Ikhlasnya Mamah
"Dukk..."
"Kyaaa....hu..hu..kyaa..huhu"
Suara benda jatuh diikuti dengan tangisan keras si bocah. Saya yang sedang posisi di wastafel dapur terkesiap kaget menyadari bahwa suara "dukk..." barusan adalah suara kepala bocah yang jatuh membentur lantai. Ayahnya yang barusan membantu membersihkan BAB si bocah pun kaget setengah mati.
Bukan sekali dua kali si bocah jatuh terpeleset. Beberapa kali dan bukan hanya di kamar mandi. Biasanya bukan kepalanya dulu yang jatuh, sehingga ia pun biasanya langsung bangkit sendiri tanpa drama tangisan. Namun kali ini berbeda. Saya hampir pingsan ketika mengamati tangan saya sehabis mengelus kepala si bocah, ada cairan merah, darah segar. Menyadari bagian belakang kepalanya mengucurkan darah yang tak sedikit sampai bajunya ikut merah terkena darah, saya pun panik tak karuan. Juga penuh penyesalan, kenapa tak memantau si bocah selepas buang air besar tadi.
Astaghfirullah, untungnya si ayah segera sigap menyadarkan saya dari linglung yang berkepanjangan. Setelahnya, episode di IGD yang amat melelahkan ini berlangsung.
Awalnya masih bisa tegar dan kuat melihat penanganan demi penanganan yang dilakukan tim medis. Hingga saatnya dijahit. Masyaa Allah. Orang tua mana yang tega melihat anaknya kesakitan seperti itu. Saya masih pura-pura tegar, pura-pura kuat sambil menahan isak tangis, saat dari bilik sebelah terdengar nyanyian "twinkle twinkle little star". Saya coba tersenyum dan mengajak si bocah mengikuti nyanyian itu. Perlahan, sirna lah segala isak tangis yang sebelumnya menggelegar dan membuat batin ini tersiksa. Si bocah diam. Namun mamahnya ini masih tetap beradu antara senyuman di bibir dan tangisan di hati yang makin trenyuh melihat si bocah yang makin menguatkan dirinya untuk tak menangis. Saya mencoba ikhlas. Ikhlas dengan apapun yang terjadi. Semuanya atas kuasa Ilahi. Allah yang Maha Mengetahui dan Maha Menjaga Kami.
Anak ini kuat. Dia makin kuat jika mamahnya ikhlas. Maka saya pun meneguhkan diri dengan rasa ikhlas dan perlahan menepis rapuh yang datang lewat air mata. Saya bisa. Maka anak ini pun bisa.
Saya pun, masih tak percaya, pagi ini kami di rumah menikmati sarapan bersama yang nikmat setelah insiden melelahkan yang kami lewati bersama tadi malam.
Ya Allah, terima kasih telah Engkau beri kekuatan anak kami, Engkau kuatkan pundak kami untuk melewati ujian ini. Semoga anak ini pun akan lebih kuat setelah berbagai kejadian yang dialaminya.
Saya pribadi merasakan Allah sedang mengungkapkan kasih sayang-Nya dengan cara yang tak terduga. Allah sedang menegur seorang ibu yang mungkin masih lalai dalam membersamai anaknya. Allah mungkin sedang mengingatkan betapa belum optimalnya kami dalam menjaga amanah ini. Mungkin juga Allah sedang bertanya, sampai kapan akan membiarkan lalai menguasai diri?
Ya Allah, hanya kepada Mu lah kami percayakan penjagaan anak kami. Hanya kepada Mu lah kami berserah diri atas semua yang terjadi.

Komentar
Posting Komentar