Anakku Sayang
Anak-anak. Hal apa yang terlintas ketika kata anak-anak disebut?
Lucu, menggemaskan, ramai, lincah, tak bisa diam. Dan segudang kata kerja yang menggambarkan betapa anak-anak adalah subyek yang sangat aktif. Dunia akan sepi dan sunyi tanpa anak-anak. Tentu saja, kita sebagai orang dewasa sudah lewat dari masa itu, masa kanak-kanak. Ada yang melewatinya dengan bahagia dan begitu merindukan masa kanak-kanak. Namun ada juga yang begitu ingin melupakan masa kanak-kanak karena kenangan pahit yang menyertainya. Mudah-mudahan sebagian besar kita termasuk pada golongan yang pertama, mengalami masa kanak-kanak yang indah dan menyenangkan.
Belakangan ini di media massa seringkali muncul berita yang memprihatinkan tentang makin maraknya kekerasan terhadap anak-anak. Baru siang tadi saya lihat di layar televisi. Berita tentang anak bayi yang dibuang oleh ibu kandungnya sendiri sesaat setelah dilahirkan dari rahim ibu kandungnya, bahkan sebelum dibuang si ibu kandung sempat mencekik kepala sang bayiðŸ˜
Astaghfirullahaladzim. Subhanallah. Maha Suci Allah dari keburukan-keburukan yang dilakukan oleh manusia.
Mengapa ada orang tua yang begitu tega menyakiti anaknya sedemikian rupa? Bahkan hingga membunuh anaknya sendiri yang dilakukan secara sadar... Bergidik hati ini. Mengutuk keras perbuatan kejam seperti itu.
Namun sebelum menghakimi apa yang dilakukan sang ibu terhadap bayinya, saya sendiri gelisah memikirkan betapa efek dari pendidikan orang tua sejak dini sangat signifikan untuk masa depannya kelak. Si ibu yang demikian tega ini, bisa jadi tak punya orang tua yang ideal sehingga anak-anaknya pun tumbuh dalam kondisi yang kurang ideal juga. Dan efek ini tentu bisa jadi merupakan efek berantai dari pola pengasuhan yang sebelum-sebelumnya, yang tak akan pernah putus dan berhenti jika pola pengasuhan yang diterapkan tetap gitu-gitu aja.
Maka, demi anak-anak kita, mari Bu, berjuang mendidik diri sendiri, membekali diri dengan ilmu yang manfaat untuk keluarga serta memantaskan diri untuk memuliakan anak-anak kita dengan akhlak yang baik dan pondasi keimanan yang kokoh.
Bu, mungkin akan sedikit berat apalagi jika Ibu bukan berasal dari keluarga yang ideal. Namun kelelahan untuk menimba ilmu tak akan sebanding dengan kesengsaraan anak kita nanti jika tak terdidik oleh ibu yang bijak. Maka, tak ada salahnya jika mulai dari sekarang dan selamanya kita berjanji untuk terus memantaskan diri menjaga amanah dari-Nya.
Anak-anak bukan kertas polos. Mereka memiliki karunia fitrah yang telah dibawa sejak lahir. Justru kita sebagai orang tua yang telah diberi kehormatan untuk menjaga fitrah tersebut.
Anak-anak yang katanya adalah tumpuan harapan bangsa ini kelak. Anak-anak yang katanya generasi penerus yang akan membangun bangsa ini.
Namun sebelum itu semua terjadi di masa depan nanti, siapakah yang jadi tumpuan mereka sekarang? Siapakah yang membangun akhlak mereka dan menjadi teladan bagi mereka sekarang?
"Because it takes a village to raise a child"
Semoga Allah senantiasa mampukan kita jadi orang tua yang baik dalam mendidik anak-anak kita :)
#harianaknasional
#kamimenulis
#kelasmenulis
#iipdepok
#tantanganjuli

Komentar
Posting Komentar