ceritanya sungguh tak mengira kalau yang diceritakan adalah kisah Nabi Muhammad. Kebanyakan kisah Nabi Muhammad yang dituliskan dalam buku, tulisannya nyaris kaku dan terkadang bahasanya sangat sukar dipahami jika dituliskan pada buku Sirah Nabi klasik. Namun Tasaro GK sungguh brilian, mampu menovelkan kisah Nabi Muhammad dengan sangat natural layaknya novel-novel modern. Ia menuliskannya dalam empat buku yang disebut sebagai
Tetralogi Muhammad : Muhammad : Lelaki Penggenggam Hujan (2010), Muhammad : Para Pengeja Hujan (2011), Muhammad : Sang Pewaris Hujan (2016), dan Muhammad : Generasi Penggema Hujan (2016).
Sayang sekali baru punya dua buku pertama yang terbit, karena dua buku terakhir terbitnya berjarak lima tahunan dari dua pertama. Dan aku sungguh kehilangan informasi soal itu. Sekarang saat cari di toko-toko buku hasilnya nihil. Tak ada stok lagi yang dijual. Padahal, padahal, rindu sekali ku pada dua tetralogi terakhir. Hiks.
Ya Allah, ya Rasul. Aku sungguh cinta, sungguh rindu, sungguh kuharap ingin bertemu dan dekat pada-Mu.
“Ya Allah berilah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah bershalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia. Ya Allah, Berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim, Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia”
Kerinduan yang begitu mendalam kepada Mu Yaa Allah, kerinduan bersua dan berjumpa dengan wajah Mu, Ilah yang Menciptakan dan Menjaga kami. Kerinduan kami kepada kekasih kami Yaa Rabbi, Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, pertemukan kami dengannya kelak. Kami yang lemah, yang terus belajar memperbaiki kekurangan diri, yang berusaha terus taat kepada Rabb Maha Kuasa dan Maha Pengampun, yang berusaha menyempurnakan akhlak mengikuti pribadi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sumber bacaan : https://www.dakwatuna.com/2014/07/24/55022/kerinduan-yang-membuncah-pada-rasulullah-muhammad-saw
Nah, gambar gajah yang ada pada sampul halaman buku Muhammad Teladanku jilid 1, melambangkan tahun Gajah, yaitu tahun ketika Nabi Muhammad dilahirkan. Gajah tersebut merupakan pasukan Gajah yang dipimpin Raja Abrahah untuk menghancurkan Kabah. Namun kemudian Allah memerintahkan burung ababil untuk membawa batu panas dan menjatuhkannya kepada pasukan Gajah.
Mungkin terdengar sangat klise karena bukan hal yang baru menceritakan Sirah Nabi kepada anak-anak. Namun baru kali ini rasanya kami sama-sama menikmati buku yang sama untuk dibaca bersama-sama. Bukan hanya suka membacakan bukunya, namun bagiku pribadi merasakan haru birunya perjuangan Nabi Muhammad dan umat Islam kala itu. Membuat hati ini bergetar dan iman ini makin tebal.
Aih, jadi ingat buku lamaku, novel tentang Nabi Muhammad. Serial lelaki penggenggam hujan, karangan Tasaro GK. Ceritanya sungguh tak mengira kalau yang diceritakan adalah kisah Nabi Muhammad. Kebanyakan kisah Nabi Muhammad yang dituliskan dalam buku, tulisannya nyaris kaku dan terkadang bahasanya sangat sukar dipahami jika dituliskan pada buku Sirah Nabi klasik. Namun Tasaro GK sungguh brilian, mampu menovelkan kisah Nabi Muhammad dengan sangat natural layaknya novel-novel modern. Ia menuliskannya dalam empat buku yang disebut sebagai
Tetralogi Muhammad : Muhammad : Lelaki Penggenggam Hujan (2010), Muhammad : Para Pengeja Hujan (2011), Muhammad : Sang Pewaris Hujan (2016), dan Muhammad : Generasi Penggema Hujan (2016).
Sayang sekali baru punya dua buku pertama yang terbit, karena dua buku terakhir terbitnya berjarak lima tahunan dari dua pertama. Dan aku sungguh kehilangan informasi soal itu. Sekarang saat cari di toko-toko buku hasilnya nihil. Tak ada stok lagi yang dijual. Padahal, padahal, rindu sekali ku pada dua tetralogi terakhir. Hiks.
Ya Allah, ya Rasul. Aku sungguh cinta, sungguh rindu, sungguh kuharap ingin bertemu dan dekat pada-Mu.
“Ya Allah berilah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah bershalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia. Ya Allah, Berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim, Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia”
Kerinduan yang begitu mendalam kepada Mu Yaa Allah, kerinduan bersua dan berjumpa dengan wajah Mu, Ilah yang Menciptakan dan Menjaga kami. Kerinduan kami kepada kekasih kami Yaa Rabbi, Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, pertemukan kami dengannya kelak. Kami yang lemah, yang terus belajar memperbaiki kekurangan diri, yang berusaha terus taat kepada Rabb Maha Kuasa dan Maha Pengampun, yang berusaha menyempurnakan akhlak mengikuti pribadi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sumber bacaan : https://www.dakwatuna.com/2014/07/24/55022/kerinduan-yang-membuncah-pada-rasulullah-muhammad-saw

Kisah Nabi Muhammad itu memang bener2 baguus yaa mbaa... aku ada yang tetralogi muhammad jilid 4 mbaa kalau mau pinjam hehehe. Yang ketiga ngga punya tapii : ")
BalasHapuswaahh mau mbaa haniii...
HapusWah, Mba, buku favorite kita sama, hihi.. bahkan tugasku tentang tetralogi itu
BalasHapusWahh iyaa, sempet baca sekilas, bisa dipinjemi juga nih kayaknya hihi
Hapus