'A' Home Team, Half Day Seminar by Hebat Community Depok
Half Day Seminar tentang ‘A’ Home Team yang diadakan oleh Hebat Community Depok memang benar-benar bergizi dan sarat isi.
Buktinya saya perlu banyak menyiapkan space memory di otak untuk menyerap itu
semua. Dan tak sabar untuk menuliskan kumpulan-kumpulan catatan (baik catatan
pribadi maupun milik teman-teman di grup) sesegera mungkin, agar ilmu yang
barusan diserap tak menguap bersama waktu.
Karena sudah mau tumpah isi memorinya, jadi tak perlu banyak
basa-basi, langsung ke materinya yaa..
Pada slide awal, Bu Septi menayangkan ilustrasi gambar
pengantar menuju topik utama, yaitu persamaan dan perbedaan antara gambar
kerumunan orang di pasar dan kerumunan tim sepak bola. Pertanyaan yang
diberikan bu Septi berhasil memunculkan jawaban-jawaban yang mengarah ke
deskripsi tim yang sesungguhnya, yaitu memiliki tujuan, visi-misi, melakukan
komunikasi dan bergerak bersama.
Topik selanjutnya berkaitan dengan pilar-pilar dalam rumah tangga.
Yakinkah kita sudah menikahi orang yang hebat? Bagaimanapun
juga, pasangan yang kita nikahi adalah versi terbaik menurut kita. Maka jika
ada kekurangan yang di kemudian hari ditemukan, tugas kita adalah merawat
kekurangan itu dan fokus pada kelebihan pasangan. Coba ingat-ingat dan tuliskan
kelebihan pasangan kita. Jika sudah yakin, maka lakukan hal berikut.
Bangun komunikasi produktif
Fokus pada kekuatan, bukan kelemahan
Berbagi peran
Bu septi bercerita bahwa beliau memilih tugas dan peran untuk fokus mendidik anak,
sedangkan urusan domestik berbagi dengan Pak Dodik. Maka selama 3 tahun Bu
Septi fokus di dalam rumah, muncullah manajemen pendidikan anak, manajemen
menata rumah, manajemen memasak 5 menitan, dsb.
Semua anak terlahir hebat, kitalah yang harus memantaskan
diri agar layak menerima amanah anak yang hebat. Yakinlah, karena Allah tak pernah
memproduksi produk gagal. Tantangan yang muncul dari anak-anak itulah misi dari
ibu Septi.
Ketika Enes suka belajar matematika, mungkin ini pertanda
Allah untuk menghasilkan konsep belajar matematika yang menyenangkan, jarimatika. Ketika
Ara lahir, berbeda dengan Enes, Ara adalah anak yang sangat aktif dan kurang
tertarik mendengarkan cerita. Bu Septi punya misi harus membuat Ara suka
membaca buku, salah satunya dengan konsep ABaCa. Ketika Elan lahir, Elan kecil
tak suka pergi ke sekolah dan tak suka pergi ke guru ngaji, karena bosan dengan
cara guru mengajar. Maka lahirlah konsep belajar hafalan quran.
Anak, akan jadi pilar dalam keluarga, maka tulislah
kehebatan setiap anak, cari benang merahnya.
Apakah indikator kesuksesan keluarga kita?
Jangan mengukur indikator sukses
keluarga kita dengan indikator sukses keluarga lain. Kuncinya : indikator
sukses dengan nilai A versi terbaik keluarga kita, yang membuat keluarga bahagia.
Keluarga seperti apa yg ingin kita bangun?
Yang namanya keluarga sudah seharusnya memiliki nama
keluarga, tata nilai, aturan, dan apa saja yang perlu dikuatkan. Cara awal
untuk menyusun tata nilai dalam sebuah keluarga, tuliskan semua value yang
sesuai dengan karakteristik keluarga kemudian kelompokkan, temukan apa yang
utama dan bisa dijadikan core value keluarga.
Core value keluarga Bu Septi dan Pak Dodik adalah Iman dan Kehormatan.
Saat Enes ingin keluar negeri, Bu Septi jawab, “Bisa, karena
kamu milik Allah yang Maha Kaya, bukan Milik Ibu yang tidak punya apa-apa"
Kemudian Bu Septi mengoreksi, apakah pergi keluar negeri
sesuai dengan value keluarga?
Segala apapun yang dijalankan harus sesuai dengan core value
keluarga.
Tata nilai itu tidak langsung fix jadi core value keluarga, namun
melewati tahap demi tahap.
Saat sesi diskusi, ada pertanyaan dari Ibu yang gelisah karena bekerja di ranah publik (yang sangat mewakili kegelisahan saya juga sebenarnya). Namun pernyataan dari Pak Dodik akhirnya amat menenangkan kami. Para ibu yang bekerja di ranah publik pasti memiliki
keterbatasan untuk membersamai anak. Terima dulu kondisi itu. Setelah itu, temukan
cara yang lebih baik untuk mendidik anak diantaranya dengan mencari komunitas yang
memiliki value yang sama, serta berbagi dengan suami melalui teknologi komunikasi.
Aktivitas utama untuk ‘A’ Home Team adalah :
“Banyak main bareng, banyak ngobrol bareng, dan banyak beraktivitas bareng”
Ketika saya mencoba bertanya tentang bagaimana jika kita tak
terlahir dalam keluarga yang ideal dan tak punya role model orang tua yang
ideal?
Bu Septi menegaskan bahwa,
jika tidak ada keluarga yang ideal maka perbanyaklah keluarga ideologis.
Kemudian, mengambil jalan dengan mengikuti berbagai seminar parenting adalah
langkah yang bagus. Namun jangan lupa di tiap seminar, tulislah apa yang baik
kemudian rencanakan suatu perubahan, minimal satu hari satu perubahan.
Kemudian saat ada pertanyaan tentang bagamana membangun
image orang tua yang baik untuk anak? Jangan memaksakan idealisme kita terhadap
anak. Tanyakanlah kepada anak seperti apa sosok ayah dan ibu yang hebat, ayah
ibu yang membuatnya bahagia.
Bila anak sudah di pesantren. Asahlah rasa kita terhadap
anak. Orangtua dulu yang tidak hidup di zaman gawai, mereka banyak beribadah
kepada Allah untuk menyambungkan feeling kita terhadap anaknya yang jauh di
mata. Pun dengan kita yang terbiasa dengan gawai, bangun hubungan dengan Allah
agar lebih dekat.
Tentang survive dan mandiri, Bu Septi melatih anak mandiri
dari keseharian. Contohnya, makan. Anak yang selalu ditolong adalah yang masih
berumur 0-12 bulan. Ketika 12 bulan keatas, saatnya mereka dilatih kemandirian.
Setahap demi setahap memenuhi kebutuhan pribadinya. Memulainya dengan porsi
kecil tapi sering. Lalu bertahap ke proses yang lebih tinggi.
Kemandirian yang bisa dilatihkan :
Usia 1-2 tahun :
makan sendiri
Meskipun aktivitas makan sendiri akan membuat makanan
berserakan dimana-mana, namun sebisa mungkin kita harus senantiasa mendukung anak
jika ingin melakukan aktivitas makan sendiri. Jangan sampai timbul rasa marah
dan kesal jika makanan tumpah dan rumah kotor karena belajar makan sendiri.
Usia 3-5 tahun : Decision Maker
Biarkan anak-anak memilih sendiri apa yang ingin mereka
makan, apa yang ingin mereka lakukan, meskipun itu mungkin kurang sesuai dengan
keinginan pribadi kita.
Usia 5 tahun ke atas : Problem Solving and Follow instruction
Jika anak membuat kesalahan, misal memecahkan gelas, atau
menumpahkan sesuatu, atau sedang memasak sesuatu yang baru, ajarkan melalui
instruksi yang jelas dan sediakan apa yang mereka perlukan untuk melakukan
instruksi yang dimaksud.
Ketika anak sedang dalam tahap belajar kemandirian, jangan
buru-buru ditinggalkan, karena anak sangat tidak suka seperti itu. Tetap awasi
dan evaluasi di akhir.
Enam bulan pertama akan terlihat repot. Tapi bila tidak kita
latih dan tiba-tiba Ibu dipanggil oleh Allah, terbayang kan kita meninggalkan
anak tanpa kemandirian?
Melatih anak mandiri bukan menjadikan mereka ART. Tapi
bangun step demi step anak sesuai dengan usianya. Sehingga sampai usia balighnya mereka
siap untuk di lepas. Suplai dasar sebelum akil baligh adalah kewajiban
orangtua, ketika sudah mencapai akil baligh biasanya mereka siap mencukupi
kebutuhan dirinya dengan caranya masing-masing.
Metode mengajari anak :
Pedagogi : Pendidikan untuk anak-anak yang belum tahu
apa-apa. I Know. You don’t know. I will teach you.
Andragogi : Pendidikan untuk anak-anak yang sudah tahu
banyak (sudah akil baligh). I know. You know. Let’s discuss.
Sekali lagi, bagi anak yang berada di pesantren, ketika kita
sudah mempercayakan semua awak pesantren untuk mendidik anak kita. Laku kita
sebagai orangtua tinggal Tega dan Tirakat. Harus tega dan banyak tirakat,
menolong Kiai dan para awaknya untuk mensukseskan mendidik anak kita. Jangan
sering ditengok-tengok, matangnya tidak merata. Jadi pasrahkan saja kepada Allah
dan para Kiai. Tirakatnya orangtua banyak yaitu dengan mencari ilmu
Allah.
Gunakan learning model, piramida pendidikan yang diukur
terhadap 4 hal :
"I CAN"
Intellectual Curiosity
Creative Imagination
Art of Discovery and Invention
Nobel Attitude
-habis-
Dan di penghujung acara, bu Septi menutup materi dengan sangat manis namun berapi-api. Yel-yel dari "Main bareng, ngobrol bareng, beraktivitas bareng" yang ditambahi gerakan penyemangat 'yeah' (agak lupa kata-katanya, krn lagi gendong bocah yang ngantuk)
Dan di penghujung acara, bu Septi menutup materi dengan sangat manis namun berapi-api. Yel-yel dari "Main bareng, ngobrol bareng, beraktivitas bareng" yang ditambahi gerakan penyemangat 'yeah' (agak lupa kata-katanya, krn lagi gendong bocah yang ngantuk)
Waw, rasa-rasanya apa yang ditulis juga masih banyak kekurangan disana-sini karena meskipun kemarin saya lebih fokus daripada biasanya, tetap saja ada waktu ketika saya harus meninggalkan ruangan seminar untuk mengecek si bocah yang ditemeni ayahnya.
Dalam hal ini, saya sangat berterima kasih pada suami tercinta karena telah berkorban banyak dengan menemani si bocah bermain selama seminar berlangsung. Terima kasih duo kesayangan mamah, yang selalu memberikan kesempatan mamah untuk menimba ilmu lebih dalam. Semoga apa yang kemarin didapatkan, dapat segera kita eksekusi dengan baik dalam keluarga kita. Aamiin.
Dalam hal ini, saya sangat berterima kasih pada suami tercinta karena telah berkorban banyak dengan menemani si bocah bermain selama seminar berlangsung. Terima kasih duo kesayangan mamah, yang selalu memberikan kesempatan mamah untuk menimba ilmu lebih dalam. Semoga apa yang kemarin didapatkan, dapat segera kita eksekusi dengan baik dalam keluarga kita. Aamiin.
*Disarikan dari catatan pribadi dan kumpulan catatan ibu-ibu di Grup Seminar A Home Team

Komentar
Posting Komentar