Ketika Anak Makin Dewasa
Saat merasakan polah tingkah anak yang sejak bayi tak pernah lepas dari emaknya, akan terasa aneh jika tiba-tiba anak-anak berubah jadi lebih mandiri, lebih tenang, dan lebih dewasa. 'Aneh' yang membahagiakan sebenarnya. Mestinya jadi senang dan bangga dong jika anak mengalami fase perubahan yang positif. Namun tak dapat dipungkiri, sebagai emak yang menyaksikan bagaimana si bocah tumbuh dan berkembang, bagaimana si bocah jatuh bangun sejak belum bisa tengkurap sampai sudah bisa lari-lari, dan bagaimana si bocah belajar berkomunikasi dari yang cuma bisa nangis jika perlu sesuatu hingga sudah bisa berbicara bahkan berargumen dengan kita, orang tuanya. Ya, sebagai emaknya yang menyaksikan semua itu pasti terselip rasa kehilangan yang tersembunyi.
Saya pribadi merasa takjub dan merasakan perasaan yang aneh tapi 'hangat' ketika menyaksikan momen-momen tersebut terjadi. Seperti momen kemarin sore saat si bocah ditinggal mamahnya untuk mandi. Reaksi biasanya jika mamahnya mandi adalah ingin ikut mandi. Jika tak dibolehkan maka ia akan merajuk dan menangis sejadi-jadinya, lalu menggebrak pintu kamar mandi ketika mamahnya baru masuk, selanjutnya ia akan berguling-guling di depan pintu kamar mandi hingga mamahnya selesai mandi.
Sejak terjadi insiden 'kepala bocor dan dijahit' kemarin, entah semacam ada momen yang menandai perubahan sikap si bocah menjadi lebih dewasa (menurut mamahnya). Kini tak ada lagi drama gebrak-gebrak dan guling-guling di depan kamar mandi. Saat mamahnya ijin mau mandi, si bocah akan mengangguk tanda setuju. Sementara mamahnya mandi dengan tenang, ia memulai kesibukannya sendiri. Menonton video, menyanyi, atau bermain permainan lainnya. Dan semua ini ia lakukan tanpa ada ayahnya ! Karena biasanya jika mamahnya mandi, hanya ayahnya lah yang bisa mengalihkannya dari mamahnya.
Saya merasa lega dan bangga dengan pencapaian si bocah. Namun jauh di lubuk hati yang terdalam tersimpan rasa kehilangan yang aneh, yang muncul tapi tertepis dengan keharuan luar biasa karena melihat kemajuan pendewasaan diri pada si bocah.
Begitulah anak-anak. Mereka tak mungkin terus jadi anak-anak yang manja dan selalu dalam pelukan kita, ibunya. Suatu saat mereka akan tumbuh dewasa dan lepas dari ketergantungan terhadap kita, orang tuanya. Saat itu terjadi, yakinkan diri bahwa mereka telah memiliki cukup bekal untuk menjadi dewasa dan menghadapi dunia ini sendirian. Yakinkan juga bahwa kita sebagai orang tuanya juga telah cukup puas dalam memanjakan dan mengasihi mereka, serta tentu saja cukup memberikan bekal ke mereka untuk siap menghadapi dunia.
Tiba-tiba teringat dengan celetukan teman lama saat ngobrol via aplikasi pesan, "Orang tua kita ikhlas banget ya waktu kita berangkat ke penempatan Indonesia Mengajar". "Iyaaa..." Celetukan ini muncul saat saya sedang curhat betapa tak tega nya melihat si bocah yang kesakitan saat dijahit karena kulit kepalanya bagian belakang sobek. Baru begini saja, dan baru mau dua tahun menjadi orang tua. Nanti akan makin banyak dan makin berliku cobaan yang dihadapi anak-anak kita, yang tentu saja otomatis kita sebagai orang tua akan ikut merasakan pahit getirnya cobaan itu. Intinya derita yang dihadapi anak, orang tua akan lebih sakit merasakan deritanya.
Oleh karena itu orang tua harus ikhlas dengan segala ketetapan dari Allah yang terjadi atas anaknya. Karena semakin ikhlas orang tua, anak akan semakin mulus menjalani hidupnya, seberat apapun derita yang sedang dirasakan. Semakin kuat orang tua membiarkan anak-anaknya menghadapi dunia, maka semakin mudah si anak melangkah lebih jauh dan mencapai puncaknya.
"Karena hanya jalan yang mendaki dan berliku yang akan mengantarkan kita pada puncak-puncak baru" (Anies Baswedan)
Maka, mari Pak Bu, jadi orang tua yang legowo dan ikhlas dengan segala ketetapan Allah atas anak-anak kita. Tentu saja legowo yang diiringi dengan doa yang sungguh-sungguh kepada Allah, Sang Penjaga anak-anak kita. Sekali lagi, karena hanya kepada Allah lah kita percayakan penjagaan anak-anak kita.
*ditulis berdasarkan pengalaman yang baru seuprit menjadi orang tua

Komentar
Posting Komentar